Oleh: Nurbani Yusuf
Mungkin bukan semua agama—tapi benarkah Islam menerapkan syarat ketat untuk bisa masuk surga meski berbagai amal sudah dilakukan?
Agama selain Islam sebut saja Kresten, Katholik, Hindhu atau Budha tidak menerapkan standart ganda dalam hal keimanan—orang percaya bahwa Yesus itu Tuhan sudah cukup membuatnya selamat dan masuk surga—konsep iman mereka tidak mengenal munafiq, fasiq, dhulmun, atau sebutan lainnya yang meski sudah berkesaksian (syahadat) masih di anggap belum mencukupi dan harus lewat beberapa tahap uji.
Maka bisa saja seseorang meski sudah beriman—mengakui rukun iman yang enam—atau mengerjakan rukun Islam yang lima masih belum tentu lolos masuk surga sebab bisa saja dia terpapar sifat fasiq atau dhalim atau munafiq—dalam hal surga maka Islam memiliki sejarah panjang dan rumit—dan belum kelar hingga hari ini.
Tentang kedudukan orang beriman tapi masih melakukan dosa besar misalnya, telah melahirkan beragam pandangan dan madzhab—dua arus utama pemikiran Jahami dan Qadari cukup dominan, sebelum dikompromikan dalam konsep kalam al Asy’ary dan Al Maturudy yang dikenal dengan ahlu sunah wal jamaah—
***
Tidak adanya keseragaman pandangan di kalangan ulama Islam ini cukup merepotkan—bahwa masuk Islam secara generik saja belum tentu bisa menyelamatkan. Bahkan ironisnya berkembang juga dikalangan umat Islam sikap skeptis bahwa seorang ulama atau kyai yang sudah berdarah-darah mengamalkan beragam jenis ibadah belum ada jaminan selamat atau husnul khatimah. Kalau pemimpin agamanya saja belum tentu bisa selamat lantas bagaimana mungkin bisa menyelamatkan umat.
baca juga Teologi Masuk Surga dalam Pandangan Agama-agama
Bahkan segolongan ulama Mutazila menawarkan konsep ‘Manzila bainal Manzilataian’ suatu tempat antara surga dan neraka bagi kalangan beriman yang masih suka mengerjakan perbuatan dosa besar, sekedar untuk tidak mengatakan bahwa pelakunya dihukumi kafer atau murtad.
Parahnya lagi, proses pengkafiran dan pemurtadan justru dilakukan oleh sesama pengikut yang sama-sama mengaku beriman—dengan standart dan indikator yang ditetapkan sendiri.
***
Bahkan Ahli ibadah pun masih belum ada jaminan selamat bila terindikasi mengerjakan bid’ah—bukankah definisi Ahli Bid’ah itu sesungguhnya adalah ahli ibadah yang suka nambah-nambah sehingga ditetapkan sebagai penghuni neraka.
Para ahlu bid’ah ini ‘ditetapkan’ masuk neraka oleh segolongan yang mengaku ahlu sunah hanya karena memperingati maulid Nabi, baca qunut subuh atau sayidina ketika tahiyat, senang tahlilan, suka baca diba, rajin yasinan tiap malem Jumat, dzikir ramai-ramai usai shalat fardhu atau sekedar salaman usai shalat berjamaah atau gemar kirim doa pada orang tua atau kerabat yang sudah meninggal. Mereka inilah yang ‘diklasifikasikan’ sebagai ahli bid’ah dan ‘ditetapkan’ secara sepihak bakal menghuni neraka. Benarkah ?
Tegasnya banyak orang shalat berjamaah di masdjid dan beramal ibadah masuk neraka, hanya karena melakukan hal-hal yang dianggap tidak ada dalil dan tidak dikerjakan Rasulullah saw. Kita memang telah bersepakat bahwa tiap-tiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat bakal masuk neraka—tapi bukankah kita belum bersepakat tentang definisi bid’ah dan apa-apa saja bisa disebut bid’ah—inilah pasal rumitnya.
baca juga Cahaya di Tengah Tiga Lapis Kegelapan
Dengan cara pandang sedemikian maka persyaratan masuk surga bisa bertambah ketat dan rumit—sebab banyak orang shalat, membaca Quran, bersedekah dan amalan lainnya bukannya masuk surga tapi malah berbalik masuk neraka—
***
Logika sederhana orang awam: bila semua yang kita lakukan ingin masuk surga kenapa mencari kelompok yang menetapkan syarat berat dan rumit—mungkin Abu Dzar ra bisa memberi jawab:
‘Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.
Dan masih banyak lainnya tentang kemudahan dan jaminan masuk surga bagi yang tidak menyekutukan Allah—tapi siapapun bebas menetapkan surga atau nerakanya sendiri dengan cara yang ia mau—dan saya pilih yang paling mudah.