Oleh: Luthfia Nur Sa’adah (Mahasiswi Ilmu Al Quran dan Tafsir Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Ketenangan jiwa merupakan puncak dari dinamika kejiwaan manusia. Dalam perspektif Islam, ketenangan bukan sekadar kondisi emosional yang stabil, melainkan fondasi bagi lahirnya karakter (khuluq) yang positif. Jiwa yang tenang akan melahirkan perilaku yang baik, sebaliknya, jiwa yang gelisah cenderung menghasilkan tindakan yang tidak terarah dan jauh dari nilai-nilai kebaikan.
Di dalam Islam disampaikan bahwa ketenangan jiwa dapat diperoleh melalui zikrullah (mengingat Allah). Zikir berasal dari bahasa Arab ذَكَرَ-يَذْكُرُ yang memiliki arti menyebut atau mengingat. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) zikir memiliki arti puji-pujian kepada Allah yang diucapkan berulang-ulang atau bahkan dalam bentuk lebih umum seperti mengingat kebesaran Allah dalam hati.
Waktu untuk berzikir sendiri tidak dibatasi, artinya zikir dapat dilakukan sepanjang hari. Namun, terdapat dalil Al-Qur’an yang menunjukkan waktu dianjurkan untuk berzikir yaitu pagi dan sore hari serta setelah selesai melaksanakan sholat.
Disebutkan dalam Al-Qur’an yang diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, bahwasanya zikir dapat mendatangkan ketenangan jiwa:
اَلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَتَطۡمَٮِٕنُّ قُلُوۡبُهُمۡ بِذِكۡرِ اللّٰهِ ؕ اَلَا بِذِكۡرِ اللّٰهِ تَطۡمَٮِٕنُّ الۡقُلُوۡبُ ؕ (٢٨)
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Dalam ilmu bahasa Arab, susunan ayat ini menunjukkan makna hashr (pembatasan), yang berarti bahwa tidak ada jalan lain menuju ketenangan hati kecuali dengan mengingat Allah.
Zikir terbagi menjadi dua bentuk:
- Zikir kepada Dzat Allah, seperti mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.
- Zikir kepada hukum Allah, yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Zikir bukan hanya ritual verbal, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah. Ia memberikan rasa aman, meningkatkan kepercayaan diri, dan menumbuhkan kegembiraan.
Melalui ibadah, zikir, doa, dan melakukan segala sesuatu dengan niat yang ikhlas untuk meraih keridhaan-Nya, maka seseorang memiliki hubungan yang sangat erat dengan Allah sebagai Tuhannya.
Seseorang akan mendapatkan ketenangan ketika ia merasa selalu diawasi oleh Allah dan menyadari bahwa setiap langkah dan usaha yang ia lakukan berada dalam lindungan-Nya. Dalam konteks ini, ketenangan jiwa tercapai ketika seseorang menjalankan perintah Allah dengan penuh keyakinan bahwa Allah selalu mendengarkan doa dan permohonan mereka (Annantya Tri Angga Putu Salamun, Ainur Rhain, 2025: 4124).
Doa dalam Islam bukan sekadar permohonan, tetapi juga bentuk pujian dan ibadah. Doa berasal dari bahasa Arab دَعَا-يَدْعُوْ yang memiliki arti memanggil, menyeru, memohon dan berdoa. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) doa memiliki arti permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan. Di antara waktu mustajab untuk berdoa adalah sepertiga malam, ketika sahur, menjelang berbuka, hari Jumat, antara azan dan ikamah, ketika turun hujan, malam Lailatulqadar, dan hari Arafah.
Ibnu Katsir menafsirkan kata doa dalam beberapa makna, seperti ibadah, memanggil, berzikir, meminta, perkataan, dan azan. Doa Nabi Zakariya dalam Al Quran surat Maryam ayat 3 mengandung beberapa makna yaitu berdoa sebagai bentuk ibadah kepada Allah, doa cukup dilakukan dengan ucapan yang lirih, berzikir dalam setiap doa, terus-menerus dan tidak putus asa dalam berdoa, juga berkeyakinan bahwasanya doa pasti dibuat kabul oleh Allah.
وَاِذَا سَاَلَـكَ عِبَادِىۡ عَنِّىۡ فَاِنِّىۡ قَرِيۡبٌؕ اُجِيۡبُ دَعۡوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلۡيَسۡتَجِيۡبُوۡا لِىۡ وَلۡيُؤۡمِنُوۡا بِىۡ لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُوۡنَ (١٨٦)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)
Doa adalah senjata untuk menumbuhkan kesejahteraan emosional dan pandangan positif terhadap kehidupan. Kekuatan doa untuk mengurangi stres dan masalah kesehatan mental sangatlah besar, bukan itu saja: berdoa membantu memperkuat keinginan untuk hidup. Artinya, menurut Samsidar (2020), doa memiliki tiga tujuan yang berkaitan dengan kesehatan mental: menyembuhkan, mencegah, dan mendorong pertumbuhan.
Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitab Shahih-nya, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya suatu ketika Rasulullah ﷺ bersabda,
الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ
“Doa adalah senjata kaum mukminin dan merupakan tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.”
Dalam pandangan psikologi Islam, seseorang dianggap sehat jika jiwanya tenang dan stabil, meskipun ketenangan itu memiliki tingkat dan bentuk yang berbeda-beda. Menurut Ibn Qayyim, manusia yang sempurna (insan kamil) adalah yang seimbang antara ilmu dan amal, serta mampu menyebarkan kebaikan kepada orang lain melalui kata-kata dan sikap yang lembut dan menenangkan.
Berdoa memiliki manfaat untuk menjaga kesehatan mental, sumber penghibur, meningkatkan ketahanan diri, sumber ketenteraman dan ketenangan batin. Berdoa adalah bagian dari proses penyembuhan, doa bukanlah pengganti pengobatan medis akan tetapi dapat menjadi pelengkap yang sangat bermanfaat.
Melalui penerapan nilai-nilai agama melalui ibadah seperti sholat, dzikir, dan pembelajaran agama memberikan ketenangan dan kekuatan spiritual yang diperlukan untuk mengatasi berbagai gangguan mental yang ada (Nurrohim, 2024: 11).
Ketenangan jiwa dalam Islam merupakan fondasi penting bagi lahirnya akhlak yang baik dan kesehatan mental yang stabil. Zikir dan doa adalah dua amalan yang mendekatkan manusia kepada Allah sebagai Rabb Penciptanya dan menjadi jalan menuju ketenteraman jiwa. Zikir mengingatkan manusia akan kehadiran dan kebesaran Allah, sedangkan doa menjadi sarana komunikasi spiritual yang penuh harapan dan keyakinan.
Ketika seseorang menjalankan ibadah dengan niat yang ikhlas dan keyakinan bahwa Allah selalu mendengar dan melindungi, maka ia akan merasakan ketenangan yang mendalam. Spiritualitas yang kuat melalui zikir dan doa tidak hanya memperkuat hubungan dengan Allah sebagai Tuhan, tetapi juga menjadi pelengkap penting dalam menjaga kesehatan mental dan menghadapi tantangan hidup.
Editor: Astyra Gita Kinanti