Pada hari Selasa, 28 April 2020, Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu mengadakan Pengajian Daring. Pengajian Daring ini mengambil tema Ramadhan untuk Peradaban. Salah satu yang menjadi pemantik dalam Pengajian ini adalah Prof. Syafiq Mughni.
Syafiq Mughni mengatakan bahwa Islam pada zaman yang lalu telah memberikan sumbangan penting bagi peradaban dunia, dan ini tidak bisa dihindari. Tetapi, ini menjadi sebuah tantangan untuk mengembalikan spirit Islam yang telah memberikan sumbangan bagi kemajuan dunia. Karena hal itu, Ramadhan menjadi penting. Banyak sekali hikmah yang dapat diambil.
Peradaban Berbasis Spiritualitas
Menurut Syafiq Mughni, Peradaban Islam harus berbasis spiritualitas, tidak hanya bertumpu pada kemajuan duniawiyah. Karena, kemajuan duniawi yang ingin terus mengejar materi akan melahirkan malapetakan bagi dunia. Ada indikasi keserakahan, pemanfaatan, dan eksploitasi sumber daya dengan semena-mena.
baca juga: Runtuhnya Hegemoni
Maka peradaban yang ingin dibangun oleh Islam adalah peradaban yang berbasis tauhid, mengesakan Allah. Maknanya adalah membangun perdadaban yang tidak kering, peradaban yang penuh dengan spirit ilahiyah, dan ini sudah terbukti memberikan sumbangan yang snagat penting.
“Kita sudah belajar banyak bagaimana keserakahan duniawiah melahirkan konflik dan ketegangan antar bangsa, agama, dan kelompok masyarakat”, ujarnya.
Peradaban Islam juga tidak hanya bertumpu pada ilmu pengetahuan sekular. Menurut Muhammad Ali, betapapun akal yang merupakan karunia besar itu, tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada kontrol, harus ada orientasi, akan dibawa kemanakah ilmu pengetahuan dan teknologi ini. Maka bulan ini memberikan spirit bahwa kedekatan kita kepada Allah memberikan makna bahwa spiritualitas menjadi fondasi yang penting bagi peradaban.
Peradaban Kemanusiaan
Syafiq Mughni melanjutkan bahwa ketika kita melihat ajaran Islam, khususnya berkaitan dengan aktivitas ritual, penuh dengan makna kemanusiaan. Maka, kemanusiaan universal merupakan bagian yang sangat penting bagi bangunan peradaban Islam. Kita membayar zakat, memberikan sesuatu untuk fuqoro dan masakin, memberikan buka puasa, itu semua adalah makna kemanusiaan atau insaniyah yang telah dicontohkan oleh nabi.
Banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang menekankan bahwa nilai-nilai kemanusiaan menjadi bagian yang terintegrasi dengan ajaran Islam. Maka, kita tidak boleh melaksanakan ajaran Islam apabila itu justru bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Bukan ajaran agama yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan, tapi pemahaman masyarakat terhadap ajaran agama terkadang menjauhkan diri dari kemanusiaan. Maka, kita akan dicintai oleh Allah ketika kita mencintai manusia.
Menurut Syafiq Mughni, bulan ini juga memberikan pelajaran yang sangat berharga dalam hal demokrasi. Nilai-nilai demokrasi bisa kita lihat dengan jelas ketika kita melaksanakan ibadah mahdhah maupun sosial yang semuanya menjadi ukuran kesuksesan dalam melaksanakan perintah Allah.
Misalnya Islam memberikan sesuatu yang sangat penting dalam institusi ijtihad. Perbedaan-perbedaan yang ada selama bulan ramadhan seperti jumlah rakaat akan menguji semangat demokrasi dan semangat toleransi. Ini akan menguji apakah masyarakat akan mengabaikan atau menghormati orang-orang yang tidak sepemikiran. Maka, prinsip demokrasi atau syuro dalam Islam mengajarkan bahwa kita harus memiliki pendapat sendiri, tidak terombang ambing sekaligus menghargai orang lain yang mempunyai pandangan yang berbeda.
baca juga: Radikalisasi Pancasila Sumbangsih Kuntowijoyo
“Maka prinsip ijtihad saya fikir bisa menjadi sebuah fondasi didalam bangunan peradaban Islam, supaya kita menjadi orang-orang yang menghargai orang lain dan memiliki toleransi. Tentu semangat toleransi tidak berarti kita mentoleransi kebatilan, namun toleransi terhadap perbedaan pemikiran. Perbedaan yang jika kita letakkan dalam kerangka ijtihad, akan memberikan sumbangan yang besar”, tegasnya.
reporter: Yusuf R Yanuri