Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Eksploitasi Alam dan Akar Krisis Ekologis: Kegagalan atau Ketiadaan Ekopedagogi Sejak Usia Dini?

Abbad Muh Zahid by Abbad Muh Zahid
Juni 27, 2025
in Esai, Narasi
0
Eksploitasi Alam dan Akar Krisis Ekologis: Kegagalan atau Ketiadaan Ekopedagogi Sejak Usia Dini?
22
SHARES
128
VIEWS

Oleh: Abbad Muhammad Zahid (Kader IMM Pesma)

Krisis ekologis global tengah menghimpit dunia dengan semakin nyata: kenaikan suhu ekstrem, pencairan es kutub, deforestasi masif, polusi plastik hingga ke palung laut terdalam, dan kepunahan massal spesies. Gejala-gejala tersebut bukan hanya bencana lingkungan, melainkan juga krisis moral dan pendidikan. Maka tak terhindarkan untuk menanyakan, apakah kehancuran ini disebabkan oleh kegagalan sistem pendidikan dalam menanamkan nilai ekologis (ekopedagogi), atau karena pendidikan ekologi sejak usia dini sama sekali tidak ada dalam kurikulum kita?

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Ekopedagogi adalah pendekatan pendidikan yang mempersatukan kesadaran ekologis, keadilan sosial, serta pemikiran kritis (Gadotti, 2008). Tujuannya bukan sekadar menciptakan warga yang “tahu” tentang lingkungan, tetapi warga yang “cinta” dan “bertindak” menjaga bumi. Ketika kita melihat para pemimpin merusak hutan, membuang limbah ke sungai, atau memproduksi sampah tak terkendali, akar persoalannya bukan semata soal ilmu, tetapi soal etika dan cinta terhadap alam yang tidak pernah ditanamkan sejak usia dini.

Dua akar masalah patut dicermati. Pertama, sistem pendidikan formal kita, termasuk banyak negara lain, terlalu fokus pada aspek kognitif dan konten ilmiah yang sering kali mengajarkan eksploitasi alam, bukan kelestariannya. David Orr (1994) menegaskan bahwa banyak pendidikan tinggi menghasilkan “orang cerdas tapi tidak bijak,” karena tidak menjadikan keberlanjutan sebagai hati dari pembelajaran. Kedua, ketiadaan pendidikan lingkungan yang tepat sejak masa kanak-kanak. Padahal masa itu adalah waktu krusial untuk menanamkan empati dan hubungan afektif dengan alam.

Penelitian sistematik oleh Ardoin dan Bowers (2020) menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan usia dini secara konsisten menghasilkan peningkatan literasi ekologis, perkembangan kognitif, dan pertumbuhan sosial-emosional anak. Ini menegaskan betapa pentingnya ekopedagogi sejak usia 0–8 tahun; ini fase anak TPA dan PAUD, sebagaimana metode seperti play-based, nature-rich terbukti efektif. Fase ini bukan hanya masa belajar, melainkan masa mencintai.

Sementara itu, UNICEF (2023) melalui laporan First 1,000 Days to a Resilient Future menekankan bahwa pendidikan lingkungan sejak masa awal adalah strategi paling efektif untuk menciptakan perubahan sosial berkelanjutan. Strategi ini memicu ketahanan dan kesadaran akan perubahan iklim, dua hal yang sangat krusial saat ini.

Masalahnya adalah jika anak-anak tidak diperkenalkan pada alam dengan pendekatan afektif dan kontekstual dari kecil, mereka tidak akan membentuk dasar nilai ekologis yang kokoh. David Sobel (1996) pernah menegaskan bahwa anak-anak harus “mencintai alam terlebih dahulu sebelum diminta menyelamatkannya.” Tanpa pengalaman emosional positif seperti menanam pohon, berinteraksi dengan makhluk hidup secara langsung maupun dari kisah, serta eksplorasi sederhana, maka anak-anak tumbuh menjadi individu yang acuh terhadap alam.

Namun, kita tak boleh menutup mata pada peranan orang dewasa dan sistem ekonomi global. Eksploitasi brutal seperti penebangan hutan untuk tambang, polusi sungai oleh industri, pencemaran udara untuk keuntungan, ini menggambarkan betapa manusia dewasa, bahkan yang sudah berpendidikan, tetap melakukan perusakan gegara ketamakan. Ini bukan sekadar masalah pengetahuan, melainkan kekejaman moral.

David Orr (2005) memperingatkan bahwa tanpa mengembangkan empati ekologis dan hati nurani (habit of mind dan habit of heart) seperti yang disebut oleh Fritjof Capra, “orang muda hanya akan tumbuh menjadi teknokrat yang mahir, tetapi abai terhadap keberlanjutan moral dan spiritual bumi.” Sebaliknya, pendidikan yang efektif harus menanamkan keterhubungan emosional dan etis dengan alam, bukan hanya penyampaian fakta ilmiah.

Di Indonesia, kerancuan ini menjadi nyata. Kurikulum sekolah menengah dan madrasah cenderung menekankan hafalan dibanding refleksi nilai. Ajaran agama banyak membahas ritual atau karakter personal tanpa mengaitkan dengan tanggung jawab lingkungan, seperti ayat-ayat tentang kepedulian terhadap bumi dan air dalam Islam. Konsekuensinya, kebijakan lingkungan dan bisnis berorientasi profit jangka pendek, meski merusak keseimbangan ekosistem.

Eksploitasi alam, dengan demikian, lahir dari dua hal: ketidakadanya pendidikan ekopedagogi sejak dini dan kekejaman keserakahan orang dewasa. Bisa dibayangkan, pendidikan yang membiarkan anak tumbuh tanpa kecintaan terhadap alam akan melahirkan generasi yang sekadar pasif, sementara orang dewasa dengan posisi makro dan power akan mengeksploitasi tanpa hati.

Untuk mencegah ini, pendidikan lingkungan sejak dini adalah keharusan. TK, PAUD, dan TPA harus menjadi sarana penumbuhan relasi spiritual dan afektif dengan alam, misalnya melalui kisah Islam tentang alam, aksi tanam pohon, pelajaran langsung di alam (nature-based learning), dan metode berbasis cerita. Hanya dengan ini kita bisa membangun jawaban terhadap krisis ekologis yang berakar dari ketiadaan nilai ekologis serta moral kerusakan akibat ketamakan.

Tanpa langkah ini, kerusakan bukan hanya terjadi di masa sekarang, tetapi diwariskan sebagai beban ekstrem kepada generasi esok. Itulah bentuk kekejaman sistemik: mengorbankan masa depan untuk keuntungan saat ini. Sebaliknya, pendidikan yang menanamkan cinta alam sejak kecil akan menghantarkan kita pada masyarakat yang cinta sang bumi sebagai ciptaan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi.

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: EkopedagogiKrisisEkologispendidikan
Previous Post

Tuntunan yang Tidak Dituntunkan

Next Post

Tinjauan Etika Islam: Amanah dan Larangan Israf dalam Penggunaan Air

Abbad Muh Zahid

Abbad Muh Zahid

Mahasiswa Pend. Geografi UMS

Next Post
Tinjauan Etika Islam: Amanah dan Larangan Israf dalam Penggunaan Air

Tinjauan Etika Islam: Amanah dan Larangan Israf dalam Penggunaan Air

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.