“Kebohongan yang diulang-ulang akan dianggap sebagai kebenaran’” Begitu kira-kira prisip utama dari teknik yang sengaja digunakan oleh Joseph Goebbels untuk melakukan propaganda Nazi dan populer dengan sebutan ‘Big Lies’. Teknik ini secara tidak langsung bekerja dengan baik di era internet lewat hoaks yang entah disengaja atau tidak. Efek destruktif teknik ini semakin besar terlebih berkaitan dengan covid-19.
Banyak orang yang awalnya waspada terhadap covid-19, lama-lama menganggap bahwa bahwa covid-19 hanyalah rekayasa karena hoaks yang semakin banyak disebarkan di sosial media.
Pola Impor Hoaks dan Disinformasi
Entah sengaja atau tidak dalam menyebarkan hoaks dan disinformasi seputar covid-19, nyatanya hal tersebut menghasilkan dampak cukup serius di masyarakat.
Awalnya saya menganggap bahwa penyebar hoaks dan disinformasi di lingkungan saya adalah mereka para orang tua, sebagaimana sering terjadi di whatssap grup keluarga di kota-kota.
Namun, dugaan saya ternyata tidak sepenuhnya benar. Orang-orang tua di lingkungan saya bukanlah orang tua yang melek teknologi. Bahkan lebih banyak yang tidak punya smartphone dibanding mereka yang punya.
Lantas bagaimana misinformasi dan disinformasi ini menyebar di lingkungan saya, dari yang awalnya hanya di sosial media, mendadak popular dan dipercayai di dunia nyata?
Ada pola unik di kampung tempat saya tinggal, yakni disinformasi dan hoaks di impor dari dunia maya ke dunia nyata oleh pemuda-pemudi usia 20-35an tahun.
Informasi tersebut kemudian diobrolkan di warung kopi dan warung sayur. Saya menyaksikan fenomena ini setiap hari, mengingat keluarga saya memiliki usaha dagang sayuran di rumah. Banyak orang yang datang untuk berbelanja sekaligus berbagi informasi tentang covid-19 tanpa data yang valid.
Tak ayal, informasi tentang vaksin tertanam microchip, vaksin itu membunuh, rumah sakit sengaja mengovidkan pasien, hingga orang yang meninggal akibat covid disebut hanya karena mereka terserang komplikasi penyakit lain, padahal almarhum memang tertular covid dan memiliki kormobid. Melenggang di percakapan sehari-hari dan semakin dipercayai banyak orang.
Hal tersebut beimbas pada minimnya minat vaksinasi di kampung saya. Kalau saya tanya kebanyakan menjawab “takut mati”, atau “alah… vaksin bikin banyak orang mati”.
Membaca Kegagalan Model Pendidikan di Masa lalu
Sebagai seorang yang mempelajari tentang Pendidikan, ketika melihat fenomena semacam itu, pikiran saya melayang pada masa di mana saya duduk di kelas tengah mendengarkan salah seorang dosen saya membahas tentang fenomena pendidikan di Indonesia yang masih mengadopsi gaya yang dinamai oleh Paulo Freire dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Kaum Tertindas sebagai ‘gaya bank’.
Salah satu ciri Pendidikan gaya ini adalah siswa diibaratkan celengan di mana guru dan tentunya sistem Pendidikan yang ada di belakangnya hanya memasukkan pengetahuan saja, tanpa membekali siswa dengan kemampuan untuk berfikir kritis.
Hal tersebut berimbas pada siswa yang kemudia fokus mengumpulkan pengetahuan, namun kurang bisa memproses informasi itu dengan kritis (mempertanyakan ulang, atau membandingkan data). Ini berakibat pada lemahnya sitem filter dalam diri terhadap informasi yang mendatanginya.
Ini yang terjadi dalam pola penyebaran hoaks di lingkungan saya. Beberapa pemuda dan pemudi yang saya maksud ikut terlibat dalam meneruskan misinformasi dan disinformasi tentang corona ini rata-rata telah menyelesaikan pendidikannya hingga SMA.
Apabila sudah menempuh Pendidikan sampai sekolah tingkat atas, mengapa masih berpartisipasi dalam menyebarkan hoaks tentang vaksin? Bukankah mereka telah mendapatkan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang di dalamnya mencakup biologi sejak di jenjang dasar?
Saya melihat fenomena ini salah satunya disebabkan karena dulu ketika itu sekolah kurikulum berfokus pada mengumpulkan pengatahuan sebanyak-banyaknya (KTSP dan pendahulunya misal) tanpa tanpa adanya bekal kemampuan fundamental yang cukup.
Saya ingat betul bahwa saya lebih banyak menghafal banyak materi tentang virus. Namun saya tidak benar-benar paham konsepnya, bagaimana ia menular, apa sebabnya, dan bagaimana cara mencegahnya. Apalagi di uji dengan assessment yang mampu mendeteksi saya sebagai murid bisa menangkap konsepnya atau tidak.
Hal tersebut bisa jadi karena memang model buku teksnya yang hanya bentuk narasi dan poin-poin, cara guru menyampaikan atau karena kondisi saya sebagai siswa yang tidak siap menerima pembelajaran.
Maka tak heran, bila anak-anak yang belajar dengan cara seperti itu menjadi pengumpul informasi yang baik, namun kurang bisa memprosesnya dengan bijaksana, seperti dengan membandingkan data, dan melakukan konfirmasi terhadap informasi tersebut.
Untuk itulah beberapa orang terfokus mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang covid-19, terlepas itu benar atau salah, hoaks atau tidak, lalu menyebarkannya. tanpa mengalkulasi eksternalitasnya berupa semakin tersebarnya misinformasi dan disinformasi apabila mereka menyampaikannya pada orang lain.
Membaca Pendidikan Saat Ini: Kritik untuk Saya dan Teman Sejawat
Sekarang, saya melihat sudah mulai ada perubahan positif dalam dunia Pendidikan di Indonesia, terlebih setelah kurikulum 2013 hadir. Ya.. meskipun saya paham, masih banyak kurangnya dan tentunya masih perlu penyempurnaan.
Namun, apakah masalah selesai saat kurikulum diubah? Tentu tidak seinstan itu.
Saya pernah mengajar baik di sekolah maupun mengajar les privat, yang masih saya sering temui adalah materi dan desain penyampaiannya sebagaimana tertuang dalam buku teks pelajaran sudah lumayan bagus. Namun implementasi oleh pendidiknya masih kurang.
Mungkin karena Sebagian besar dari pendidik ini, termasuk saya masih mewarisi gaya mengajar dengan keinginan menjejalkan pengetahuan bagi anak. Namun kurang memperhatikan bagaiamana materi pembelajaran itu disampaikan dengan pendekatan saintifik. Sehingga tidak hanya pengetahuan yang tersampaikan tapi juga anak menguasai logika berfikir yang aplikatif. Bukan hanya sekadar teori.
Di era di mana segala informasi gembruduk mendatangi kita, bukan lagi kita yang harus susah-susah mecarinya, basic thinking skill sangat penting. itu diperlukan agar kita bisa memfilter informasi yang didapat. Bisa jadi informasi yang sama diterjemahkan dengan berbeda oleh orang yang berbeda, karena dalam pemprosesannya informasi dipengaruhi oleh kapital berupa pengetahuan dan kemampuan menganalisis.
Editor : Irawan