Oleh: Abdillah Toha
Di suatu akhir pekan, tepatnya pada tanggal 2 Mei 1926. Sebuah perkumpulan anak-anak muda yaitu Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) melaksanakan Kongres Pemuda I.
Ada beberapa pembahasan yang menjadi topik utama pada Kongres ini. Pertama ialah mempersatukan berbagai perkumpulan pemuda daerah. Yang kedua, mempererat rasa persaudaraan antar pemuda Indonesia. Yang ketiga membentuk wadah komunikasi dan kerjasama nasional.
Walau ada ketidaksepakatan tentang bahasa nasional, dimana pada saat itu Ketua Kongres tidak menyepakati gagasan Muhammad Yamin terhadap bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Karena Muhammad Tabrani sebagai Ketua Kongres berpendapat bahwasanya kalau tanah air dan bangsa bernama Indonesia maka bahasanya juga haruslah disebut bahasa Indonesia. Terlepas dari beberapa perbedaan pendapat itu, bisa kita sadari bahwa dari Kongres ini, pemuda yang ada pada saat itu sudah memiliki pemahaman bahwa adanya persatuan diantara Nusa, Bangsa dan Bahasa, mutlak dilaksanakan.
Namun, pernahkah kita bertanya bahwa dari mana rasa persatuan ini bangkit? Menariknya, rasa persatuan ini berawal dari sebuah buku, Naar de Republiek, karya Tan Malaka. Tan Malaka mengatakan bahwasanya kemerdekaan Indonesia tidak cukup hanya melawan penjajah secara politik tetapi juga harus mengubah struktur sosial-ekonomi yang timpang. Untuk menghadapi ketimpangan ini, Tan Malaka mengatakan bahwa itu tidak bisa dicapai melalui jalan kompromi dan konfrontasi semata, tetapi harus melalui organisasi massa, tekanan sosial dan revolusi sebagai bagian strategi. Buku ini selain membahas Indonesia untuk yang pertama kali, juga menjadi tonggak awal semangat anak-anak muda untuk bersatu demi bangsa dan negara. Maka lahirlah Kongres Pemuda I.
Dari Kongres ini pertemuan-pertemuan pemuda dipaksa semakin menggeliat. Menghasilkan banyak rapat-rapat kecil setelahnya. Yang pada awalnya hanya melibatkan satu organisasi, dari hari ke hari, bulan ke bulan, semakin banyak pemuda-pemuda yang ikut. Mulai dari Jong Java, Jong Sumatrenan Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pemoeda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, dan Pemoeda Kaoem Betawi. Dari sini maka lahirlah Kongres Pemuda II.
Dalam kongres ini, Muhammad Yamin menguraikan tentang arti penting persatuan untuk kebangsaan. Menurutnya terdapat beberapa faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia, yaitu persamaan kultur, bahasa dan juga hukum adat.
Kongres ini juga membahas tentang kurikulum yang harus dilaksanakan di dalam dunia pendidikan. Sekolah harus hadir sebagai jalan untuk menciptakan karakter yang memiliki perilaku yang baik dan juga cinta tanah air. Anak-anak juga harus diberikan pelajaran secara merdeka tanpa melalui perintah atau paksaan. Hal ini bisa berhasil jikalau adanya keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan juga di rumah. Karena kultur pembelajaran di rumah akan senada dengan kultur pembelajaran anak di sekolah. Jika di rumah kultur pembelajaran tidak mengasyikkan, maka anak-anak juga tidak akan merasakan keseruan belajar di Sekolah. Jika sekolah tak hadir sebagai rumah, maka mustahil kebodohan itu bisa terjajah. Hal ini dibahas secara mendalam, kemudian menghasilkan sebuah kesepakatan, di mana hal-hal yang telah dibahas tidak akan bisa terjadi kalau tidak ada yang namanya persatuan. Maka, lahirlah Sumpah Pemuda.
Kepingan yang Hilang
Dan kini sudah hampir satu abad waktu berlalu, namun tampaknya apa yang sudah menjadi kesepakatan masih jauh untuk menjadi kenyataan. Kepingan-kepingan yang harusnya menjadi semangat itu kian hilang tak mau melayat. Kini Sumpah Pemuda kehilangan maknanya. Benih-benih cinta itu telah lama kering, layaknya kumpulan air beku di Selat Bering.
Kepingan Pertama: Tak ada Rasa Penasaran
Sebagaimana Sumpah Pemuda lahir dari penasaran atas manisnya persatuan. Juga rasa cemburu dari banyaknya orang-orang yang bisa merdeka tuk merasakan “madu”. Dan semua itu, berawal dari sebuah buku.
Namun berapa banyak anak muda sekarang yang penasaran dengan buku? Bagaimana ada rasa penasaran? Ketika buku saja tidak pernah menggantung di tangan? Yang ada hanya rasa penasaran terhadap asyiknya bergelantungan di gemerlapnya tiktok. Apalah arti sebuah buku? Tak menyenangkan sama sekali! Kata pemuda-pemudi di pojok warung kopi itu.
Sebuah studi yang dilaksanakan oleh Universitas Negeri Surabaya mengatakan, bahwa anak usia sekolah memiliki rata-rata 41 jam per minggu untuk bermain ponsel. Yang menyebabkan banyaknya anak usia sekolah mengalami pola makan dan tidur yang berantakan. Hal ini mengakibatkan resiko masalah pada perkembangan pada otak anak. Efek screen time yang panjang ini juga mengakibatkan daya pikir dan kontrol emosi yang lemah serta meningkatkan risiko masalah perkembangan pada anak. Karena lemahnya daya pikir dan kontrol emosi, juga mengakibatkan kurangnya kemampuan berfikir secara matang karena terbiasa dengan mindless scrolling atau mengambil keputusan dalam durasi sangat singkat.
Lemahnya daya pikir juga bisa mengakibatkan sulitnya berkonsentrasi, sering lupa, pikiran terasa kosong, kesulitan membuat keputusan, penurunan kemampuan memecahkan masalah. Sedangkan lemahnya kontrol emosi mengakibatkan suasana hati yang mudah marah, cemas maupun depresi.
Lalu apa yang harus kita lakukan? Tentu kita harus berani menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan mengambil tindakan atasnya. Jika mengacu pada pembahasan Sumpah Pemuda, hal ini terjadi karena tidak adanya kemerdekaan atas pendidikan seorang anak. Ia dipaksa untuk sekolah, tapi anehnya ia tak pernah melihat aktivitas belajar di dalam rumah. Alih-alih dipaksa untuk memegang pena, di rumah ia selalu melihat hp lebih lama menyala di depan muka. Tak ada rasa persatuan di rumah itu.
Maka tak heran sudah, kenapa tidak ada lagi rasa penasaran itu pada anak muda zaman sekarang. Bagaimana rasa penasaran itu ada, ketika lemahnya kemampuan berpikir dan kontrol emosi itu sudah merajalela? Bagaimana rasa penasaran itu ada, jikalau rumah tak pernah menjadi sekolah? Juga sekolah tak mampu menjadi rumah?
Maka, mari kita gembirakan merasa penasaran itu. Layaknya Sumpah Pemuda yang lahir dari sebuah buku. Rasa penasaran tentang bagaimana jadinya jikalau buku itu dibuat menjadi kenyataan. Begitulah seharusnya. Seorang pemuda harus penasaran. Seorang pemuda harus mencari jawaban. Artinya, tak ada buku maka tak ada pemuda. Tak ada pemuda maka yang ada hanya kematian. Kematian fisik melahirkan kesedihan, kematian pikiran melahirkan kehancuran.
Kepingan Kedua: Tak mau mendengarkan
Sumpah Pemuda lahir dari forum yang berasaskan saling mendengar. Tentu banyak perbedaan pendapat terjadi. Namun apalah arti berbeda pendapat, karena berbeda bukan berarti tidak bersatu. Berbeda juga bukan berarti bermusuhan. Berbeda justru tanda kita saling mendengar.
Dalam Islam, mendengar bukan hanya sebuah aktivitas fisik. Tetapi juga sebagai gerbang awal dalam mengaktifkan keresapan hati. Di mana hati bukan hanya tempat berbisik pelan, tapi juga pusatnya iman. Tak heran jika apabila hati seseorang rusak, maka rusak lah imannya. Apabila ia tak mau mendengar, maka dipastikan hanya ada iman yang pengar.
Allah berfirman pada surat Qaf ayat 37:
ࣱإِنَّ فِی ذَ ٰلِكَ لَذِكۡرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُۥ قَلۡبٌ أَوۡ أَلۡقَى ٱلسَّمۡعَ وَهُوَ شَهِید
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikan”.
Pada ayat ini Allah menggambarkan orang-orang yang beriman adalah orang yang bisa memahami tanda kebesaran Allah melalui apa yang ia baca, apa yang ia dengar, dan apa yang ia lihat.
Aktivitas membaca, melihat, dan juga mendengar itu berkorelasi terhadap respon hati seseorang. Apabila ia mendapat memahami apa yang ia dengar dan yang ia baca, maka yang hadir adalah kepatuhan. Namun apabila iya tak dapat memahami apa yang ia dengar, makanan hadir adalah pengingkaran.
Maka bisa kita bayangkan, apabila pemuda pemudi saat itu saling mengingkari dan tak mau saling mendengarkan. Menganggap dirinya adalah orang yang paling benar daripada kelompok lainnya. Bayangkan, hanya karena tidak mau mendengar, yang seharusnya melahirkan persatuan, malah membawa perpecahan. Perpecahan yang mengakibatkan Bangsa Indonesia mangkir. Tak pernah datang, tak pernah ada.
Pulang pada Makna Sumpah itu
Kini, gema Sumpah Pemuda terdengar sayup, seolah tertelan hiruk pikuk zaman yang sibuk dengan dirinya sendiri. Api yang dulu menyala di dada para pemuda, kini redup di antara sekat ego dan kepentingan. Banyak di luaran sana yang berteriak, merintih kesakitan meminta tolong. Namun, tak ada yang mau mendengar. Tak ada yang mau penasaran.
Kita berjalan di atas tanah yang sama, namun hati kita sering tersesat dalam perbedaan. Barangkali itu adalah kepingan yang hilang, dan mungkin tugas kita hari ini bukan sekedar menghafal sumpah yang sudah berusia hampir satu abad itu. Tugas kita lebih daripada itu.
“Curhatan dari seseorang yang sedang mengabdi di belahan dunia yang entah berada dimana, sehabis pulang mengajar dan malamnya mendengar hasil pemilihan Ketua Kenaziran Masjid Kampung”
Editor: Dwi Kurniadi