Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Ekologi Indonesia dalam Pengaruh Intensitas Terjadinya Musibah

AdminKS by AdminKS
Agustus 15, 2026
in Esai, Narasi
0
Ekologi Indonesia dalam Pengaruh Intensitas Terjadinya Musibah
9
SHARES
51
VIEWS

Oleh: M. Hikmal Yazid

“Improve the Quality of Literatur with KLM”

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Musibah datang tidak diundang, ketika alam sudah mulai tidak bersahabat barulah kita sadar bahwa alam sudah tidak lagi bersinergi dengan manusia. Berbagai banyak bencana yang telah melanda di Tahun 2017, mulai dari bencana gempa di Pidie Aceh Jaya dan banjir di Bima, Nusa Tenggara Barat.

Begitu pula Jawa Tengah tidak luput dari langganan banjir, seperti bencana banjir yang telah di Demak, mengharuskan sejumlah warga terpaksa mengungsi. Pada Tahun 2017, setidaknya terdapat 1.674 desa/ kelurahan yang masuk kategori daerah rawan banjir, 2.136 desa/kelurahan rawan tanah longsor (BPBD Jateng, 2017). Dalam catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, menyebutkan dalam sepanjang tahun 2016 ada 2.112 kejadian bencana. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun 2015 lalu yang berjumlah 1.573 kejadian. Maka Tahun 2016 meningkat 34,26 persen, peristiwa banjir ada 296 kali, longsor 927 kali, kebakaran 468 kali, angin topan 419 kali. Total kerugian materil ditaksir mencapai Rp 3,235 triliun.

Pada dasarnya, pencegahan bencana alam tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi harus melibatkan beragam pendekatan yang tepat sasaran. Karena, persoalan yang seringkali menjadi penyebab bencana alam karena penghuni planet ini masih belum sadar bahwa kerusakan alam akibat ulah diri sendiri. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Ar Ruum ayat 41).

Maka sangat wajar jika sudut pandang teologis membaca bencana alam seperti gempa, banjir dan longsor adalah azab Tuhan bagi manusia yang belum jera berbuat kezaliman terhadap alam lingkungan sekitar yang dampaknya membuat manusia kering dari kesadaran spritual ekologis. Al Gore melalui karyanya Earth in the Balance: Ecology and the Human Spirit”, mengatakan, “semakin dalam saya menggali akar krisis lingkungan yang melanda dunia, maka semakin mantap berkeyakinan bahwa krisis ini tidak lain merupakan manifestasi nyata dari krisis spritual kita”.

Kekuatan spritual memang sangatlah sedikit menguras tenaga karena apa yang sudah kita usahakan kita kembalikan kepada keputusan Tuhan kepada kita. Pada akhir desember tahun 2022 ini memang sangatlah banyak bencana mulai dari longsor hingga gempa bumi itu mungkin bisa jadi letak Indonesia yang memang rawan akan bencana. Titik kordinat kerawanan bencana 70% ada di Indonesia. Rinciannya, bencana banjir terjadi sebanyak 756 kali, tanah longsor 377 kali, cuaca ektrem 694 kali. Sementara itu gempa bumi terjadi sebanyak 12 kali, kebakaran hutan dan lahan 94 kali dan gelombang pasang dan abrasi 11 kali.

Adapun kejadian bencana alam yang mendominasi adalah cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor. Rinciannya, bencana banjir terjadi sebanyak 756 kali, tanah longsor 377 kali, cuaca ektrem 694 kali. Sementara itu gempa bumi terjadi sebanyak 12 kali, kebakaran hutan dan lahan 94 kali dan gelombang pasang dan abrasi 11 kali. “Dari dampak bencana alam tersebut menimbulkan korban meninggal dunia 104 jiwa, hilang 15 jiwa, 692 luka-luka dan terdampak dan mengungsi 2.433.952 jiwa,” tutup laporan itu.

Sebelumnya, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan tren bencana alam pada 2022 ini merupakan hidrometeorologi basah, dan terjadi hampir di seluruh pulau yang ada Indonesia. “Dominannya di 2021 kita hidrometeorologi basah sehingga ini menjadi perhatian kita karena tren ini juga kemudian terjadi di 2022,” jelasnya dalam konferensi pers, beberapa waku lalu.

Untuk itu, pihaknya telah memetakan tujuh provinsi yang paling sering terjadi bencana alam hidrometeorologi basah. Ketujuh provinsi itu yakni, Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. Untuk itu, BNPB mengimbau bagi pemerintah daerah di tujuh provinsi tersebut agar benar-benar memerhatikan kondisi lingkungannya untuk dibenahi secara kolektif. “Kami meminta untuk melihat kembali kondisi lingkungan, kondisi sungai, kondisi alam pegunungan yang selama ini menjadi daerah tangkapan air daerah resapan air, kondisi daerah sepanjang aliran sungai yang mungkin selama ini terjadi penyempitan terjadi pendangkalan itu harus benar-benar kita benahi bersama selanjutnya,” pungkasnya.

Bencana ekologis ini terjadi akibat menurunnya daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang disebabkan oleh alih fungsi dan pembukaan kawasan hutan, kerusakan daerah aliran sungai dan hilangnya daerah resapan air baik di hulu ataupun dihilir. Peningkatan curah hujan yang tidak bisa kita lepaskan dari dampak perubahan iklim juga memperburuk situasi dan memicu bencana yang lebih besar.Jenis bencana ekologis yang terjadi adalah banjir, banjir bandang, tanah longsor serta abrasi pantai.

Momentum refleksi seluruh dunia tentang pentingya mengambil peran dalam aksi kolektif bersama-sama untuk mencapai tujuan keadilan lingkungan hidup yang sehat dan berkelanjutan. Hasil Analisis saya menunjukkan bahwa beberapa parameter kualitas air di Sungai Batang Arau telah melewati baku mutu, diantaranya adalah Phospat 0,45 ppm yang telah melampaui hingga 300% dari baku mutu, Klorin Bebas 0,1 ppm diantaranya adalah Phospat 0,45 ppm yang telah melampaui hingga 300% dari baku mutu, dan Besi 0,39 ppm. Selain itu juga ditemukan 410 mikroplastik dalam 100 liter air yang diambil di Batang Arau. 

Terkait

Previous Post

Krisis Ekologi Silent Killer Masa Depan

Next Post

Mengapa Daya Beli Masyarakat Tidak Bisa Pulih?

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Mengapa Daya Beli Masyarakat Tidak Bisa Pulih?

Mengapa Daya Beli Masyarakat Tidak Bisa Pulih?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.