Oleh: Hammam Alghazy
Didalam dunia yang semakin berisik dan sibuk, manusia sering kali kehilangan arah pulang. Kita terbiasa mengejar banyak hal; pekerjaan, pencapaian, perhatian, dan bahkan cinta namun lupa bahwa di balik kesibukan itu, ada satu hal yang selalu menunggu dengan setia. Ia tak pernah menuntut suatu apapun, tak pernah lelah memanggil, dan tak pernah kecewa meski sering diabaikan. Ia adalah Allah, yang memanggil dan menunggumu lima kali dalam sehari.
Panggilan itu datang melalui adzan, dengan suara yang lembut, indah, merdu namun penuh kekuatan.
“Hayya ‘alas-shala…” marilah menuju sholat.
Itu bukan sekadar panggilan kewajiban, tapi ajakan untuk pulang. Sebuah panggilan yang ditujukan kepada hati yang mulai letih, pikiran yang penat, dan jiwa yang kehilangan ketenangan. Lima kali sehari Allah memberikan waktu khusus agar kita berhenti sejenak, menundukan kepala, dan mengingat siapa sebenarnya tujuan dari semua langkah kita.
Namun seringkali, kita justru menunda-nunda. Berkata “sebentar lagi”, atau “nanti saja”, seolah waktu akan menunggu kita. Padahal, setiap azan adalah kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali. Tapi Allah, dengan kasih-Nya yang tak terbatas, tetap memanggil. Ia tidak marah, tidak menutup pintu, hanya menunggu dengan kesabaran yang tak dimiliki siapapun.
Coba renungkan sejenak.
Tidak ada manusia yang ingin menemuimu sesering itu. Bahkan keluarga, sahabat, atau kekasih yang paling mencintaimu pun tidak memanggilmu lima kali sehari.
Tapi Allah melakukannya.
Ia memanggilmu bukan karena membutuhkanmu, melainkan karena Ia tahu, kaulah yang sebenarnya butuh bertemu dengan-Nya. Dalam setiap ruku, dan sujudmu ada ketenangan yang dunia tak mampu berikan. Dalam setiap takbir, ada penyerahan yang membuat hati kembali utuh.
Shalat bukan hanya kewajiban, melainkan pertemuan.
Sebuah ruang tenang, tempat jiwa berbicara tanpa suara. Di sana, kita tak perlu menjelaskan apapun, karena Allah sudah tau semuanya. Ia tau rasa lelah yang tak terlihat, air mata yang jatuh, dan doa yang bahkan belum sempat diucapkan. Lima kali sehari, Ia memanggil agar kita tidak tenggelam di kehidupan yang fana.
Mungkin disitulah letak keindahan sholat. Ia tidak hanya menyelamatkan iman, tapi menenangkan batin.
Setiap kali kamu datang, Allah menyambutmu tanpa menyinggung masa lalumu. Ia tidak berkata “kenapa baru datang?” Ia memelukmu lewat kedamaian yang turun perlahan ke hati. Betapa indah cinta yang tak pernah menuntut balasan, tetapi selalu memberikan kesempatan untuk kembali.
Dan suatu hari nanti, ketika semua panggilan dunia berhenti, ada suatu pertemuan terakhir yang abadi. Sebuah pertemuan tanpa azan, tanpa jeda, karena kita telah benar-benar pulang. Semoga kita menjadi orang yang tidak hanya mendengar panggilan itu, tetapi juga menjawabnya dengan hati yang rindu untuk bertemu.
Di balik panggilan yang terus datang itu, ada pesan lembut yang seringkali luput kita rasakan. Allah tidak hanya menginginkan kita untuk berdiri, rukuk, dan sujud; tetapi Ia ingin kita merasakan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri. Dunia ini bisa menjadi tempat yang melelahkan, penuh persaingan, tuntutan, dan suara-suara yang membuat hati penat. Banyak yang terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi hatinya rapuh di dalam. Sholat adalah momen ketika kita akhirnya boleh jujur kepada diri sendiri, dan jujur kepada Allah.
Di sana, kita bisa meletakkan seluruh beban tanpa takut dihakimi. Kita bisa menangis tanpa harus menjelaskan alasannya. Kita bisa mengadukan apapun, bahkan hal yang paling kecil sekalipun. Dan Allah tidak pernah mengatakan, “masalahmu sepele.” Ia mendengarkan semuanya dengan penuh kasih, seolah hanya kita satu-satunya hamba di dunia. Begitulah besar cinta-Nya.
Setiap manusia pasti pernah merasa tersesat, merasa tidak cukup, atau merasa kehilangan arah. Ada hari-hari ketika hati terasa kosong, pikiran berantakan, dan hidup terasa berjalan tanpa makna. Namun dalam setiap sujud, Allah menghidupkan kembali makna itu. Ia mengembalikan kekuatan yang hilang, dan memberi keberanian untuk menghadapi hari esok. Kadang bukan masalahnya yang berubah, tetapi hati kita yang dibuat lebih kuat.
Itulah mengapa shalat bukan sekadar ritual. Ia adalah penyembuh. Betapa banyak hati yang sembuh bukan oleh obat, tetapi oleh sujud. Betapa banyak jiwa yang kembali tenang bukan karena liburan panjang, tetapi karena berdiri di hadapan Allah meski hanya beberapa menit. Dan betapa banyak manusia yang kembali menemukan dirinya setelah sebelumnya hilang, hanya karena ia menuruti panggilan itu.
Kita sering berharap dipanggil oleh manusia, dipedulikan, dicari, dihubungi. Kita ingin dianggap penting. Tapi terkadang, kita lupa bahwa panggilan yang paling mulia, yang paling tulus, yang paling bernilai, justru datang dari Pencipta kita sendiri. Ia memanggil bukan karena Ia membutuhkan, tetapi karena Ia ingin menyelamatkan kita dari tenggelam dalam kehidupan yang penuh kepalsuan ini.
Maka ketika terdengar azan yang menggema di udara, itu bukan sekadar seruan dari masjid. Itu adalah tanda bahwa Allah masih memberimu kesempatan. Ia masih memanggilmu, masih merindukanmu, masih ingin berbicara denganmu. Dan selama panggilan itu masih terdengar, berarti pintu-Nya masih terbuka lebar. Tidak peduli seberapa jauh langkahmu pernah menyimpang, Allah selalu menyediakan jalan pulang.
Sebab pulang kepada Allah bukan berarti selesai dari beban, tetapi menemukan tempat di mana beban itu tidak lagi terasa berat. Pulang kepada Allah bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi hati yang diberi kekuatan untuk menghadapinya. Dan pulang kepada Allah bukan berarti kamu sempurna, tetapi kamu terus berusaha mendekat, meski dengan langkah kecil.
Semoga setiap panggilan itu menjadi pengingat bahwa kamu dicintai. Bahwa kamu penting. Bahwa ada tempat yang selalu menunggu, tempat yang tidak pernah menolak kedatanganmu. Dan semoga, suatu hari nanti, kita menjawab panggilan itu bukan hanya dengan tubuh, tetapi dengan hati yang benar-benar rindu. Karena pada akhirnya, tidak ada perjalanan yang lebih indah daripada perjalanan pulang menuju Dia yang menciptakan kita.
Editor: Arsy Sekar Kemuning