Jika antum berpikir bahwa masjid adalah tempat teraman dari beraneka penyakit dan virus, maka ambil satu saja penderita suspect cofid-19 di rumah sakit atau yang sedang menjalani isolasi di rumah-rumah bawa dan ajak shalat jamaah ke masjid biar disembuhkan.
baca juga: Ki Bagus: Kecewa, namun Tetap Setia
Kenapa antum tak katakan: ‘aku berlindung kepada masker dari serangan virus cofid-19. Bukankah antum berlindung hanya kepada Allah sahaja? tidak takut corona hanya takut Allah. Sekilas benar tapi munkar.
Kelihatannya membangun tapi merusak. Kelihatannya memakmurkan masjid, taat tapi egois tak peduli pada sesama dan justru membahayakan keselamatan jamaah lainya. Seorang yang jelas merasa sakit (menderita penyakit menular) tapi sengaja ke masjid maka dia telah zalim, karena membahayakan jiwa jamaah lainya. Ngakunya hanya takut pada Allah tapi di perempatan jalan, patuh juga sama lampu bangjo (traffic light). Paradoks.
Allah berfirman: ‘Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar”. (QS. Al-Baqarah: 11-12)
Sejak kapan seorang ustadz, kyai, atau marbot masjid menjadi ahli kesehatan spesialis corona? Kemudian berhak menentukan seseorang jamaah masjid sehat atau tidak? Bukankah segala sesuatu yang diserahkan kepada yang bukan ahlinya pasti rusak binasa. Bukan merendahkan ke-ulama-an tapi ilmu kesehatan sudah pasti bukan bidang ahlinya. Kecuali ada tambahan profesi sebagai tabib atau dukun.
***
Kyai Haji Dr Saad Ibrahim, Ketua PWM Jatim mengatakan: ‘Menyamakan keramaian pasar dengan memakmurkan masjid adalah qiyas munkarat“. Apa karena pasar ramai lantas antum ikutan berpikir ngikut? Apa karena ada orang lain berbuat bathil lantas antum ikutan demikian? Tidak ditutupnya pasar atau mall sebagai alasan untuk tetap membuka masjid adalah qiyas munkar.
Kenapa tidak berikhtiar agar masjid menjadi uswah, semacam teladan bagi masyarakat banyak. Mestinya jamaah Masjid menjadi pelopor amal saleh, pelopor kebajikan di saat terjadi musibah, bukan sebaliknya, disayangkan jika malah ada yang menjadi pelopor pembangkangan dan pengingkaran terhadap fatwa dan anjuran pemerintah dengan berbagai dalih.
Apa kata orang pasar ketika orang masjid mengingkari fatwa ulamanya? Masjid saja buka apalagi pasar. Orang-orang baik di masjid saja membangkang pada ulamanya apalagi orang pasar ?
***
Kyai Fathurahman Kamal Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah menyatakan : Qawlu haqqin aridha bil baathil. Perkataan seolah-olah benar tapi mengajak pada kebatilan. Banyak orang sok tau, sok pintar bahkan sok dekat dengan Tuhan, hilang adab, tuna akhlaq kemudian melawan fatwa para ulama kredibel dari berbagai disiplin ilmu. Anjuran pemerintah dilawan, fatwa ulama dibantah. Saya tak tau lagi, ini orang macam apa? Sekilas benar tapi munkar.
Taat terhadap fatwa ulama bukan taklid, tapi kepatuhan sesuai peran yang dia sandang. Bukankah tidak semua orang memenuhi syarat memberi fatwa. Pun dengan patuh terhadap anjuran pemerintah, bukan soal oposisi politik karena beda pilihan, tapi ini soal bela negara. Menjaga keselamatan jiwa orang banyak, itu jihad.
Pandemi ini akan cepat berakhir jika semua patuh dalam satu komando, tetapi akan menjadi sangat lama dan awet jika masing-masing bergerak sesuai keinginan dan nafsu. Yang tidak patuh pada fatwa ulama dan anjuran pemerintah justru akan memperlama pandemi dan zalim pada orang miskin dan membahayakan keselamatan orang lain. Saya bilang itu zalim meski mengaku taat.
***
Berikhitiar sesuai sunah bukan sembarang berkata. Sunah nabi saw di saat pandemi adalah berpencar (social distancing), tidak mencampur antara yang sehat dengan yang sakit, tidak masuk dan keluar dari tempat wabah.
baca juga: Menyambut Bulan Suci yang Tidak Suci-Suci Amat
Tapi bagaimana jika wabah ini bisa saja menjadi semacam azab bagi umat yang tak patuh pada ulamanya dan warga negara yang terus mbalelo pada pemimpinnya? Wallahu taala a’lm