Oleh: Raissatunnusa Luthifah
Di balik setiap postingan yang membuatmu mendidih, ada seseorang yang sedang tersenyum menghitung engagement. Pernahkah kamu membaca sebuah postingan di media sosial dan tiba-tiba merasakan darah naik ke kepala? Tanpa disadari, jari sudah mengetik komentar panjang, atau menekan tombol bagikan sambil menulis caption yang penuh emosi. Selamat, kamu baru saja menjadi korban ragebait.
Ragebait adalah konten yang sengaja dirancang untuk memancing kemarahan. Bukan karena sang kreator peduli pada isu yang diangkat, melainkan karena kemarahan adalah bahan bakar paling efisien di mesin algoritma media sosial. Semakin banyak orang marah, semakin banyak komentar, semakin besar jangkauan, dan semakin tebal kantong si pembuat konten.
Kenapa marah itu menguntungkan?
Platform media sosial dibangun diatas satu prinsip sederhana, yaitu waktu yang kamu habiskan disana adalah uang bagi mereka. Algoritma dirancang untuk memprioritaskan konten yang memicu interaksi tinggi dan tidak ada emosi yang lebih cepat memicu interaksi daripada kemarahan.
Sebuah studi dari Massachussets Institute of Technology (MIT) yang diterbitkan di jurnal Science pada Maret 2018 menemukan bahwa berita bohong (hoaks) menyebar lebih jauh, lebih cepat, lebih dalam, dan lebih luas daripada kebenaran, sebagian besar karena berita bohong lebih sering memancing respon emosional yang kuat. Ragebait bekerja dengan prinsip serupa. Konten yang membuatmu marah akan kamu komentari, kamu bagikan, dan kamu bahas bahkan saat kamu sedang mengkritiknya.
“Kamu tidak perlu menyukai sebuah konten untuk membuatnya viral. Kemarahanmu sudah cukup”. Inilah paradoks ragebait yang paling menyebalkan. Semakin keras kamu menentangnya, semakin besar jangkauannya. Komentar bernada marah tetap terhitung sebagai komentar. Share disertai kata “konten sampah!” tetap terhitung sebagai share.
Ragebait hadir dalam banyak bentuk, dan sebagian besar sangat halus. Ada opini kontroversial yang sengaja dibuat setengah matang, cukup provokatif untuk diperdebatkan, tetapi tidak cukup jelas untuk diselesaikan. Ada pernyataan yang menyederhanakan isu kompleks menjadi hitam-putih, memaksa orang memilih kubu dan saling serang.
Ada pula ragebait berbasis identitas, yaitu konten yang menyerang kelompok tertentu berdasarkan gender, profesi, generasi, atau gaya hidup. Hal ini dimunculkan agar anggota kelompok tersebut bereaksi defensif. “Semua ibu rumah tangga tidak produktif”, “Generasi Z terlalu manja”, “Orang yang tidak baca buku itu dangkal”, ini merupakan formula klasik yang bekerja tanpa gagal.
Batas Tipis antara Strategi dan Manipulasi
Sebagian kreator berargumen bahwa ragebait hanyalah “strategi konten yang agresif”. Mereka berdalih bahwa memancing emosi adalah bagian dari storytelling, bahwa konten yang baik memang harus menyentuh sesuatu dalam diri audiens, termasuk rasa tidak nyaman.
Argumen ini tidak sepenuhnya salah, tapi sangat mudah disalahgunakan. Ada perbedaan mendasar antara konten yang memancing emosi karena topiknya memang penting dan perlu diperhatikan, dengan konten yang sengaja memanipulasi emosi demi keuntungan pribadi tanpa peduli dampaknya.
Jurnalisme investigatif yang membuat publik marah pada korupsi adalah hal yang berbeda dengan postingan yang menyudutkan kelompok tertentu hanya demi ratusan komentar. Yang pertama menggunakan kemarahan sebagai alat untuk perubahan. Yang kedua menggunakan kemarahan sebagai produk untuk dijual ke pengiklan.
Dampak yang Tak Nampak
Masalahnya tidak berhenti di layar. Penelitian di bidang psikologi digital menunjukkan bahwa paparan berulang terhadap konten yang memancing kemarahan meningkatkan kecemasan, menurunkan kemampuan berpikir kritis, dan memperkuat polarisasi. Orang yang sering terpapar ragebait cenderung melihat dunia sebagai tempat yang lebih berbahaya dan penuh konflik daripada yang sebenarnya.
Pada skala masyarakat, ragebait berkontribusi pada fragmentasi sosial. Ketika algoritma terus menyuapi kita konten yang memancing kemarahan terhadap “kubu lain”, jarak antar kelompok semakin melebar, bukan karena perbedaan nilai yang sesungguhnya, melainkan karena kita terus-menerus diperlihatkan versi paling ekstrem dari kelompok tersebut.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Solusi terbaik bukan mematikan emosi, melainkan melatihnya. Sebelum berkomentar atau membagikan konten yang membuatmu marah, tanyakan pada diri kita, apakah postingan ini menawarkan sesuatu yang substantif, atau hanya memancing reaksi? Siapa yang diuntungkan jika aku bereaksi?
Kesadaran saja tidak cukup mengubah sistem, tapi cukup untuk memulai. Ketika kita berhenti menjadi bahan bakar bagi mesin ragebait, kita memaksa algoritma dan para kreatornya untuk mencari cara lain mendapat perhatian. Cara yang mungkin, sedikit lebih, menghargai kecerdasan kita. Kemarahan itu valid. Pertanyaannya, apakah kamu memilih kapan dan untuk apa kamu marah, atau membiarkan orang lain yang memilihkan untukmu?
Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir