Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Tradisi Tilik Haji: Budaya yang Perlu Dilestarikan

RedaksiKS by RedaksiKS
Juli 11, 2023
in Akhlak
0
Haji di tengah pandemi
72
SHARES
424
VIEWS

Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika tradisi-budaya keagamaan seperti haji menjadi sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Selain sebagai kewajiban bagi umat Islam yang mampu, haji juga menjadi salah satu budaya yang sangat dihormati dan dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia.

Salah satu tradisi yang terkait dengan haji adalah tradisi tilik haji.Tilik haji adalah sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia untuk memberikan dukungan moral dan doa kepada para jamaah haji yang akan berangkat ke Tanah Suci.

TulisanTerkait

Fiqh Al-Rahmah dalam Krisis Empati: Filantropi Islam sebagai Jalan Kepemimpinan Transformatif

Ketika Anak Membangkang, Siapa Sebenarnya yang Harus Disalahkan?

Validasi Manusia vs Ridha Allah: Kita Lagi Mengejar yang Mana?

Tilik haji juga memiliki makna spiritual yang dalam. Tradisi tilik haji mengingatkan kita kepada cerita Sayyidina Umar ibnu Khattab RA yang berniat pergi umroh yang kemudian Kanjeng Nabi Muhammad SAW mendengarnya. Kemudian Beliau silaturrahim ke rumah Sayyidina Umar dan meminta untuk didoakan saat nanti sudah sampai di Makkah al Mukarramah.

Nabi Muhammad SAW menjadi “uswatun hasanah” yang “menginkulturasi” dalam kehidupan sehari hari masyarakat Nusantara saat masa musim haji tiba. Inkulturasi budaya “tilik haji” sudah menjadi sebuah “dalil laku” bahwa ajaran Islam telah dan menjadi “membudaya” yang sudah melekat dalam perilaku sehari-hari. Olehnya, budaya “tilik haji” menjelma sebagai sebuah tradisi yang “hidup” dalam kehidupan sehari-hariTradisi ini biasanya dilakukan oleh keluarga, tetangga, atau kerabat dekat dari para jamaah haji.

Dalam tradisi tilik haji, para jamaah haji akan didoakan agar selamat sampai ke Tanah Suci, diberikan kesehatan dan keselamatan selama menjalankan ibadah haji, serta diberikan kemudahan dalam menjalankan ibadah haji. Tilik haji biasanya dilakukan pada malam sebelum para jamaah haji berangkat ke Tanah Suci. Pada malam itu, keluarga, tetangga, atau kerabat dekat dari para jamaah haji akan berkumpul di rumah para jamaah haji.

Mereka akan membaca doa-doa khusus untuk para jamaah haji, seperti doa selamat, doa keselamatan, dan doa kemudahan. Selain itu, mereka juga akan memberikan nasihat-nasihat dan motivasi kepada para jamaah haji agar tetap semangat dan fokus dalam menjalankan ibadah haji. Tilik haji bukan hanya sekadar tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia.

Namun, ada juga beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam tradisi tilik haji. Ada beberapa orang yang merasa berat untuk ikut tilik karena tidak memiliki dana untuk memberikan sumbangan. Oleh karena itu, ada juga tilik haji tanpa sumbangan. Tilik haji juga sebaiknya tidak menjadi beban bagi orang yang akan di tinggalkan oleh calon jamaah haji.

Lebih dari itu, tilik haji adalah sebuah warisan budaya yang perlu di lestarikan. Tilik haji merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan saling membantu antar sesama. Dalam tradisi tilik haji, masyarakat Indonesia belajar untuk saling mendukung dan membantu satu sama lain, terutama dalam menjalankan ibadah haji yang sangat berat dan melelahkan. Namun, sayangnya, tradisi tilik haji mulai tergerus oleh perkembangan zaman dan modernisasi.

Banyak masyarakat Indonesia yang mulai melupakan tradisi tilik haji dan lebih memilih untuk fokus pada persiapan fisik dan materiil dalam menjalankan ibadah haji. Padahal, tilik haji memiliki peran yang sangat penting dalam membantu para jamaah haji untuk tetap semangat dan fokus dalam menjalankan ibadah haji. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk melestarikan tradisi tilik haji.

Tidak ada informasi yang jelas mengenai asal-usul budaya tilik haji. Namun, tradisi ini merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan saling membantu antar sesama. Dalam budaya tilik haji, masyarakat Indonesia belajar untuk saling mendukung dan membantu satu sama lain. Terutama dalam menjalankan ibadah haji yang sangat berat dan melelahkan. Salah satu upaya yang dapat di lakukan adalah dengan mengajarkan tradisi tilik haji kepada generasi muda.

Generasi muda perlu di ajarkan tentang pentingnya tilik haji dan bagaimana cara melakukannya. Selain itu, perlu juga adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat dalam melestarikan budaya tilik haji. Pemerintah dapat memberikan dukungan dalam bentuk program-program yang mempromosikan dan melestarikan tradisi tilik haji.

Sedangkan masyarakat dapat membentuk kelompok-kelompok tilik haji di lingkungan mereka masing-masing. Dalam rangka melestarikan tradisi tilik haji, perlu juga adanya kolaborasi antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat dari negara-negara lain yang juga memiliki tradisi serupa. Hal ini dapat di lakukan melalui pertukaran budaya atau kerjasama dalam rangka mempromosikan tradisi tilik haji. Dengan adanya kolaborasi seperti ini, tradisi tilik haji dapat semakin di kenal dan di hargai oleh masyarakat dunia.

Tilik haji adalah sebuah budaya yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Budaya ini bukan hanya sekadar doa dan dukungan moral bagi para jamaah haji. Tetapi juga merupakan sebuah warisan budaya yang perlu di lestarikan. Dalam rangka melestarikan tradisi tilik haji, perlu adanya upaya dari semua pihak, baik itu pemerintah, masyarakat, maupun generasi muda. Dengan melestarikan tradisi tilik haji, kita dapat memperkaya khazanah budaya Indonesia dan memperkuat rasa persatuan dan kesatuan antar sesama.

Penulis : Amaliatus Sholihah Dinani (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)

Terkait

Previous Post

Scientia Sacra : Hubungan Sains dengan Tuhan

Next Post

Memeluk Quarter Life Crisis dengan Bersyukur

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Jika Ibadah Tak Kunjung Menyibak Rahasia Tuhan

Memeluk Quarter Life Crisis dengan Bersyukur

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.