Muslimah Tangguh, Ekonomi Kuat

Oleh: Kholifah Rizkia Syahfitri

Di era modern ini, kita sudah tidak asing lagi melihat seorang wanita yang bekerja sebagai buruh pabrik, menjadi sopir angkot, pilot, CEO perusahaan, bahkan menjadi dewan legislatif.  Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.

Seperti kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta perkembangan budaya dalam masyarakat. Sehingga saat ini Wanita tidak lagi terkukung oleh lingkaran dapur, sumur, dan kasur saja. Mereka bisa menjadi lebih aktif selama kewajiban sebagai seorang wanita telah terpenuhi.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2019, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pekerja Wanita meningkat sebesar 0,06% menjadi 55,50% dari sebelumnya yaitu 55,44% pada tahun 2018. Hal itu berarti Wanita saat ini telah semakin aktif mengambil bagian dalam mendukung perekonomian nasional dan memiliki kesempatan yang sama di bidang pekerjaan.

Kenaikan ini didukung pula dengan keterlibatan wanita dalam dunia pasar modal. Di pasar modal, jumlah investor Wanita juga bertambah seiring waktu. Urusan berinvestasi tidak lagi menjadi urusan dan aktivitas laki-laki saja.

Jika dilihat dari sejarah, Wanita memang lebih tekun berinvestasi. Sebagaimana Khadijah istri nabi saja adalah seorang pengusaha yang sangat sukses. Wanita-wanita di masa lalu rajin membeli emas, aset tanah dan properti dari uang yang mereka sisihkan dari suami mereka. Di samping Wanita pula yang menjadi pengelola keuangan keluarga.

Kajian tentang investasi telah banyak diperbincangkan, dalam bentuk tulisan hingga sosialisasi dan sekolah investasi tersebar luas. Sebagai seorang muslimahpun kita tak perlu lagi ragu untuk memulai investasi. Hal ini dikarenakan adanya investasi syari’ah yang telah disetujui oleh Majelis Ulama Indonesia. Dan tentunya tetap aman karena di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sektor Investasi Paling Diminati

Investasi syari’ah ada berbagai macam, seperti, Emas. Investasi ini paling banyak diminati karena mempunyai keunggulan seperti harganya yang cenderung stabil. Menurut Financial Planner, menentukan tujuan lebih dahulu dan jika sudah punya keinginan.

Maka langsung saja beli tanpa perlu menimbang banyak hal adalah tips paling penting dalam berinvestasi emas. Produk investasi emas/jual beli emas dimunculkan atas landasan hukum dari fatwa Dewan Syariah Nasional No: 77/DSN-MUI/V/2010 tentang Jual Beli Emas.

Kedua, Reksadana Syariah. Secara sederhana, reksadana syariah merupakan bentuk penyertaan modal yang dikelola oleh manajer investasi. Kemudian disalurkan kepada perusahaan yang dalam prosesnya sesuai dengan ketentuan syariah.

Saat ini, reksadana syariah memberikan kemudahan dalam berinvestasi yaitu dengan hadirnya platform online yang dapat digunakan oleh semua orang yang ingin berinvestasi reksadana syariah. Produk reksadana syariah dilandasi pada fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI No: 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi untuk Reksa Dana Syariah.

Ketiga, Sukuk Tabungan. Kementerian Keuangan sendiri baru saja meluncurkan ST-003 secara online pada Awal Tahun 2019. Sukuk atau obligasi syariah memang mempunyai keuntungan berupa kemudahan akses transaksi melalui sistem elektronik atau online. Dengan sukuk, kita bisa mulai investasi syariah online tanpa mahal, mulai dari Rp 1.000.000.

Cara mendapatkannya kita bisa mengakses website yang telah ditunjuk langsung untuk menjadi mitra distribusi sukuk tabungan. Produk Sukuk Tabungan dilandasi pada fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI No: 69/DSN-MUI/VI/2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.

Terakhir, Saham Syariah. Secara sederhana saham syariah adalah saham yang sesuai dengan ketentuan Al-Quran dan Sunnah. Saham ini menjadi solusi atas keberadaan saham-saham yang tidak sesuai dengan ketentuan syariah. Bila merujuk pada definisi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Saham Syariah adalah efek atau surat berharga yang memiliki konsep penyertaan modal dengan hak bagi hasil usaha tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

Investasi Mudah dan Murah

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) pada bab Penerapan Prinsip Syariah Pasar Modal menjelaskan lebih rinci terkait aspek-aspek yang harus sesuai dengan ketentuan syariah. Di antaranya: akad, cara pengelolaan dan kegiatan usaha, aset yang menjadi landasan akad, cara pengelolaan, dan kegiatan usaha.

Kemudian dan/atau aset yang terkait dengan efek yang dimaksud dan penerbitnya. Adanya produk saham syariah didasarkan pada fatwa DSN MUI No: 40/DSN-MUI/X/2003 tentang Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal.

Kini tak perlu merasa takut dan was-was dalam memulai investasi bagi seorang muslimah. Ada sebuah formula pengelolaan keuangan yang dapat diterapkan dalam gaji/penghasilan berapapun yang kita terima. Sehingga kita bisa membantu Suami. Formula 4, 3, 2, 1. Artinya 40% untuk kebutuhan, 30% untuk cicilan/hutang, 20% Investasi dan 10% untuk kebaikan (ZIS).

Tentang pengelolaan keuanganpun kita bisa mengambil kaidah dari kisah Salman Al-Farisi. Diriwayatkan bahwa beliau memiliki uang sebanyak 1 dirham untuk digunakan sebagai modal membuat anyaman yang dijual seharga 3 dirham.

Kemudian, pendapatannya tadi dibagi menjadi: 1 dirham untuk keperluan keluarganya, 1 dirham untuk sedekah dan sisanya 1 dirham untuk digunakan sebagai modal kembali. Ini menarik sebagai seorang muslimahpun bisa dong untuk membantu keuangan keluarga. Sebagai seorang perempuan boleh dalam berwirausaha apalagi sampai berinvestasi.

Penulis merupakan Aktivis Nasyiatul Aisiyah Kota Surakarta dan Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sumber Ilustrasi: republika.co.id

What's your reaction?
0So Happy0Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment