Dalam Seminar Pra-Muktamar yang digelar di UMM kemarin salah satu pembicaranya adalah Prof. Abdul Malik Fadjar sangat menarik pembicaraannya karena terkait dengan sejarah, dinamika dan harapan dari Muhammadiyah. Mengawali seminar Pra Muktamar itu ia sampaikan pengalamanya sebagai berikut,
“Sebagai orang tua di Muhammadiyah, saya mengikuti Muktamar Muhammadiyah sejak masa Orde Lama, sejak Muktamar Setengah Abad dibuka oleh Bung Karno di Bandung. Itu peralihan antara masa Orde Lama dan Orde Baru.
Waktu itu ada perdebatan, Bung Karno itu mau hadir atau tidak. Yang hebat itu Pak Karim UI, sahabat Bung Karno dan dekat dengan Muhammadiyah, beliau yang datang ke Istana Bogor, mendesak Bung Karno hadir ke Muktamar. Utusan-utusan daerah masih naik kereta api”.
Yang kritikal, yang saya ikut di dalamnya itu Muktamar di Solo. Muktamar ditunda 2 tahun karena asas tunggal. Ini menggambarkan bagaimana Muhammadiyah tidak lepas dari situasi bangsa, tidak bisa lepas dari pertimbangan-pertimbangan politik. Muhammadiyah di tengah pergolakan itu bisa terus berkembang, dengan amal yang nyata. Muhammadiyah itu besar, harus berpikir dengan cara yang jauh ke depan dan luas.
Menariknya lagi terkait dengan gagasan Pra Muktamar Prof Malik juga menyampaikan bahwa Seminar Pra Muktamar yang pertama juga dimulai di Solo, Pak Djazman yang memulai. Terus bergulir, dari Solo ke Jogja, kemudian ke Aceh, Jakarta, dan Malang, lalu Jogja lagi, lalu Makassar dan besok di Solo.
Waktu di Jogja juga begitu ada kisah yang menarik “Pak Munawir manggil saya, nanya, siapa yang jadi ketua Muhammadiyah selanjutnya, karena Pak A.R. sudah tidak mau. Pak Harto ndak mau membuka Muktamar kalau ketuanya belum terpilih. Di Aceh itu lebih birokratis. Selanjut-selanjutnya, presiden tidak membuka Muktamar, hanya menjadi sambutan-sambutan”.
***
Lebih lanjut beliau mengutarakan, “Muhammadiyah tidak bisa diintervensi, ndak bisa. Main duit itu ndak bisa, kan dicalonkan dari bawah. Saya ceritakan dinamika antar Muktamar itu supaya tahu, Muhammadiyah menghadapi hal-hal sulit tapi tetap solid.
Lihat Muktamar di Makassar, adem saja sementara Muktamar sebelah di Jombang diperpanjang. Hal penting lain, Muhammadiyah selalu membawa tema-tema. Di Muktamar juga harus ada etika. Di Muktamar tidak ada istilah Walk Out.
Selain bercerita tentang sejarah Prof Malik Fadjar juga berpesan, Tetep jangan lengah dalam persoalan bagsa. “Jangan bangga dulu, yang terpenting adalah bagaimana cara kita mengisi. Isu-isu kontemporer, misalnya isu lingkungan hidup.
Muhammadiyah harus aware, harus peduli karena ini isu kritis. Saya teriak-teriak soal plastik di kampus ini sejak rektornya masih Muhadjir. Waktu menyikapi isu-isu politik, jangan sampai ada geger berkepanjangan”.
baca juga Pengangkatan Dr. Biyanto Menjadi Profesor Moderasi Islam di UIN Sunan Ampel
Kami yang paham-paham ini ya ketawa, ya itulah politik. Kalau ngambil ya ambil, jangan ngambek kayak anak kecil. Sikap kita sederhana saja, coba. Ambil, jalani penuh amanah. Kalau ndak ambil ya ndak usah. Hanya saja, Muhammadiyah itu terlalu murah untuk dipakai berkonflik yang ecek-ecek.
Muktamar ini nanti menghadapi perubahan dalam skala nasional dan skala internasional. Jadi, kita tidak perlu geger soal kecil. Masalah besar yang dihadapi Muhammadiyah ke depan, bagaimana merampingkan organisasi sebesar ini?
***
Muktamar dan tanwir itu wajib, terutama masalah kepemudaan. Di mana Kiyai Dahlan waktu mendirikan Muhammadiyah sebagai organisasi, agak merasa berat. Nanti asyik sama organisasi tapi lupa pada misi tajdid-nya.
Apakah “umroh sudah jadi bisnis, sekarang? Muhammadiyah sekarang kok ya mengembangkan biro-biro umroh?” Apakah ada generasi muda Muhammadiyah yang mau mendobrak kemunduran-kemunduran dalam dunia Pendidikan?
SD, TK, itu strategis, jangan ala kadarnya, jangan dibiarkan mundur. Kemarin kita kumpulkan juga fakultas-fakultas agama se-Jawa Timur. Kita harus mulai rekonstruksi AUM dari sisi manajemen, dll. Jangan sampai pengurus ini pekerjaannya mengurus pengurus. Belum lagi masalah-masalah keumatan.
Terakhir pesan dari Prof Malik, melalui seminar Pra-Muktamar ini, selain dapat ilmu dari narasumber, kita bertekad, kita berharap, kita harus bangga, menjadi orang Muhammadiyah yang bisa menggerakkan organisasi ini dengan kompak dan tanpa mengeluh.
WA-WA yang isinya konflik itu semoga hilang, sekaligus mudah-mudahan orang Muhammadiyah peduli pada literasi dan Iqra’. Jadikan Muktamar 48 Muhammadiyah menjadi tempat kita menatap ke depan dan melangkah membawa Sang Surya.
Sumber Ilustrasi: PWMU.CO