Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Pentingnya Pendekatan Integrasi-Interkoneksi Al-Qur’an

RedaksiKS by RedaksiKS
Juni 8, 2023
in Tafsir
0
Islam Mengungkap Masa Depan
42
SHARES
246
VIEWS

Pada zaman sekarang, al-Qur’an berperan sebagai kitab suci utama dalam hukum Islam. Kitab ini mengandung hukum dan syariat Islam yang wajib dipatuhi oleh setiap umat Muslim. Selain menjadi sumber hukum utama, al-Qur’an juga memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia salah satunya sebagai sumber pengetahuan, baik pengetahuan umum maupun agama.

Banyak ahli telah menyetujui topik tersebut. Namun ketika seseorang berpikir secara kritis, muncul pertanyaan tentang pembenaran tentang al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan. Dalam hal ini, dibutuhkan pendekatan yang tepat untuk membuktikan bahwa al-Qur’an memang sumber pengetahuan yang berharga, meskipun pandangan non-Muslim tentang hal ini mungkin berbeda.

TulisanTerkait

Pendidikan Karakter ala Luqman al-Hakim

Mengupas Bahasa Langit Secara Membumi

Tafsir atau Opini? Mengapa Kita Tak Boleh Sembarangan Mengartikan Ayat

Secara mendasar, terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan yang tidak terbatas hanya pada pendekatan Integrasi-Interkoneksi. Contohnya adalah Q.S. Al Baqarah [2]: 64 yang menjelaskan tentang sumber ilmu dari fenomena alam.

Selain itu, juga terdapat contoh dari ayat yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. berupa Q.S. Al Alaq [96]: 1. Ayat tersebut menjelaskan tentang pentingnya membaca. Sebagaimana disampaikan oleh KH. Agoes Ali Masyhuri bahwa ayat tersebut telah dibuktikan oleh para peneliti sebagai awal perubahan peradaban manusia. Dalam artian, pengetahuan yang bersumber dari al-Qur’an dapat mengubah keadaan seseorang.

Namun, untuk memahami hal tersebut, pandangan dari sudut pandang Islam tidak dapat memberikan pemahaman yang lebih luas bagi orang non-Muslim tentang peran al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan global. Oleh karena itu, dalam artikel ini, digunakan pendekatan Integrasi-Interkoneksi agar dapat dipahami oleh semua kalangan, termasuk non-Muslim.

Menurut Amin Abdullah dalam jurnalnya, integrasi dapat didefinisikan sebagai penggabungan dua hal atau lebih, sementara interkoneksi adalah menyatukan dua hal atau lebih. Meskipun terkesan sama saja, konsep ini berbeda dalam konteks studi Islam. Integrasi-Interkoneksi berarti menggabungkan ilmu agama Islam dengan ilmu pengetahuan sains-teknologi dan sosial-humaniora.

Sebenarnya, penerapan konsep ini sangat sulit di lakukan. Namun, itu sangat penting untuk mengurangi jarak antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan. Selain itu juga berguna untuk memperkuat kesadaran agama dan pengetahuan. Implementasi integrasi-interkoneksi dapat di lakukan dengan menggabungkan ilmu agama dengan ilmu sains-teknologi atau ilmu sosial-humaniora atau dengan menggabungkan ketiga ilmu tersebut bersama-sama. Dalam hal ini, filsafat juga berperan penting dalam memperkuat fondasi ilmu pengetahuan.

Menurut sebuah jurnal, pada masa dinasti Umayyah, terjadi pembatasan atau pengkhususan dalam bidang ilmu yang kemudian di kembangkan hingga masa dinasti Abbasyiah yang menandakan puncak kemajuan Islam. Saat ini, beberapa ilmuwan Islam seperti Syaikh Muhammad Naquin al-Attas, Fazlur Rahman, Ismail Raji’ al-Faruqi, Seyyed Hossein Nasr, Ziauddin Sardar dan tokoh lain masih terus melakukan upaya pembatasan dalam bidang ilmu tersebut.

Dalam perspektif sejarah, ilmu pengetahuan di dunia sebenarnya telah di kembangkan oleh para ilmuwan Islam dalam berbagai bidang, termasuk ilmu agama, sains dan teknologi, serta sosial-humaniora. Namun, seiring berjalannya waktu, pengembangan ilmu oleh ilmuwan Muslim mulai menurun karena banyak di akui oleh negara-negara Barat. Salah satu contohnya adalah astrolog dan ahli kimia Inggris, Michael Scot, yang belajar sains dan filsafat di universitas Islam dan membawa terjemahan manuskrip Islam ke negaranya.

Meskipun begitu, beberapa orang mungkin masih bertanya-tanya bagaimana para ilmuwan Islam bisa mengembangkan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang. Jawabannya telah di sebutkan sebelumnya, yaitu dengan mempelajari al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan dan dengan pendekatan integrasi dan interkoneksi.

Dengan penjelasan di atas, dapat di ketahui bahwa pembuktian al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan di dunia dapat di analisis dari dua aspek, yakni aspek akademik dan aspek islami. Aspek akademik meliputi pendekatan integrasi-interkoneksi dalam konteks kajian Islam. Sedangkan aspek islami meliputi ayat-ayat al-Qur’an yang telah menjelaskan eksistensi perannya sebagai sumber ilmu pengetahuaan di dunia.

Seiring berkembangnya zaman, pembuktian melalui aspek islami sulit untuk diterima oleh semua kalangan karena agama di dunia bermacam-macam dan tidak mungkin untuk mereka (non-Muslim) mempercayai sesuatu yang berdasarkan kepercayaan Islam. Mereka membutuhkan alasan yang lebih logis untuk diterima. Pendeketan integrasi-interkoneksi adalah alasan logis yang dapat menjawab keraguan orang non-Muslim.

Dari pembahasan artikel ini, dapat di tarik kesimpulan bahwa tidak ada kitab yang mampu menggantikan peran penting al-Qur’an. Dalam salah satu buku cetakan Pesantren Sulaimaniyyah yang berjudul Ilmi Hal menjelaskan bahwa setelah turunnya al-Qur’an ke bumi. Maka hilanglah seluruh hukum yang terdapat pada kitab-kitab sebelumnya, yakni Taurat, Zabur dan Injil.

Seperti yang di ketahui, al-Qur’an sebagai mukjizat Rasulullah saw. adalah sumber dari banyak ilmu pengetahuan di dunia. Selain itu, al-Qur’an juga berperan sebagai petunjuk hidup umat Islam. Kedua peran tersebut saling mendukung karena sesuatu yang menjadi petunjuk atau sumber, maka harus memiliki kualitas yang sempurna. Dengan fakta tersebut, ilmu al-Qur’an membentuk ilmu-ilmu lain dalam proses yang di kenal dengan pendekatan “Integrasi-Interkoneksi”.

Penulis : Muhammad Luqman Hakim Al Qindi (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)

Terkait

Previous Post

Fenomena Tren Joget Tiktok Menurut Al-Qur’an

Next Post

Bijaksana dalam Ketergantungan Media Sosial

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
beretika media sosial

Bijaksana dalam Ketergantungan Media Sosial

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.