Pendidikan Merdeka atau Pendidikan Mencerahkan?

Oleh: Siti Sugiarti

Pendidikan adalah satu-satunya proses yang mampu memberikan penanaman, pembiasaan, dan pembelajaran. Sekaligus memberikan didikan kepada anak-anak kita untuk dapat menggapai kehidupan yang cerah. Kehidupan yang cerah berarti yang anti penindasan, membahagiakan, mencerdaskan dan juga mencerahkan dalam setiap aspek hidupnya.

Seperti yang disampaikan dalam isu akhir-akhir ini tentang dunia pendidikan. Pendidikan merdeka begitulah nampaknya. Karena Mendikbud merasa bahwa beban pendidikan kita terlalu berat. Tapi apakah sudah cukup dengan konsep pendidikan yang diwacanakan tersebut?

Pendidikan adalah hal wajib yang harus dilalui oleh seorang anak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Pendidikan tidak hanya terbatas oleh pendidikan formal saja. Sehingga bagi para pendidik baik itu di lingkup keluarga, sekolah formal, bahkan lingkungan sosial memiliki peran penting. Yakni dalam mendukung keberhasilan pendidikan yang mencerahkan.

Baca Juga: Belajar dari Sejarah: Bagaimana Dakwah dengan Ilmu dan Teknologi?

Mengapa demikian? Hal ini bisa kita telaah bersama bahwasaanya seorang anak tumbuh berkembang tidak lepas dari peran lingkungan. Apa yang dia lihat, dengar, dan rasa merupakan respon yang akan menjadi bahan aksi seorang anak bertumbuh dan berkembang. Hal ini sangat sejalan dengan tujuan pendidikan. Merangsang potensi anak didik.  

Tiga Pokok Pendidikan Karakter

Sehingga membangun lingkungan baik untuk pertumbuhan anak akan sangat membantu tercapainya keberhasilan pendidikan yang mencerahkan. Artinya untuk mendapatkan pendidikan yang mencerahkan salah satu sub pokok pendidikan yang harus ditekankan adalah pendidikan karakter. Atau dalam istilah Pendidikan Islam biasa disebut pendidikan akhak.

Merujuk pada hasil pemikiran Thomas Lickona, salah seorang tokoh pendidikan di Barat menjelaskan bahwa pendidikan karakter memiliki 3 unsur pokok. Yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), melakukan kebaikan (doing the good), mencintai kebaikan (desiring the good).

Sementara itu menurut Naquib Al-Atas, pendidikan (dalam arti umum) lebih tepat disebut ta’dib. Yaitu penyemaian dan penanaman adab dalam diri manusia. Oleh karenanya “Pendidikan” adalah salah satu wadah dan proses yang tepat dalam mengimplementasikan kedua pemikiran tokoh di atas.

Dalam pelaksanaannya, peran seorang pendidik atau Guru sangat dibutuhkan. Guru tidak hanya sekedar hadir untuk menyampaikan materi semata tapi harus mampu dan menguasai unsur-unsur pokok dalam mendidik. Berdasarkan kontribusi ilmiah dari Thomas Lickona, seorang Guru seharusnya mampu memahami atau megetahui kebaikan, mampu melakukan kebaikan, serta mampu mencintai kebaikan.

Baca Juga: Pengembangan Karakter Kemanusiaan dengan Rajin Ibadah

Sejalan dengan pemikirannya Naquib Al Atas bahwa seorang guru tidak hanya sekedar berperan sebagai theacher (pengajar) tapi lebih sebagai learner (pembelajar). Hal ini menunjukkan bahwa seorang guru diharapkan cakap dalam ilmu pengetahuan atau disebut smart teacher, dan harus mampu pula menyemai dan menanamkan adab dalam diri anak didiknya.

Sehingga terbangun perilaku dengan kesadaran jiwa untuk selalu mencintai serta melakukan kebaikan. Pendidikan semacam inilah kiranya yang akan mampu membebaskan dari kefakiran berfikir serta pembodohan perilaku. Atau lebih tepatnya bisa kita sebut dengan “Pendidikan yang mencerahkan”. Dan tidak cukup kalau hanya pendidikan merdeka saja, seperti wacana Mendikbud. Tapi lebih penting adalah pendidikan yang mencerahkan.

Edukator sekaligus Motivator

Seorang guru harus mampu memotivasi, memandu, memberikan teladan, bukan mendikte. Sebagai ilustrasi kecil, bagaimana mungkin anak didik tidak menyontek, kalau cara mengajar gurunya masih menggunakan sistem menghafal. Tentu anak didiknya akan merasa malas untuk belajar mengembangkan ilmunya.

Karena cukup dengan “mengcopy paste” jawaban dari buku saja nilai bagus mudah diraih. Bagaimana anak didik tidak malas berangkat sekolah, lebih gemar bolos, serta malas belajar, kalau gurunya masih suka datang terlambat dan sibuk dengan urusan-urusannya di luar sekolah.

Seorang guru benar-benar diharapkan teladannya, di mana anak didik harus diajak dilibatkan dan dipandu untuk menunjang pengembangan keilmuannya. Guru harus mampu memperkenalkan anak didiknya betapa menariknya berkelana dengan tumpukan buku-buku yang luar biasa isinya. Dengan mampu membawa kepada keluasan berfikir.

Menciptakan suasana yang membahagiakan tidak menekan atau menindas, memberikan tugas-tugas yang relevan serta bertanggungjawab. Memberikan apresiasi positif terhadap segala usaha anak didik  dalam rangka menyelesaikan tugas belajarnya untuk membangun semangat terus mencoba dan berkarya.

Suasana belajar yang demikian lah menjadi impian pendidikan kita saat ini, sehingga terbangun pendidikan yang mencerahkan. Guru yang cerah dengan luasnya pengetahuan dan budi luhurnya akan mampu mencerahkan pendidikan untuk anak didiknya.

Baca Juga: Guru Artifisial: Cukupkah Memenuhi Peran Guru?

Artinya untuk mendapatkan pendidikan yang mencerahkan maka dibutuhkan guru yang tercerahkan juga, yaitu yang mampu menyemai adab, menggodok dan mengarahkan anak didiknya untuk memiliki, melakukan dan mencintai perilaku dan karakter yang baik. Guru yang cerah akan membentuk anak didik yang tercerahkan.

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Pendidikan Agama Islam UM Surakarta

Sumber Ilustrasi: hipwee.com

What's your reaction?
0So Happy0Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment