Seorang ‘ulama menjadi guru penting di setiap umat Islam. Panutan serta populitasnya menjadi Negara menjadi kecerahan untuk memulai peradaban manusia. Aspek kehidupan serta keilmuan tak mungkin ragu dengan pengalamannya sebagai pengajar teladan. Bukan tidak mungkin kesehariannya menjadi pengaruh besarnya dalam mendakwahkan agama. Salah satunya sosok Quraish Shihab.
Ramah serta kewibaan dalam menghadapi rintangan adalah sebuah harga mati dalam mempertahankan ilmu dan pengetahuan dalam hikmah kehidupan. Jarang seseorang melakukan hal yang bisa dikatakan “tidak mungkin” untuk mendapat gelar sebagai ‘ulama. Butuh proses yang panjang untuk menemukan jati dirinya dalam pelajaran berharga Islam.
Manusia tidak dituntut untuk bisa menjadi orang hebat layaknya “kyiai” sebagai tokoh agama didalam daerahnya, akan tetapi diwajibkan untuk terus belajar agar bisa menghilangkan kebodohannya dalam menyikapi persoalan hidup. Sebuah hal yang menjadi titik berat untuk menjalankan amanahnya sebagai para pecinta ilmu dunia maupun akherat. Ini membuat manusia berbondong-bondong agar mendapatkan martabatnya sebagai pelaku kehebatan sepak terjangnya.
Mengenal Abi Quraish
Namun banyak ‘ulama yang siap mengambil resiko buruk terhadap masyarakatnya yang dianggap tidak penting dalam urusan agama. Dan membuat seseorang yang tahu jalan arah kebaikan dan keburukan yang masih minim dilakukan. Tapi bukan berarti ‘ulama tak bisa berbuat apa-apa dalam mengambil kesikapannya untuk berbuat andil dalam masyarakat.
Banyak ‘ulama yang hanya membaca tanpa melihat langsung tanpa sebab. Salah satunya Qurais Shihab yang tak banyak memberikan kontribusi ke masyarakat Indonesia, bahkan diakui dunia sebagai ‘ulama yang berpengaruh. Mari kita pelajari bersama untuk mendalami sifat-sifat dan keilmuan beliau.
Quraish Shihab lahir di Rapang, Sulawesi Selatan, pada 16 Pebruari 1944. Dia adalah anak dari Abdurrahman Shihab (1905-1986) seorang ulama besar keturunan Arab. sekaligus pakar tafsir yang telah diakui oleh masyarakat sekitarnya. Masa kecil M. Quraish Shihab dihabiskan di lingkungan keluarga sangat religius.
Hal ini sebagaimana pernyataan Ishlah Gusmian dalam salah satu karyanya.
Ia berasal dari keturunan keluarga arab Qurais- bugis yang merupakan keturunan Rasulullah saw dari marga shihab. Seharusnya ia berhak mendapatkan gelar “Habib” karena dinilai sudah memenuhi syarat nasabnya dan keilmuan, akan tetapi ia menolak dengan tegas. Selama itupun ia hanya mengajarkannya. Sebuah kehormatan yang tak ternilai harganya.
Sepak Terjangnya
Shihab kecil memulai dunia pendidikannya bersama ayahnya untuk menjalani pergumulan dan kecintaan terhadap al-Qur’an. Pada umur 6-7 tahu. ia harus mengikuti pengajian al-Qur’an yang diadakan oleh ayahnya sendiri. Pada waktu itu, selain menyuruh membaca al-Qur’an, ayahnya yang menguraikan kisah-kisah dalam al-Qur’an. Di sinilah menurut M. Quraish Shihab, benih-benih kecintaannya terhadap al-Qur’an mulai tumbuh.
Sebagai putra dari seorang ulama besar, M. Quraish Shihab mendapatkan pendidikan yang baik dan besar dalam lingkungan keluarga sekaligus lingkungan formal. Untuk pendidikan formal, Sekolah Dasar –Sekolah Rakyat– ia selesaikan di tanah kelahirannya, Ujung Pandang. Dalam menyelesaikan pendidikan pertama yang berbasis keluarga, banyak bidang agama yang diajarkan oleh orang tuanya.
Artinya, tidak hanya pendidikan dalam bidang al-Qur`an yang ia dapatkan, namun lebih luas lagi berbagai disiplin pengetahuan agama, misalnya Akidah (Tauhid), Akhlak (Etika), Fiqh, serta Hadits. Quraish Shihab juga tidak terlepas dari pendidikan formal.
baca juga Haedar Nashir: Tiga Faktor Perpecahan Umat Islam
Sekolah dasar dengan nama sekolah rakyat-lah yang menjadi pendidikan formal pertama dikehidupan Muhammad Quraish Shihab. Namun, diantara pengaruh pendidikan formal maupun pendidikan keluarga. Ada dua tokoh yang memberikan pengaruh begitu besar dalam kehidupan intelektual M. Quraish Shihab selain dari orang tuanya, yaitu: Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bil Faqih, dan Syekh Abdul Halim Mahmud.
Tak sangka jika kedua guru ini menjadi pengaruh terbesarnya dalam menimba ilmu agama maupun pesantren. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Makassar (dulu Ujung Pandang), Quraish Shihab melanjutkan pendidikan menengahnya di Malang, sambil “nyantri” kepada Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bil Faqih (wafat di Malang tahun 1962, pada usia 65 tahun) di Pondok Pesantren Darul-Hadits AlFaqihiyyah.
Bimbingan langsung yang diberikan al-Habib menjadikan hubungan yang terjalin antara M. Quraish Shihab dengan al-Habib begitu erat. “Hubungan penulis dengan al-Habib terasa masih terjalin hingga kini, bukan saja dengan do’a yang penulis panjatkan buat beliau –hampir– setiap selesai shalat, atau setiap melintas di pekuburan dekat rumah penulis, tetapi juga dengan “kehadiran” beliau setiap penulis merasakan keresahan atau kesulitan. Tidak berlebihan jika penulis katakan bahwa masa sekitar dua tahun penulis dalam asuhan beliau, sungguh lebih berarti dari belasan tahun”. (M. Quraish Shihab, logika agama hal 22).
Petualang ke Mesir
Melihat bakat bahasa arab yang dimilikinya, dan ketekunannya untuk mendalami studi keislaman, Quraish Shihab beserta adiknya (Alwi Shihab) dikirim oleh ayahnya ke Al-Azhar Cairo. Mereka berangkat ke Kairo pada 1958, saat usianya baru 14 tahun, dan diterima di kelas dua I’dadiyah Al Azhar (setingkat SMP/Tsanawiyah di Indonesia). Pada 1967, dia meraih gelar Lc (S-1) pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Hadis Universitas Al-Azhar. Kemudian dia melanjutkan pendidikannya di fakultas yang sama, dan pada 1969 meraih gelar MA. Untuk spesialisasi bidang Tafsir Al-Quran dengan tesis berjudul “al-I’jaz at-Tasryri’i Al-Qur’an Al-Karim (Kemukjizatan Al-Qur’an Al-Karim dari Segi Hukum)”.
Disamping pendidikan formal, ia banyak mendapatkan pendidikan luar (non formal) dari guru-gurunya (para syekh), yaitu ulama-ulama di Universitas al-Azhar khususnya, dan ulama ulama Mesir umumnya, satu diantara beberapa ulama yang menempati hati, pemikiran, dan kehidupan M.Quraish Shihab adalah Syekh Abdul Halim Mahmud. Sekembalinya ke Makassar, Quraish Shihab dipercaya untuk menjabat Wakil Rektor bidang Akademis dan Kemahasiswaan pada IAIN Alauddin. Ia juga terpilih sebagai Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Wilayah VIII Indonesia Bagian Timur).
Kontribusinya Terhadap Ajaran Islam
Selain dipercayas sebagai pembantu III (bidang akademik) IAIN Alaudin Ujung Pandang. Selain tugas akademik, Quraish Shihab juga tercatat sebagai pembantu pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental. Beliau juga pernah menjabat sebagai ketua MUI, bahkan Mentri Agama pada era Soeharto. Pengaruhnya sangat besar mengingat ia pernah menuliskan buku berjudul “Tafsir Misbah” sebagai penguatan Al-Qur’an untuk bisa memahamkan dengan baik dan benar serta bisa mengamalkan ajaran-ajarannya.