Oleh: Chikmatul Auliya
Dalam kehidupan remaja, sahabat bukan sekadar teman berbagi cerita, tetapi juga menjadi cermin kepribadian dan arah kehidupan. Tidak jarang, keputusan, kebiasaan, bahkan nilai hidup seseorang dipengaruhi oleh lingkaran pertemanannya (Pakeh, t.t.).
Menaggapi hal itu, Islam melalui Al-Qur’an memberikan panduan yang sangat jelas tentang bagaimana memilih sahabat yang baik agar tercipta hubungan yang sehat dan membawa kebaikan dunia maupun akhirat.
Al-Qur’an menegaskan bahwa persahabatan bukanlah sesuatu yang netral. Ia bisa menjadi jalan menuju kebaikan atau justru sebaliknya. Dalam QS. Az-Zukhruf ayat 67 disebutkan bahwa “Teman-teman akrab pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain kecuali orang-orang yang bertakwa”.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa tidak semua persahabatan bernilai positif di sisi Allah. Hanya persahabatan yang dilandasi ketakwaan yang akan bertahan hingga akhirat (Siregar dkk., t.t.).
Hal ini sangat relevan dengan realitas remaja saat ini. Banyak yang memilih teman berdasarkan kesamaan hobi, trend, atau bahkan popularitas, tanpa mempertimbangkan nilai moral dan spiritual. Padahal, dalam perspektif Al-Qur’an, sahabat yang baik adalah mereka yang mampu mengingatkan dalam kebaikan, bukan sekadar menemani dalam kesenangan.
Selanjutnya, dalam QS. At-Taubah ayat 119 Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang jujur”.
Ayat tersebut memberikan kriteria penting dalam memilih sahabat, yaitu kejujuran. Kejujuran bukan hanya dalam ucapan, tetapi juga dalam sikap dan niat. Sahabat yang jujur akan berani menegur ketika kita salah dan tidak membiarkan kita terjerumus dalam keburukan (Rahmi dkk., 2026).
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat contoh sederhana. Misalnya, ketika seorang remaja diajak bolos sekolah atau melakukan hal yang melanggar aturan, sahabat yang baik akan menolak dan bahkan mengingatkan.
Sebaliknya, sahabat yang buruk justru mendukung bahkan mendorong perilaku negatif tersebut. Dari sini terlihat bahwa sahabat memiliki peran besar dalam membentuk karakter.
Lebih jauh lagi, Al-Qur’an juga menggambarkan penyesalan seseorang akibat salah memilih teman. Dalam QS. Al-Furqan ayat 27–29 diceritakan bagaimana seseorang menyesal karena menjadikan orang yang menyesatkannya sebagai sahabat. Ia berkata, “Wahai celakalah aku, sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku.” Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa kesalahan dalam memilih sahabat bisa berdampak sangat besar, bahkan hingga akhirat (Nurrohim, 2019).
Dari ayat-ayat tersebut, dapat disimpulkan beberapa prinsip dalam memilih sahabat menurut Al-Qur’an. Pertama, memilih sahabat yang memiliki nilai ketakwaan. Ketakwaan menjadi fondasi utama karena dari situlah lahir sikap-sikap positif seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian.
Kedua, memilih sahabat yang jujur dan dapat dipercaya. Kejujuran akan menciptakan hubungan yang sehat dan saling mendukung.
Ketiga, menghindari sahabat yang membawa kepada keburukan, meskipun terlihat menyenangkan secara duniawi (Amin, 2022).
Dalam konteks remaja, tantangan memilih sahabat semakin kompleks, terutama dengan adanya media sosial. Banyak pertemanan yang terbentuk secara instan tanpa benar-benar mengenal karakter seseorang.
Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk lebih selektif dan tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang negatif (Aulia dkk., 2024).
Sebagai contoh, seorang remaja yang berada dalam lingkungan pertemanan yang gemar belajar dan aktif dalam kegiatan positif cenderung memiliki motivasi yang tinggi untuk berkembang.
Sebaliknya, jika ia berada dalam lingkungan yang cenderung malas dan tidak produktif, maka kemungkinan besar ia akan ikut terpengaruh. Hal ini sejalan dengan konsep dalam Al-Qur’an bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungannya) (Nurrohim, 2019).
Selain itu, sahabat yang baik juga akan memberikan dukungan emosional dan spiritual. Mereka tidak hanya hadir saat senang, tetapi juga saat sulit. Mereka mengingatkan untuk tetap sabar, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Allah. Persahabatan seperti inilah yang disebut sebagai persahabatan yang sehat dalam Islam (Siregar dkk., t.t.).
Namun demikian, memilih sahabat bukan berarti harus mencari yang sempurna. Setiap manusia memiliki kekurangan. Yang terpenting adalah adanya komitmen bersama untuk saling memperbaiki diri dan berjalan di jalan kebaikan. Dalam hal ini, persahabatan menjadi sarana untuk saling menasihati dan menguatkan (Pakeh, t.t.).
Penting juga untuk memahami bahwa kualitas persahabatan tidak ditentukan oleh seberapa lama hubungan itu terjalin, melainkan oleh seberapa besar dampak positif yang diberikan satu sama lain.
Dalam perspektif Islam, waktu bukanlah ukuran utama, tetapi nilai dan arah hubungan tersebut. Sahabat yang baru dikenal namun mampu membawa kita lebih dekat kepada kebaikan tentu lebih berharga dibandingkan sahabat lama yang justru menjauhkan dari nilai-nilai kebenaran. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan substansi hubungan daripada sekadar formalitas atau kebiasaan sosial (Amin, 2022).
Disisi lain, remaja juga perlu memiliki keberanian untuk menjaga batas dalam pertemanan. Tidak semua ajakan harus diikuti, dan tidak semua lingkungan harus dipertahankan.
Terkadang, menjauh dari lingkungan yang tidak sehat adalah keputusan yang sulit tetapi sangat diperlukan. Al-Qur’an telah memberikan gambaran bahwa mengikuti lingkungan yang salah hanya akan membawa penyesalan di kemudian hari.
Oleh karena itu, kemampuan untuk berkata “tidak” terhadap hal-hal yang bertentangan dengan nilai kebaikan merupakan bagian penting dari kedewasaan dalam bersosialisasi (Amin, 2022).
Pada akhirnya, memilih sahabat adalah investasi jangka panjang. Dampaknya tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga di akhirat. Oleh karena itu, penting bagi setiap remaja untuk lebih bijak dalam menentukan dengan siapa mereka bergaul. Jangan sampai penyesalan datang di kemudian hari karena salah memilih teman (Setyoningrum, t.t.).
Sebagaimana pesan Al-Qur’an, persahabatan sejati adalah yang membawa kita lebih dekat kepada Allah, bukan sebaliknya. Dengan memilih sahabat yang tepat, kita tidak hanya mendapatkan kebahagiaan dunia, tetapi juga keselamatan di akhirat.
Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir