Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Menggali Kepingan Makna Sumpah Pemuda

Fahrul Rozi by Fahrul Rozi
Oktober 28, 2021
in Esai
0
Menggali Kepingan Makna Sumpah Pemuda
40
SHARES
236
VIEWS

Ada yang beda dan sama terkait perayaan Sumpah Pemuda tahun ini. Bedanya, jika dulu kita merayakan Sumpah Pemuda dengan upacara bendera di bawah terik matahari, saat ini kita cukup merayakan dengan membuat desain ucapan lalu posting di story. Tidak salah memang, selain memanfaatkan media, saat ini juga masih dalam masa pandemi.

Namun yang sama dan masih ada di tahun ini adalah persoalan lemahnya pemaknaan dan refleksi terhadap semangat juang, kontribusi dan perenungan dasar atas nilai-nilai persatuan dalam sejarah dan isi Sumpah Pemuda itu sendiri.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Peristiwa bersejarah ini tentu bukan peristiwa yang ada secara tiba-tiba. Peristiwa ini tidak lahir dari kegabutan pemuda-pemudi yang suka ngopi berkedok nongkrong membahas persoalan bangsa. Atau bukan juga berasal dari pemuda mabar game Moba dan joget Tiktok lalu berikrar bersama atas nama bangsa.

Peristiwa ini tidak lahir dari proses semacan itu. Melainkan lahir dari sudut pemikiran dan perasaan gelisah pemuda-pemudi Indonesia atas persoalan bangsa di tengah tekanan dan cengkeraman penjajah.

Pada saat itu, persoalan bangsa yang sangat kompleks menghantui kehidupan masyarakat. Cengkeraman penjajah hampir mematahkan semangat hidup masyarakat yang harus terus bertahan dalam kebodohan, kelaparan, dan kemiskinan.

Ungkapan menyedihkan yang menggambarkan keadaan bangsa ini dulu layaknya “Ayam yang tidur di atas padi, tapi mati kelaparan” atau “Itik yang berenang di atas air, tapi mati kehausan”. Suatu keadaan terhina dan tertindas hidup di tanah surga yang justru menjadi nestapa jiwa tanpa kesejahteraan.

Kilas Balik Sumpah Pemuda

Peristiwa sakral ini merupakan hasil dari kesadaran akan polemik bangsa dari yang semula bersifat kedaerahan, menuju kebangkitan nasional. Kesadaran pemuda akan pentingnya gerakan untuk kemerdekaan bangsa diawali oleh kelompok Tri Koro Darmo yang kemudian menjadi Jong Java (1915). Lalu gerakan itu diikuti pula oleh kelompok pemuda dari berbagai daerah seperti; Jong Soematranen Bond (1917), Jong Islamieten Bond (1924), Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon, Sekar Roekoen dan Pemoeda Kaoem Betawi (Widodo, 2011).

Perkumpulan pemuda inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya gerakan pemuda secara nasional. Meskipun pada saat kongres pemuda pertama belum dihasilkan gerakan semacam itu, namun kongres pemuda pertama mampu menjadi bahan bakar semangat persatuan dan cinta tanah air.

Setahun sebelum diadakannya kongres kedua, lahirlah dua organisasi baru; Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) dan Jong Indonesia yang sekaligus menjadi lokomotif semangat nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan bangsa. Semangat nasionalisme dan tujuan mulia dua organisasi ini dengan tegas menginginkan persatuan di kalangan pemuda menuju kemerdekaan.

Hingga pada tanggal 17 Desember 1927 lahir sebuah organisasi bernama Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Organisasi ini didirikan sebagai bentuk upaya persatuan kiblat arah aksi kebangsaan. Terbentuknya PPPKI ini membawa dampak yang sangat besar terhadap organisasi pemuda di Indonesia yang mempunyai semangat persatuan dan nasionalisme yang tinggi (Karyanti, 2010).

Ikrar Pemuda-Pemudi Indonesia

Selanjutnya pada tanggal 28 Oktober 1928 menjadi hari persatuan bagi pemuda-pemudi seluruh Indonesia. Dengan penuh keyakinan dan kesadaran mereka berikrar bersama atas nama bangsa. Hari itu juga menjadi hari tak terlupakan, sebab lagu kebangsaan Indonesia Raya pertama kali debut di khalayak umum oleh W.R. Supratman dengan gesekan merdu biolanya.

Rasa haru dan bangga membuncah dari dada setiap insan yang mendengarnya. Pada akhir Kongres tersebut, lahirlah sebuah sumpah dan pernyataan oleh para pemuda yang lebih dikenal dengan “SUMPAH PEMUDA”.

Hebatnya, hari ini adalah hari bersejarah itu. Tapi apakah semangat nasionalisme kala itu sama dengan hari ini? Pertanyaan ini mungkin akan dijawab berbeda dari setiap individu pemuda dan pemudi. Tergantung tingkat pemahaman, pemaknaan, serta refleksinya terhadap kehidupan bermasyarakat di tanah air ini.

Namun yang menjadi catatan penting ialah bahwa memang semangat perjuangan Sumpah Pemuda 28 Oktober di masa lalu tentu berbeda dengan keadaan dewasa ini. Dulu ikrar itu lahir di tengah cengkeraman penjajah, sedangkan saat ini Indonesia sudah menjadi negara yang merdeka secara de facto dan de jure.

Jika teringat kalimat dari Bapak Proklamator kita, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”, rasanya tugas pemuda-pemudi saat ini memang terasa berat.

Memaknai Semangat Sumpah Pemuda

Namun kembali lagi pada pemaknaan nilai-nilai perjuangan dan semangat Sumpah Pemuda tiap individu. Penulis berprasangka baik kepada tiap pemuda-pemudi di tanah air, jika mereka tahu dan paham terkait sejarah perjuangan pemuda di masa lalu. Semoga gegap gempita Sumpah Pemuda tidak hanya berhenti pada posting-an pamflet, poster, serta story yang bertebaran di social media.

Penulis harap, pejuang terdahulu tidak bersedih hati. Bukan, bukan sedih karena mereka tidak bisa menyaksikan perayaan dan semarak posting-an kita hari ini. Melainkan bisa saja mereka sedih sebab masih ada pemuda-pemudi yang tidak paham akan sejarah yang mereka rayakan. Atau lebih parahnya masih banyak pemuda-pemudi yang tidak tahu bagaimana cara mengisi dan merefleksikan semangat persatuan untuk persoalan bangsa.

Oleh karena itu, setidaknya ada tiga butir kalimat Sumpah Pemuda yang perlu kita maknai. Butir pertama, Sumpah Pemuda bukan hanya sebagai teks biasa yang menyatakan kita satu tanah air atau satu tempat tinggal saja. Lebih dari itu, ada nilai perjuangan senasib sepenanggungan akan kemiskinan, kelaparan dan kebodohan yang dialami bangsa ini berabad-abad lamanya.

Butir kedua, berbangsa satu mencerminkan kekeluargaan dalam masyarakat Indonesia yang multikultural. Beragam agama, budaya, kesukuan dipadukan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Secara mendalam nilai persatuan dalam konsep berbeda-beda tapi tetap satu merupkan anugerah terindah dari tokoh pemikir bangsa.

Kemudian butir ketiga, sebagai solusi atas multikultural dan beragam bahasa di tanah air ini dibutuhkan bahasa pemersatu. Bahasa pemersatu menjadi sarana konkrit untuk mewujudkan kesatuan tanpa tapi dan tanpa tepi. Butir-butir tersebut melambangkan ikrar penuh akan bakti mengabdi pada negeri ini.

Menggali Makna Lebih Dalam

Sekali lagi untuk refleksi, sampai dimana kita menggali makna Sumpah Pemuda hari ini? Sejauh mana pemahaman kita terhadap nilai-nilai perjuangan dan semangat kesatuan dalam berbangsa di tengah arus kepentingan kelompok tertentu yang kian menjadi-jadi?

Jangan sampai dangkalnya pemaknaan nilai Sumpah Pemuda di kalangan kawula muda menjadi faktor pendukung semakin pudarnya nilai kesatuan dan kemanusiaan di negeri ini.

Terakhir, tulisan ini penulis dedikasikan dengan penuh rasa hormat kepada para pejuang yang telah mewariskan kehidupan yang lebih baik, di tengah segala problematika yang menyertai.

Editor: Anisa K.

Terkait

Previous Post

Digitalisasi Moderasi: Upaya Membendung Radikalisme di Era Media

Next Post

Naquib al Attas : Pandangan Hidup Seorang Muslim di Zaman Modern

Fahrul Rozi

Fahrul Rozi

Pengasuh Pondok Pesantren Baiturrohmah Muhammadiyah Banyuresmi Garut

Next Post
Naquib Al Attas

Naquib al Attas : Pandangan Hidup Seorang Muslim di Zaman Modern

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.