Muhammad: Teladan Keseimbangan Hidup

Seorang Sufi dari Ganggoh pernah berkata, Muhammad telah naik ke langit tertinggi lalu kembali lagi. Demi Allah, aku bersumpah, bahwa seandainya aku yang mencapai tempat itu, aku tidak akan kembali lagi. (Goenawan Mohammad). Nabi Muhammad memang bukanlah seorang sufi. Sehingga ia tidaklah memikirkan puncak dari pencapaian spiritualitasnya, tetapi justru ia memilih untuk menjalankan tugas kenabiannya sebagai manusia, penyampai risalah.

Seyyed Hossein Nasr di bukunya Muhamad, Kekasih Allah (1997) menulis, Walaupun Miraj merupakan penobatan kehidupan spiritual Nabi Muhammad SAW. Tidak berarti tugas keduniawiannya berjalan tanpa hambatan. Beliau tetap teraniaya di bawah segala rupa tekanan hidup di Makkah. Betapapun Muhammad telah menikmati puncak kenikmatan tertinggi seorang hamba (manusia), Muhammad tetaplah menjalankan kehidupannya sebagai manusia biasa. Bahkan ketika musuhnya melemparinya kotoran manusia dan batu, ia pun berdarah sebagaimana manusia biasa merasakan sakit.

Baca juga: Said Aqil & Ma’rifat Hasyim Asy’ari tentang Khilafah

Keseimbangan Hidup

Perangai Nabi Muhammad yang tidak berubah selepas Isra Miraj dilukiskan dengan apik oleh Rev John Davenport. Ia menyebut Muhammad sebagai, Raja di seluruh Tanah Arab, ia memperbaiki sepatunya sendiri dan menambal baju wolnya yang kasar, memeras susu, menyapu dapur, dan menyalakan api di tungku. Kurma dan air adalah santapannya sehari-hari, susu dan anggur merupakan barang mewah baginya. Apabila ia bepergian, ia memakan bekalnya bersama-sama dengan pelayannya. Kejujurannya atas ucapan-ucapannya tentang kebajikan dibuktikan pada waktu wafatnya oleh kekosongan lemarinya. (Hashem, M., 1983:14).

Simbol dari kecintaan Tuhan kepada hamba-Nya (Muhammad) nampak dalam peristiwa Isra Miraj. Dalam arti luas, Tuhan mencintai manusia melalui Isra Miraj. Dengan peristiwa itu pulalah, muncul satu jalan penyatuan manusia dengan Tuhan berupa risalah shalat.

Didalam shalat itulah sarana seorang hamba bercakap dan berkomunikasi dengan Tuhannya. Ada kesatuan badani dan ruhaniah, itu pulalah yang dialami oleh Muhammad tatkala Isra Miraj.
Islam dikenal sebagai agama yang seimbang. Ia mengatur hubungan vertikal maupun horisontal. Ia adalah agama samawi, tapi juga agama bumi. Ia sangat ketat mengatur urusan langit, tapi tidak meninggalkan urusan bumi. Dalam Isra Miraj, kita menemukan bagaimana Islam mempercayakan kedudukan manusia itu tinggi dan disejajarkan dengan Allah satu tingkat.

Sebab pada saat Miraj, manusia dalam hal ini diwakili oleh Muhammad, langsung bercakap dengan Tuhan. Artinya, Islam menjunjung tinggi manusia. Sedangkan kembalinya Muhammad ke bumi, ke dunia ini melambangkan bahwa hubungan manusia kepada Tuhannya belum sah saat ia meninggalkan kewajibannya di bumi sebagai khalifah. Bumi dalam Islam dianggap sebagai sarana, atau jalan untuk mencapai akhirat (surga).

Sikapnya yang lemah lembut kepada semua orang membuat dunia takjub dan hormat kepadanya. Kelembutan dan kasih sayangnya inilah yang kelak akan dikenang di seluruh langit dan bumi. Ia mengajarkan cinta kasih dengan segenap jiwa dan raganya. Hingga saat ia terpanah lehernya, ia bersandar di bawah Uhud, atau gunung yang penuh batu.

Gunung Uhud itu pun marah, ia seperti tak terima saat melihat Muhammad lehernya terluka oleh panah. Ia hendak menurunkan batu-batuan dari atas, tetapi Muhammad justru menahannya, dan berkata Tidak usah. Aku sudah mendoakan agar orang-orang yang menganiayaku bisa mendapatkan hidayah, dan seluruh keturunannya nanti menjadi pemimpin umat islam.
Pada bukunya yang berjudul The Sppeches and table-talk of the Prophet Mohamad (1882), seorang Orientalis Stanley Lane Poole menuliskan tentang Muhammad. Orang-orang yang datang dekat kepadanya jatuh cinta, orang yang bercakap tentang dirinya akan berkata:

Saya tidak pernah melihat yang seperti dia sebelum dan sesudahnya. Ia seorang yang sangat pendiam, tetapi apabila ia berkata dengan tekanan dan kesungguhan, dan tak ada orang yang dapat melupakan apa yang dikatakannya.

Lebih lanjut ia melukiskan betapa ia sangat pemaaf dan tidak pendendam bahkan pada musuhnya sekalipun. Hari kemenangan Muhammad yang terbesar terhadap musuhnya juga hari kemenangannya yang terbesar terhadap dirinya. Dengan bebas ia memaafkan orang-orang Quraisy dan melupakan segala tahun-tahun kesusahan dan penghinaan-penghinaan keji yang mereka lakukan terhadap dirinya serta membebaskan seluruh penduduk Mekkah.

Keagungan Muhammad

Apa yang telah dilakukan oleh Muhammad telah berdampak bukan hanya kepada kaum muslim, tetapi juga terhadap dunia pada umumnya. Lamartine (1854) menuliskan laki-laki ini tidak hanya menggerakkan tentara, hukum, imperium, manusia, dan dinasti-dinasti, melainkan juga berjuta-juta manusia dalam sepertiga bagian dunia yang telah dikenal pada masa itu; dan lebih dari itu, ia menggoncangkan rumah-rumah berhala, mengobarkan idea-idea agama, kepercayaan-kepercayaan serta jiwa manusia.

Di atas dasar sebuah kitab yang setiap hurufnya telah menjadi hukum, ia menciptakan suatu kebangsaan spiritual yang mempersatukan manusia dari segala ras dan bahasa.

baca juga: Dua Varian Islam dalam Isu Corona

Keagungan akhlak, keteladanan sikap hidupnya, serta sikap konsisten dan segala kesederhanaannya melambangkan Muhammad hanyalah manusia biasa. Ia tidak tinggal di istana megah dan mewah. Ia tinggal di rumah yang serba sederhana. Alas tidurnya adalah pelepah kurma. Makanan dan juga keteguhannya dalam berpuasa membuat semua orang takjub.  Hidupnya hanya dipersembahkan untuk umat dan tegaknya agama Islam.

Di Isra Miraj, kita mengenang manusia agung, Muhammad SAW. Sebagai manusia yang sempurna, yang Allah telah menyuruh malaikat bersujud di hadapan-Nya, oleh sebab itu Allah dan para malaikat memuji dan memberkahi beliau, dan mereka yang beriman pun diperintahkan untuk memujinya pula. Ia telah meninggalkan Al-quran dan Al-hadist sebagai pegangan bagi siapa saja yang hendak mengikuti jalannya. Ya Nabi Salam Alaika, Ya Rasul Salam Alaika.

What's your reaction?
6So Happy0Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment