Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Mengapa Daya Beli Masyarakat Tidak Bisa Pulih?

AdminKS by AdminKS
Agustus 17, 2026
in Esai
0
Mengapa Daya Beli Masyarakat Tidak Bisa Pulih?
9
SHARES
51
VIEWS

Oleh:  Yudhi Pratama Karsa, S.Kom

Di hari ini, kita melihat fenomena aneh di mana daya beli masyarakat semakin hari semakin merosot, bahkan menjadi sangat loyo & hampir hilang. Meskipun pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk memulihkan daya beli masyarakat, namun tidak berhasil. Bahkan para ekonom pun kebingungan & tidak mampu mendiagnosa secara benar atas fenomena daya beli masyarakat yang tidak kunjung membaik.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Lalu apakah sumber penyebabnya ? Simak jawabannya di artikel ini, karena sumber penyebabnya adalah hal yang tidak kita duga, tapi sangat dekat dengan aktivitas keseharian di kehidupan kita.

Perumpamaan Pertama:

Ada sebuah gedung yang terbakar, apinya bersumber dari sebuah ruangan yang dianggap spesial (sebutlah ruang E) sehingga semua orang tidak menganggap bahwa sumber api berasal dari ruang E.

Pemadam kebakaran sudah berusaha keras semprot air ke semua ruangan, kecuali ke ruang E (karena pemadam kebakaran pun menganggap bahwa sumber apinya mustahil berasal dari ruang E yang dianggap spesial), tapi setelah selesai disemprot pun gedungnya tetap terbakar & terus mengeluarkan asap.

Pemadam kebakaran pun kebingungan mengapa gedungnya tetap terbakar meski mereka sudah menyemprot ke semua ruangan (kecuali ke ruang E).

Namun ada segelintir orang bijak yang tahu bahwa sumber apinya berasal dari ruang E, lalu segelintir orang bijak tsb menasehati pemadam kebakaran supaya mengecek ke ruang E, namun pemadam kebakaran malah mengabaikan nasehat dari orang bijak tsb & terus melindungi ruang E yang menjadi sumber api dari kebakaran di gedung tsb, juga ditambah dengan orang-orang di gedung tsb yang ramai-ramai mencibir orang bijak tsb karena orang bijak tsb mencurigai ruang E yang dianggap spesial oleh mereka.

Perumpamaan Kedua:

Ada seorang idola yang sangat dikagumi oleh masyarakat, tapi di sisi lain idola tsb juga adalah seorang pembunuh berantai. Sudah banyak korban yang berjatuhan dari waktu ke waktu oleh idola tsb.

Polisi berusaha mencari siapa pelaku dari pembunuhan berantai tsb, tapi polisi selalu melewatkan idola tsb karena polisi menganggap bahwa idola tsb mustahil menjadi pembunuh berantai.

Dan andaipun setiap kali polisi mau menyelidiki idola tsb, maka masyarakat selalu berbondong-bondong membela mati-matian idola tsb sehingga polisi pun menyerah & tidak bisa menyelidiki idola tsb.

Waktu demi waktu berlalu & korban semakin banyak dibunuh oleh idola tsb, sehingga polisi & masyarakat menjadi kebingungan atas fenomena ini.

Namun ada segelintir orang bijak yang tahu bahwa pelaku pembunuhan berantai adalah sang idola tsb, lalu segelintir orang bijak tsb menasehati polisi supaya mengecek sang idola tsb, namun polisi malah mengabaikan nasehat dari orang bijak tsb & juga ditambah dengan masyarakat yang berbondong-bondong menghujat orang bijak tsb karena orang bijak tsb mau menyentuh sang idola mereka.

Makna Dari Kedua Perumpamaan Tersebut

Kedua perumpamaan ini sama dengan keadaan ekonomi di hari ini, di mana E-commerce dianggap spesial oleh masyarakat & pemerintah, padahal E-commerce yang merupakan pembunuh ekonomi nomor wahid, karena terjadi persaingan yang tidak sehat antara E-commerce & offline.

Meskipun pemerintah sudah berusaha perbaiki ekonomi dari berbagai sisi, tetap saja ekonomi loyo & daya beli loyo, karena akar penyebabnya tidak diperbaiki, yaitu persaingan yang tidak sehat antara E-commerce & offline.

Setiap kali ada orang bijak yang menasehati supaya pemerintah meregulasi E-commerce supaya E-commerce berjalan dengan persaingan yang sehat dengan offline, malah pemerintah mengabaikan nasehat orang bijak tsb & ditambah dengan masyarakat yang berbondong-bondong menghujat orang bijak tsb karena orang bijak tsb mau menyentuh E-commerce yang menjadi idola masyarakat.

Realitas Yang Sebenarnya Terjadi Di Hari Ini

Di hari ini kita melihat fenomena para pelaku usaha di offline menjadi berguguran, di mana pasar-pasar & pusat-pusat perbelanjaan menjadi sepi bagai kuburan, ruko-ruko di pinggir jalan menjadi tutup & memasang spanduk “Dijual”, mall-mall menjadi rojali (rombongan jarang beli) karena pengunjung mall hanya sekedar mengecek produk secara fisik di mall tapi belanjanya ke platform E-commerce.

Mayoritas masyarakat menyebut fenomena ini sebagai peralihan pola belanja dari offline ke E-commerce, tapi benarkah bahwa fenomena ini benar-benar merupakan peralihan pola belanja dari offline ke E-commerce ?

Jawabannya adalah tidak benar, karena yang sebenarnya terjadi bukan peralihan pola belanja dari offline ke E-commerce, tapi E-commerce yang melakukan predatory-pricing (tidak mengikuti etika distribusi di offline) sehingga menyebabkan masyarakat beralih belanja secara masif dari offline ke E-commerce & akhirnya mematikan offline.

Seandainya E-commerce berjalan tanpa melakukan predatory-pricing (mengikuti etika distribusi di offline), maka E-commerce tidak akan bisa mematikan offline, melainkan E-commerce akan berjalan secara berdampingan & saling melengkapi dengan offline.

Sudah ada buktinya di mana sebelum muncul marketplace, masyarakat sudah belanja ke E-commerce melalui Facebook, Instagram, Kaskus, OLX, Bhinneka, tapi ketika itu harga di E-commerce masih normal mengikuti etika distribusi di offline (mengikuti “3 Aturan” : harga jual mengikuti price-tier / jual ecer pakai harga ecer, ada biaya ongkir, tanpa diskon pada produk), sehingga E-commerce di masa itu tidak mematikan offline, melainkan E-commerce berjalan secara berdampingan & saling melengkapi dengan offline.

Offline baru menjadi hancur sejak muncul marketplace yang tidak mengikuti etika distribusi di offline (melanggar “3 Aturan” : harga jual tidak mengikuti price-tier / jual ecer pakai harga grosir, meniadakan biaya ongkir (atau memberi free-ongkir), memberi diskon coret harga pada produk) sehingga menyebabkan ketimpangan harga (predatory-pricing) dengan offline & akhirnya mematikan offline.

Seandainya marketplace berjalan dengan mengikuti etika distribusi di offline (mengikuti “3 Aturan” sebagaimana ekosistem E-commerce pada masa awal E-commerce berjalan di Facebook, Instagram, Kaskus, OLX, Bhinneka), maka marketplace tidak akan bisa mematikan offline, melainkan marketplace akan berjalan secara berdampingan & saling melengkapi dengan offline.

Jadi yang salah di sini bukan E-commerce-nya, tapi predatory-pricing di E-commerce-nya (melanggar “3 Aturan”).

E-Commerce Yang Berjalan Secara Seimbang (Tanpa Predatory-Pricing) Dengan Offline Akan Memberi Dampak Positif Bagi Perekonomian Dalam Jangka Panjang

Coba kita bertanya kepada diri kita :

a.  Apakah boleh menjual ecer, yang seharusnya memakai harga ecer, tapi malah memakai harga grosir (predatory-pricing) sehingga mematikan para pengecer di offline ?

b.  Apakah boleh E-commerce meniadakan biaya ongkir (yang seharusnya ada komponen biaya ongkir, tapi menjadi tiada karena disubsidi oleh platform E-commerce), sementara para pelaku usaha offline di daerah luar Jawa sudah menanggung biaya ongkir ekspedisi dari Jawa ke daerah luar Jawa, lalu E-commerce dengan seenaknya meniadakan biaya ongkir sehingga menyebabkan ketimpangan persaingan usaha (predatory-pricing) antara pelaku usaha di luar Jawa & pelaku usaha di Jawa ?

Dan dampak lain dari peniadaan biaya ongkir yang menyebabkan ketimpangan persaingan antar daerah ini adalah uang tidak beredar di daerah lokal (daerah yang jauh dengan produsen), tapi uang cenderung mengalir keluar ke daerah lain (daerah yang dekat dengan produsen), sehingga menyebabkan kekeringan uang di daerah lokal (daerah yang jauh dengan produsen).

c.   Apakah boleh E-commerce memberi diskon coret harga pada produk sehingga menyebabkan ketimpangan persaingan usaha (predatory-pricing) antara pelaku usaha di offline & pelaku usaha di E-commerce, dan bahkan menyebabkan ketimpangan persaingan usaha (predatory-pricing) di antara sesama platform E-commerce ?

Apakah boleh E-commerce berjalan dengan melakukan predatory-pricing sebagaimana pertanyaan-pertanyaan di atas ?

Predatory-pricing di E-commerce memang memberi kenikmatan dalam jangka pendek, tapi akan menghasilkan kehancuran ekonomi dalam jangka panjang, karena akan menghambat terjadinya pemerataan distribusi uang (pemerataan belanja konsumen) :

– antara level bawah & level atas di jalur distribusi offline (uang cenderung mengalir ke level atas di jalur distribusi offline).

– antara daerah yang jauh dengan produsen & daerah yang dekat dengan produsen di jalur distribusi offline (uang cenderung mengalir ke daerah yang dekat dengan produsen di jalur distribusi offline).

– antara model penjualan offline & model penjualan E-commerce (uang cenderung mengalir ke model penjualan E-commerce).

– antara sesama platform E-commerce & platform E-commerce (uang cenderung mengalir ke platform E-commerce yang lebih kuat memberi subsidi pada biaya ongkir atau diskon coret harga pada produk).

Sementara roda ekonomi yang berjalan lancar memiliki prasyarat adanya pemerataan distribusi uang terlebih dulu, namun predatory-pricing di E-commerce malah menghambat pra-syarat pemerataan distribusi uang tsb sehingga juga akan menghambat kelancaran pergerakan roda ekonomi. Berbeda halnya jika E-commerce berjalan tanpa predatory-pricing, maka pra-syarat pemerataan distribusi uang akan terpenuhi sehingga akan menghasilkan kelancaran pergerakan roda ekonomi.

Jadi pilih mana : Harga serba murah di E-commerce (E-commerce berjalan timpang dengan offline) namun tidak terjadi pemerataan distribusi uang & roda ekonomi menjadi macet, atau harga agak mahal di E-commerce (E-commerce berjalan seimbang dengan offline) sehingga terjadi pemerataan distribusi uang & roda ekonomi menjadi lancar ?

Tentu secara akal sehat, kita memilih opsi kedua (harga agak mahal di E-commerce (E-commerce berjalan seimbang dengan offline) sehingga terjadi pemerataan distribusi uang & roda ekonomi menjadi lancar).

Itulah sebab E-commerce perlu berjalan seimbang dengan offline, supaya menghasilkan keuntungan ekonomi dalam jangka panjang, karena akan menghasilkan pemerataan distribusi uang sehingga memenuhi prasyarat untuk mewujudkan kelancaran pergerakan roda ekonomi.

Apalagi dalam konteks ekonomi negara, maka prinsip yang benar dalam berekonomi seharusnya adalah saling menopang dalam iklim persaingan usaha yang sehat, bukan saling menghancurkan apalagi dengan melakukan predatory-pricing yang mematikan sesama saudara-saudara sebangsa sendiri.

Solusi Agar E-Commerce Berjalan Secara Seimbang (Tanpa Predatory-Pricing) Dengan Offline

Jadi kalau pemerintah mau ekonomi kembali pulih seperti dahulu kala di jaman SBY, maka pemerintah perlu memperbaiki akar penyebabnya, yaitu persaingan yang tidak sehat antara E-commerce & offline.

Percuma pemerintah jungkir balik memperbaiki ekonomi, karena ekonomi akan tetap hancur selama akar penyebabnya tidak diperbaiki, yaitu persaingan yang tidak sehat antara E-commerce & offline.

Setelah pemerintah sudah selesai memperbaiki persaingan antara E-commerce & offline, maka 70% masalah ekonomi akan selesai & ekonomi akan mulai bangkit menjadi lancar kembali seperti di jaman SBY.

Cara untuk menyehatkan persaingan antara E-commerce & offline bisa dibaca di artikel ini : “Perlunya Sinkronisasi Antara E-commerce & Jalur Distribusi Offline” https://bit.ly/4wRLLR6

Masalah-Masalah Kecil Ekonomi Yang Lain

Adapun sisa 30% dari masalah ekonomi berasal dari 5 faktor :

1.  Utang negara yang overdosis.

2.  Liberalisasi atas harga kebutuhan dasar.

3.  Konsep MBG (Makan Bergizi Gratis) yang keliru.

4.  Konsep KMP (Koperasi Merah Putih) yang keliru.

5.  Ketiadaan integrasi antara BPJS & nakes mandiri.

Baca penjelasan selengkapnya di sini : “Masalah Ekonomi Indonesia dan Solusinya” https://bit.ly/4xwisTZ

Penutup :

Semakin maju zamannya, maka perlu semakin maju pula adabnya, karena kemajuan jaman memberi kekuasaan yang semakin besar, & ketika kekuasaan yang semakin besar tsb tidak diimbangi dengan adab yang semakin tinggi, maka hasilnya kemajuan zaman bukan membawa manfaat tapi malah membawa bencana kehancuran massal pada kehidupan manusia.

Demikian pula dengan E-commerce yang memberi kekuasaan yang semakin besar kepada para pelaku usaha untuk membuka usaha tanpa perlu memiliki toko fisik & untuk memperluas jangkauan usaha ke semua konsumen tanpa dibatasi oleh hambatan fisik, namun jika kekuasaan yang semakin besar tsb tidak diimbangi dengan adab yang semakin tinggi, maka hasilnya E-commerce bukan membawa manfaat tapi malah membawa bencana kehancuran massal pada kehidupan manusia.

Salah satu contoh dari kemajuan adab tsb adalah E-commerce perlu berjalan dengan menjaga kebaikan ekonomi pada para pelaku usaha di offline. Hal ini juga akan membawa kebaikan ekonomi dalam jangka panjang, karena melindungi ekonomi pada semua pihak (baik di E-commerce maupun di offline), membuat distribusi uang menjadi merata ke semua pihak, yang pada akhirnya akan menggerakkan roda ekonomi dengan lancar.

Roda ekonomi hanya bisa bergerak dengan lancar jika terlebih dulu ada pemerataan distribusi uang. Percuma harga-harga serba murah kalau tidak terjadi pemerataan distribusi uang, maka roda ekonomi akan macet. Lebih baik harga-harga agak mahal tapi terjadi pemerataan distribusi uang, maka roda ekonomi akan berjalan lancar.

Sudah ada buktinya di jaman dulu (krisis ekonomi 1998, 2008, 2015) bisa dilalui Indonesia dengan mulus & sangat cepat bangkit setelah terjatuh. Mengapa di jaman dulu bisa mulus & sangat cepat bangkit melalui krisis ekonomi ? Jawabannya adalah karena distribusi uangnya merata. Distribusi uang yang merata inilah yang menjadi pelindung bagi ekonomi di masyarakat akar rumput, dan karena ekonomi di masyarakat akar rumput itu bergerak maka berarti fondasi ekonomi (yang berbentuk piramida) itu juga ikut menjadi kuat, dan akhirnya mampu menopang ekonomi dalam melewati krisis ekonomi yang sangat besar sekalipun.

Sedangkan hari ini, ekonomi bisa menjadi hancur sedahsyat begini (daya beli sangat loyo & hampir hilang), karena uang (belanja konsumen) tidak menyebar merata tapi uang hanya mengalir ke pihak-pihak kuat saja sementara pihak-pihak lemahnya tersingkir.

Itulah mengapa E-commerce & dunia usaha tidak bisa dilihat hanya dari segi efisien & harga murah saja, tapi juga butuh dilihat dari segi dampak sosialnya (atau kontribusi sosialnya) terhadap gambaran besar di perekonomian masyarakat, yaitu butuh terjadi pemerataan distribusi uang (pemerataan belanja konsumen), karena pemerataan distribusi uang ini adalah prasyarat bagi roda ekonomi agar bisa bergerak dengan lancar. Tidak ada ekonomi yang bergerak dengan lancar jika distribusi uang (belanja konsumen) tidak merata di masyarakat.

Untuk itulah dibutuhkan rekayasa pada kemajuan teknologi ini, supaya distribusi uang bisa merata ke semua lapisan masyarakat. Karena kalau kita membiarkan kemajuan teknologi ini berjalan secara natural (apa adanya tanpa intervensi/rekayasa), maka pasti pemerataan distribusi uang itu tidak akan terwujud, sehingga jelas hasilnya adalah roda ekonomi akan menjadi macet.

Apalagi ekonomi bukan soal nilai uang tapi soal nyawa manusia, sehingga kita tidak boleh bermain-main dengan urusan ekonomi, karena itu sama dengan membunuh nyawa manusia. Orang bekerja (berekonomi) bukan untuk menambah harta, tapi untuk menyambung nyawa & untuk memenuhi hak hidupnya. Jadi sekali lagi, kita tidak boleh tidak serius dalam memandang urusan ekonomi, karena itu adalah hal yang paling mendasar pada kehidupan manusia.

E-commerce & offline ibarat 2 mesin ekonomi yang perlu berjalan secara sinergi berdampingan, bukan malah E-commerce mematikan offline. Karena baik E-commerce maupun offline sama-sama merupakan mesin ekonomi yang butuh dijaga supaya bisa memaksimalkan pergerakan roda ekonomi di suatu negara. Untuk itulah E-commerce butuh direkayasa supaya berjalan secara seimbang (tanpa predatory-pricing) dengan offline, sehingga kedua mesin ekonomi bisa berjalan secara sinergi berdampingan untuk menghasilkan pemerataan serta kelancaran pergerakan roda ekonomi di suatu negara.

E-commerce & offline juga ibarat kaki kanan & kaki kiri. Apakah bisa seseorang berlari hanya dengan menggunakan 1 kaki sementara 1 kali lainnya dibiarkan mati ? Tentu jawabannya tidak bisa, tapi seseorang hanya bisa berlari secara maksimal jika dia menggunakan kedua kakinya. Oleh karena itu, kedua kaki ini (E-commerce & offline) butuh diberi perhatian secara adil supaya keduanya bisa sama-sama hidup & saling bersinergi untuk memampukan seseorang (ekonomi di suatu negara) berlari dengan kencang.

Jadi, masalah ekonomi yang terbesar di hari ini adalah soal pemerataan belanja masyarakat. Karena masyarakat belanja secara tidak merata (hanya ke 1-2 titik di E-commerce saja, sedangkan sisanya di E-commerce maupun di offline menjadi tidak kebagian), dan dengan kondisi belanja masyarakat yang tidak merata begini maka mustahil roda ekonomi bisa berjalan lancar.

Untuk itulah pemerintah butuh merekayasa (mengatur / meregulasi) sistem ekonomi dengan tujuan supaya masyarakat bisa belanja secara merata ke semua pengusaha, mau ke yang besar atau kecil, bagus atau jelek, kuat atau lemah, E-commerce atau offline.

Dalam hal ini, pemerintah butuh meregulasi E-commerce supaya tidak melakukan predatory-pricing terhadap offline & bahkan terhadap sesama pelaku E-commerce (saling mematikan di antara sesama seller E-commerce yang lemah & di antara sesama platform E-commerce yang tidak kuat bakar duit untuk memberi subsidi pada free-ongkir & diskon coret harga pada produk).

Jika pemerintah sudah selesai meregulasi E-commerce, menyeimbangkan playing-field antara E-commerce & offline, membuat masyarakat berbelanja secara merata baik ke E-commerce maupun ke offline, maka ekonomi yang sedang sakit di hari ini akan menjadi sehat kembali & bahkan ekonomi akan tumbuh kencang karena dilandasi oleh adanya pemerataan distribusi uang (pemerataan kesejahteraan) di masyarakat.

Terkait

Tags: ekonoEkonomiIndonesiaInvestasiLegalPasarModalIslampancasilaPeradaban
Previous Post

Ekologi Indonesia dalam Pengaruh Intensitas Terjadinya Musibah

Next Post

Fiqh Al-Rahmah dalam Krisis Empati: Filantropi Islam sebagai Jalan Kepemimpinan Transformatif

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Fiqh Al-Rahmah dalam Krisis Empati: Filantropi Islam sebagai Jalan Kepemimpinan Transformatif

Fiqh Al-Rahmah dalam Krisis Empati: Filantropi Islam sebagai Jalan Kepemimpinan Transformatif

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.