Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Belajar dari Sejarah: Bagaimana Dakwah dengan Ilmu dan Teknologi?

Shihab Wicaksono Ardhi by Shihab Wicaksono Ardhi
Juni 30, 2020
in Narasi
0
Filsafat, teologi islam

Filsafat

38
SHARES
221
VIEWS

Peradaban ilmu Islam telah mengalami perkembangan dari masa ke masa. Dakwah Dimulai dari keadaan atau kondisi masyarakat (Arab) yang pada saat itu masih menganut paham-paham kejahiliyahan. Kemudian lambat laun mulai tercerahkan ketika Allah menghadirkan sosok Rasul yang menjadi teladan bagi seluruh umat manusia, yaitu Muhammad Shollalohu Alaihi Wasallam.

Sebelum masa kerasulannya, Muhammad muda dikenal oleh masyarakat sekitarnya sebagai orang yang cerdas dan dapat dipercaya, sehingga tidak heran ketika gelar “Al-amin” tertancap di dalam kewibawaannya. Sifat-sifat yang tertanam dalam dirinya itu merupakan sebuah proses pendahuluan sebelum Allah akan mengesahkannya sebagai seorang Nabi dan Rasul yang terakhir bagi seluruh umat manusia.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Banyak hal yang terjadi semasa kerasulan Muhammad. Dimulai dari penerimaan wahyu pertama yang beliau terima langsung dari malaikat Jibril di Gua Hira. Proses dakwah secara sembunyi-sembunyi, terjadinya fathu makkah dan hijrah ke madinah. Hingga menghadapi banyak peperangan seperti: perang uhud, perang badar, perang khandaq dan lain lain.

Baca Juga: Ahmad Khan: Umat Islam Tertinggal Karena Tidak Punya Ilmu

Akhirnya sampai pada proses pelaksanaan haji wada’ yang merupakan momen terakhir kebersamaan umat Islam saat itu bersama Rasulullah Muhammad Saw sebelum kemudian beliau terbaring sakit hingga akhirnya ia meninggalkan seluruh kaum muslimin.

Semua itu merupakan proses perjuangan Rasulullah dalam menyampaikam risalah Islam. Yang kemudian memunculkan kejayaan pada masa Khulafaur Rasyidin dan Daulah Islamiyah. Hingga pada puncaknya yakni kejayaan Turki Utsmani yang menjadi puncak peradaban Islam di Eropa.

Dari semua runtutan proses berjalannya peradaban Islam dari masa Rosululloh hingga runtuhnya Turki Utsmani, ada satu masa yang menarik menjadi puncak kemajuan sekaligus awal dari kemunduran peradaban Islam. Masa yang lebih dikenal dengan istilah “Zaman Keemasan” (The Golden Age of Islam).

Zaman ini terjadi pada masa Dinasti Abbasyiyah pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid (786-809 M/170-193 H) dan putranya Al-Makmun (813-833 M/197-217 H). Pada saat itu menduduki kota Baghdad sebagai pusat ibu kota peradaban. Pada zaman keemasan ini banyak terjadi perkembangan dari berbagai aspek kehidupan, mulai dari politik, ekonomi, sosial, pendidikan, terutama kemajuan ilmu dan pengetahuan.

Dakwah dengan ilmu dan Teknologi

Pada masa Harun Al-Rasyid titik fokus progresivitas peradaban saat itu lebih banyak tertuju pada politik dan ekonomi. Di mana pejabat-pejabat negara banyak diangkat dari golongan darah biru dan memiliki kualitas wibawa yang baik. Kemudian juga pada sektor perekonomian yang banyak berpengaruh pada kesejahteraan rakyat pada saat itu. Atau mungkin bisa dikatakan sebagai oligarki positif. Dalam rangka menuju kesejahteraan ekonomi.  

Baca Juga: Masdar Hilmy: Muhammadiyah Menjadi Trendsetter bagi yang Lain

Pada pemerintahan Al-Makmun lembaga-lembaga pendidikan lebih fokus dikembangkan sehingga mampu membentuk “Baitul Hikmah”. Sebagai pusat pendidikan pada saat itu yang kemudian lembaga ini menjadi pusat studi.

Pengkajian serta penerjemahan buku-buku Barat dalam rangka mengembangkan tingkat intelektualitas masyarakat. Sehingga tidak heran muncul ilmuan-ilmuan Muslim sekaliber Ibnu Rusyd, Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Az-Zahrawi, Ibnu Haytam, Al-Khawarizmi dan lainnya.

Peradaban yang terjadi pada zaman keemasan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh edukasi kemasyarakatan yang sudah lebih dulu dimatangkan dengan kesejahteraan ekonomi dan sosial. Sehingga keadaan masyarakat yang jauh dari kata “kekurangan, kesulitan, dan bahkan kedzoliman” merupakan faktor utama dari proses berkembangnya intelektualitas masyarakat Islam.

Sehingga Inspirasi Islam dapat menduduki lebih dari separuh benua Eropa dengan membawa peradaban yang beradab. Ini merupakan bagian dari proses dakwah dengan ilmu dan teknologi. Di mana masyarakat mengenal Islam dari lingkungan dan kebudayaan sehingga memunculkan ikatan batin yang kuat dalam berinteraksi (human relation).

Zaman keemasan merupakan puncak peradaban Islam yang paling maju dalam hal sosial-edukasi. Namun kebanggan ini seakan tumbang ketika masa ini sekaligus merupakan masa di mana Islam terindikasi mengalami kemunduran. Kemunduran ini dimulai ketika timbul pergolakan politik pemerintahan pada saat itu. Kemudian muncul aliran-aliran pemberontak yang menyebabkan berbagai permasalahan di bidang politik dan ekonomi.

Keadaan ini membuat umat Islam mengalami perpecahan yang sangat dahsyat saat itu. Berbagai macam propaganda dilakukan untuk memecah belah umat Islam. Sehingga runtuhlah pemerintahan terakhir Islam yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan Turki Utsmani pada 1924.

Islam: Kosmopolitan dan Universal

Mulai saat itu keadaan Islam merosot di semua aspek kehidupan. Oleh dunia Barat, Islam dipandang sebelah mata. Dimana peradabannya hanya akan menghambat hawa nafsu personal yang ingin menyusun tatanan hidup dunia berdasar keinginan pribadi. Oleh karena itu di era modern ini umat Islam kembali dipanggil untuk menggairahkan semangat dakwahnya di berbagai macam bidang dan aspek kehidupan.

Penguatan iman, akal, dan akhlak menjadi bekal utama yang harus tertanam dalam benak setiap muslim. Karena dunia tidak lagi terarah kepada perang fisik, namun lebih fokus ke arah perang pemikiran. Muslim yang cerdas merupakan senjata yang ampuh dalam membawa misi dakwah menuju kembalinya kejayaan Islam.

Dakwah Islam bukan saja mengenai teologis-spiritual yang hanya mengedepankan pendekatan doktriner dalam penyampaiannya. Apalagi tanpa mengutarakan argumentasi yang ilmiah dan rasional.

Allah menyampaikan bahwa seorang muslim haruslah memahami Islam secara fundamental. Tidak sebatas mencari hukum halal-haram, wajib-sunnah, atau makruh-mubah. Tetapi juga pada pemahaman yang lebih global mengenai iman atau keyakinan dengan ibadah (hablun minalloh). Serta implikasinya dalam peradaban sosial masyarakat (hablun minannas).

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (Q.S. Al-Baqarah: 208)

Islam adalah agama yang bersifat kosmopolitan dan universal. Artinya segala bentuk ajaran yang merasuki pikiran itu seirama dengan keadaan akal. Di mana selalu mengerucutkan berbagai macam narasi dan persepsi ke sudut rasionalitas.

Risalah Islam tidak memunculkan sedikitpun narasi kontradiktif. Hanya saja orang-orang yang memahaminya secara keliru itulah yang kemudian memunculkan berbagai macam persepsi yang salah terhadap risalah Islam itu sendiri.

****

Rasionalitas ajaran Islam selalu dikaitkan dengan firman-firman Allah di dalam Al-Quran. Yang tidak jarang memunculkan kata-kata seperti “la’allakum ta’qilun”, “la’allakum tatafakkarun”, “ya ulil albab”, dll. Ini membuktikan bahwa akal merupakan media yang sangat penting dan efektif dalam memahami wahyu-wahyu Allah.

Baca Juga: Dimanakah Posisi Islam Muhammadiyah?

Risalah Islam juga ditujukan kepada seluruh umat manusia tanpa memandang suku, ras dan budaya. Ini menunjukkan bahwa risalah Islam itu bersifat universal yang kemudian Allah sampaikan di dalam Al-Quran dengan bahasa “ya ayyuhannas” (wahai manusia). Dalam hal ini Allah telah memainkan perannya sebagai Ar-Rahman. Yang memberikan kehidupan kepada seluruh manusia bahkan seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini.

Dengan dasar ini Allah menjamin para hambanya dengan keberkahan yang akan didapatkan melalui perjuangan dakwahnya. Allah telah menjanjikan kemenangan bagi umat Islam di akhir zaman dengan kembalinya Islam menjadi puncak peradaban.

Namun, yang menjadi babak penentu dari akhir sejarah itu tergantung dari pribadi setiap kita. Apakah termasuk orang-orang yang mendapat keselamatan karena telah berjuang bersama Islam. Hingga kembali menuju puncak kejayaan? Atau hanya akan jadi umat biasa yang tidak dijamin keselamatannya karena sikap tak acuhnya terhadap perjuangan Islam?

Sumber Ilustrasi: ganaislamika.com

Terkait

Tags: Dakwahgolden agePeradaban IslamSejarahTeknologi
Previous Post

Muhammadiyah Pernah Mengalami Masa Sulit Tapi Tetap Solid

Next Post

Dimanakah Posisi Islam Muhammadiyah?

Shihab Wicaksono Ardhi

Shihab Wicaksono Ardhi

Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Sukoharjo

Next Post
Dimanakah Posisi Islam Muhammadiyah

Dimanakah Posisi Islam Muhammadiyah?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.