Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Stereotype Toxic Gender dan Masculinity

RedaksiKS by RedaksiKS
September 12, 2020
in Filsafat
1
gender
213
SHARES
1.3k
VIEWS

Ivan Gunawan seorang presenter dan desainer busana kondang tanah air kehidupannya selalu menarik perhatian publik. Beberapa waktu lalu, pria kelahiran 31 Desember 1981 itu sempat trending di Twitter usai menjadi bintang tamu dalam video podcast Deddy Corbuzier berjudul: “Yakin Cowo?! Kok Make up!! Ribut Gue Akhirnya!! -Ivan Gunawan -Deddy Corbuzier”

Ivan Gunawan menuai beragam pujian dari warganet dalam aksinya melawan toxic masculity yang dialamatkan kepada dirinya. Ivan dengan berani menyuarakan pendapatnya tentang toxic gender yang dilakukan oleh Deddy Corbuzier. Ivan beranggapan bahwa Deddy terlalu men-standardisasi kebiasan perempuan dan laki-laki.

TulisanTerkait

Rausyanfikr di Era Digital: Membaca Peran Intelektual Muda melalui Pemikiran Ali Syariati

Membaca Gaya Hidup Generasi Digital melalui Perspektif Jean Baudrillard

Amor Fati: Ketika Mencintai Takdir Menjadi Bentuk Tertinggi dari Kebebasan Jiwa

Deddy Corbuzier mengatakan harusnya laki-laki tak melakukan kardio dan squat. Karena latihan ini untuk membentuk bagian tubuh wanita. Apabila kamu melakukan gerakan squat secara rutin, maka otot-otot kaki, pinggang, dan perut juga bisa terlatih sehingga menjadi lebih kuat dan fleksibel. Otot yang kuat dan fleksibel ini membuat kamu bisa melakukan berbagai aktivitas dengan baik serta menurunkan risiko cedera squat sangat bagus untuk olahraga baik pria maupun wanita.

Menyoal Toxic Gender 

Saya rasa Ivan memberikan contoh yang baik dengan berani mengutarakan pendapat dan dengan gamblang berpesan agar kita tidak mengkotak–kotakan hobi dan kebiasaan seseorang hanya berdasarkan gender.

Namun realita yang terjadi di masyarakat adalah mereka masih mengkotak-kotakan antara perempuan dan laki-laki. Sehingga membentuk stereotip di masyarakat bahwa perempuan harus feminim sedangkan laki laki harus maskulin dan itu seperti tidak bisa dipertukarkan. Stereotip di masyarakat tersebut tentunya memiliki dampak yang berbeda beda kepada masing masing individu. Stereotip tersebut membuat toxic antar gender menjadi hal lumrah di lingkungan masyarakat.

Baca Juga: Pancasila dalam Keberagaman Berbangsa dan Bertanah Air

Bahkan mereka tidak merasa bersalah atas opini toxic yang mereka ciptakan karena dirasa tidak sesuai dengan standar gender. Siapa saja pelakunya? Kebanyakan pelakunya adalah orang-orang  yang sempit wawasan dan pergaulannya. Beberapa dari mereka memiliki masalah mental lainnya, seperti egois, temperamen, dan merasa paling benar. Standardisasi toxic feminity pada perempuan. Contohnya seperti:

  1. Perempuan itu harus pintar masak dan mengurus rumah tangga. Padahal masak itu termasuk cara “bertahan hidup” untuk semua manusia, bukan cuma perempuan. Mencuci, mengepel, dan mengurus anak bukanlah semata-mata tugas perempuan, jika kamu mencari pengurus rumah maka carilah asisten rumah tangga karena fungsi menikah adalah mencari pendamping hidup. Perempuan dan laki-laki sama-sama berbagi tugas rumah tangga.
  2. Perempuan tidak boleh menjadi pemimpin. Diluar sana perempuan itu dicap tidak pantas menjadi pemimpin karena membawahi laki-laki. Menjadi pemimpin itu tidak ditentukan oleh gender tetapi kemampuan dan pengalaman yang memadahi.
  3. Perempuan harus nurut. Sesama manusia punya kebebasan yang sama untuk mengutarakan pendapat. Jika demi ke bagaikan ikuti. Kalau sarannya tidak baik perempuan berhak menolak.
  4. Perempuan nantinya cuma kerja mengurus rumah tangga.Perempuan bisa jadi ibu dan istri yang baik tapi tetap sukses dalam kariernya. Status pernikahan bukan jadi penghalang.
  5. Perempuan tidak usah belajar tinggi-tinggi nanti juga jadi ibu rumah tangga. Padahal jika di telaah pendidikan tinggi itu sangat membantu perempuan untuk membuka wawasan dan pengalaman.
  6. Perempuan itu lemah dan harus dilindungi. Mungkin memang secara fisik kebanyakan perempuan lemah dan beberapa perlu dilindungi. Bisa jadi justru malah laki-laki gagah yang mentalnya harus dijaga oleh perempuan yang fisiknya lemah.
  7. Perempuan selalu benar. Anggapan yang sangat keliru. Justru ketika perempuan salah, perempuan wajib berkaca atas kesalahannya.
  8. Perempuan yang keluar malam itu dianggap bukan perempuan baik-baik. Padahal jika dipikir ada pekerjaan yang mengharuskan pulang malam. Seperti perawat bekerja shift, karyawan kantor kerja lembur. Ada pekerja paruh waktu yang harus kerja berpindah-pindah tempat kerja dari pagi hingga malam. Ada penjual makanan keliling yang harus berjualan makanan sampai pagi demi sesuap nasi untuk keluarganya. Banyak sekali hal positif yang bisa kita pikirkan dibanding langsung mencap seseorang tidak baik. Tidak etis berburuk sangka tanpa mengetahui kebenaran yang terjadi.

Toxic Masculinity

Hampir sama dengan toxic feminity, laki-laki juga sering terkena toxic masculinity. Contoh toxic masculinity sebagai berikut:

  1. Cowok tidak boleh menangis. Nangis itu boleh, yang gak boleh itu cengeng. Akan tetapi pernyataan diatas dimaknai cowok tidak boleh menangis sama sekali, bahkan untuk alasan apapun. Cowok menangis dengan alasan yang sudah pasti sesuatu yang berat dihadapi.
  2. Cowok tidak boleh penakut, harus pemberani.Takut adalah sifat alamiah manusia. Setiap orang pasti punya suatu hal yang ditakuti.
  3. Cowok tidak boleh lemah. Ada alasan kenapa cowok lemah tidak jago dalam hal olahraga mungkin bisa saja dia memiliki riwayat penyakit tertentu. Olahraga juga merupakan kegiatan tidak hanya cowok saja yang boleh mengikuti. Cowok juga memiliki sisi kelemahan tidak semua cowok mampu mengatasi masalahnya dibutuhkan peran orang lain untuk membantu meringankan beban tersebut.
  4. Cowok harus ngerokok. Sejak kapan cowok harus ngerokok supaya bisa diakui jadi cowok? Justru merokok akan banyak menimbulkan masalah kesehatan. Jadi sebaiknya hindari hal-hal negatif daripada harus mengikuti trend toxic.
  5. Cowok tidak boleh jadi tukang ngadu. Hal ini dianggap cowok akan bertindak seperti perempuan yang akan mengadukan setiap permasalahan.
  6. Cowok harus unggul di kegiatan fisik. Tidak semua laki-laki menyukai kegiatan fisik bisa jadi mereka lebih suka kegiatan yang tidak terlalu mengeluarkan tenaga banyak seperti menulis, melukis, dan membaca.
  7. Cowok harus suka main game. Kalau tidak bisa main game dianggap cupu.
  8. Cowok tidak boleh pakai skincare. Merawat diri adalah kebutuhan setiap manusia. Agar tetap terjaga kesehatan kulit dan tidak menimbulkan jerawat, kulit bersisik, serta menjaga penampilan dan alasan lain sebagainya. Jadi jangan anggap cowok merawat diri seperti perempuan sungguh tidak etis rasanya.
  9. Cowok harus kuat begadang. Begadang sangat tidak dianjurkan. Tidur yang cukup iauh lebih baik agar tetap terjaga stamina.
  10. Cowok harus main jauh, dan pulang larut malam. Main jauh dan pulang malam untuk tujuan bersenanang dan tidak penting tanpa seizin orang tua menyebabkan timbulnya kenakalan remaja dan pergaulan bebas.

Definisi dari toxic masculinity sendiri adalah sebuah fenomena yang hadir di tengah para laki-laki pada umumnya, dan menjadi problem sosial di tengah masyarakat. Penyebabnya adalah verbal yang membuat kepercayaan diri seorang laki laki menurun. Sehingga mempengaruhi sindrom kejantanan yang menyudutkan kejantanan laki laki dan mengurangi rasa percaya diri dari orang tersebut.

Istilah maskulinitas yang berkembang pada masyarakat memang memiliki dampak yang cukup baik dalam membantu identitas seseorang di lingkungan sosial, namun bila orang tersebut tidak mampu mewujudkan maskulinitas yang akan dicapai, maka istilah tersebut akan mengarah pada toxic masculinity. Apabila laki-laki tersebut tidak bisa memenuhi apa yang diinginkan perempuan, bisa jadi dia dianggap lemah. Sebagai contoh bila laki-laki menangis maka dia dianggap lemah oleh teman-temannya.

Muncul Karena Adanya Anggapan

Dalam sebuah video di Youtube berjudul Boys Don’t Cry yang diunggah oleh sebuah akun bernama Joey Kidney cukup mewakili kegundahan para korban dari toxic masculinity. Stereotype-stereotype seperti lelaki tidak punya rasa peduli atau tidak peka, isi pikiran lelaki didominasi seks, lelaki tangguh dan tidak rentan mengalami sakit hati yang disinggung dalam video tersebut banyak beredar di masyarakat dan korban dari jebakan tersebut sudah tidak bisa dihitung jari.

Siapa sangka, sepatah dua patah stereotip yang mengalir dari mulut kita, bisa menambah beban pikiran pendengarnya. Menurut riset yang dilakukan oleh para peneliti dari Layanan Sosial Jesuit, Australia para pria yang hidup dalam tuntutan maskulinitas tradisional cenderung memiliki kesehatan mental yang buruk.

Seperti merasa tertekan, putus asa, bahkan berkeinginan bunuh diri. Penerapan maskulinitas tradisional dapat kita temukan di berbagai belahan dunia sehingga beban mental terkait hal ini pun juga dirasakan oleh banyak orang.

Baca Juga: Suka dan Duka di Balik Hari Suci ‘Asyura

Indonesia adalah negara demokrasi yang berlandas pada ideologi Pancasila. yang artinya segala bentuk kebebasan diperbolehkan bila masih dalam konteks lima sila Pancasila dan undang-undang dasar. Pada sila ke-5 dari Pancasila yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. setiap individu berhak dalam mendapatkan keadilan di Negara ini.

Implementasi keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak hanya sebatas memberikan sanksi yang sepadan kepada seseorang yang melanggar hukum, tetapi juga memberikan hak-hak yang sama dalam hidup bernegara.

****

Segala bentuk perbedaan dan keberagaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini tentunya harus kita hargai juga hormati. Seperti dalam sila ke-2 dalam pancasila yang berbunyi kemanusiaan yang Adil dan beradab. Dalam butir butir pancasila sila ke-2 ini disebutkan kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat mengakui persamaan derajat.

Selain itu juga persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Mengembangkan sikap saling hormat menghormati.

Ketika kita sebagai individu mampu menerapkan nilai nilai pancasila secara baik dalam berkehidupan. Maka akan mudah bagi kita untuk mencapai persatuan. Seperti pada sila ke-3 dalam pancasila yang berbunyi Persatuan Indonesia. Mampu mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.

Tidak Ada Lagi Minoritas dan Mayoritas

Dengan mengimplementasikan nilai nilai pancasila dalam berkehidupan maka tidak mudah bagi kita untuk melakukan sesuatu yang melanggar atau pun merugikan individu lainnya. Seperti diskriminasi ataupun membuat suatu golongan merasa minoritas.

Lalu bagaimana lingkungan masyarakat mengubah konstruksi maskulinitas yang sudah melekat?

  1. Tanamkan nilai-nilai adil gender oleh orang tua kepada anak sejak dini.
  2. Adakan kajian agama terkait ideologi maupun hukum tentang peran sosial.
  3. Berikan sosialisasi atau edukasi mengenai realitas gender secara adil.
  4. Bangun media yang baik dalam mengkontruksi kesetaraan gender.
  5. Mengimplementasikan nilai nilai pancasila dalam berkehidupan.

Diharapkan masyarakat mampu berpikiran terbuka dan berwawasan luas sehingga hal-hal yang dianggap tabu bukan dijadikan standar toxic masculinity. Sebelum mengatakan sesuatu sebaiknya kita berfikir dulu agar apa yang kita katakan tidak menyakiti hati orang lain.

Hal yang bersifat membangun dan positif dari toxic masculity bisa dijadikan pembelajaran untuk membangun pribadi yang lebih baik kedepannya. Misalnya ketika laki laki dianggap lemah dalam hal berolahraga setelah menjadi korban toxic akan menjadi semangat berolahraga dan menjaga tubuh agar tetap vit san sehat.

Baca Juga: Makna Keindonesiaan dan Transformasi Kepemimpinan Bangsa

Namun ada pula dari adanya toxic masculinity ini seseorang menjadi tidak percaya diri bahkan dapat berpengaruh pada kesehetan mental seseorang dan menjadikan ini berbahaya terhadap individu yang dialaminya.

Pancasila dapat dijadikan solusi alternatif untuk kita bisa saling menghargai, menghormati, peduli juga bersikap adil terhadap sesama manusia lainnya. Dan peran masyarakat untuk mengubah kontruksi maskulinitas yang sudah melekat tentu diperlukan. Agar tidak ada individu yang merasa dirugikan karena stereotip yang ada juga dapat tercipta lingkungan yang damai.

Penulis: Clara Felicia Mahasti, Ali Ismail Shaleh, Fiko Novianto, Silvia Melinda Oktaviani, Indah Nur Rohmatika, dan Meiliana Insan Soleha. (Alumni pelatihan #PancasilaLahirBatin yang diselenggarakan oleh PSBPS UMS bekerjasama dengan LPIDB UMS pada 25-28 Agustus 2020).

Terkait

Tags: DiskriminasiGenderKeragamanminoritas
Previous Post

Pancasila dalam Keberagaman Berbangsa dan Bertanah Air

Next Post

Ragam dalam Serikat

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Berbeda Untuk Saling Menghormati

Ragam dalam Serikat

Comments 1

  1. Ani says:
    6 tahun ago

    Suka banget sama tulisan ini. Masyarakat memang masih kurang paham mengenai kesetaraan gender, perlu edukasi.

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.