Menghadapi Covid-19 Dengan Keberanian Terukur

Seperti biasa, dunia sosial media di seluruh dunia selalu dipenuhi berbagai postingan yang terkait dengan isu-isu panas. Para netizen dapat dikelompokkan dalam empat macam kategori dalam hal postingan tersebut: pertama, mereka yang memposting berita atau tulisan dengan menjaga etika sosial media (misalnya, memberikan sumber tulisan dan dari otoritas terpercaya); kedua, mereka yang membagikan tulisan opininya (tulisan original) yang dimuat di media online atau offline atau tulisan khusus untuk WAG;

ketiga, mereka yang bersemangat memberikan tips atau nasehat baik di bidang kesehatan ataupun agama tetapi tidak pernah mengecek terlebih dahulu kebenaran isi dan sumber postingan,   dan keempat, mereka yang senang membanjiri ruang percakapan dengan berita dan tulisan sensasional tanpa menyebutkan sumber tautan.

Dalam hiruk pikuk pemberitaan dan ulasan tentang Covid-19, hampir seluruh postingan dari ke empat kelompok netizen tersebut dipenuhi data dan opini yang dapat melemahkan mental para pembacanya. Ini menjadi hal yang tidak dapat dihindari, karena memang banyak alasan untuk melihat kasus pandemi ini menjadi sesuatu yang menakutkan.

Di tengah-tengah situasi yang mengkhawatirkan tersebut, ternyata ada sejumlah penceramah agama yang sepertinya melawan arus. Ada beberapa habib dari sejumlah pesantren yang disertai dalil agama justru melarang umat untuk merasa takut berlebihan kepada virus Covid-19 ini. Sebut saja misalnya Habib Lutfi bin Yahya, Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf, dan Habib Zainal Abidin Al Aydrus. “Saat ini orang muslim banyak yang takut bersalaman”, kata Ustad Dr. Abdul Somad. Dalam pelaksanaan Salat Jumat tiga hari lalu, sejumlah jamaah di tanah air tetap berbondong-bondong ke masjid. “Tak ada yang perlu ditakuti, kecuali Allah”, demikian semboyan keyakinan mereka.

Tidak sedikit pula para guru agama yang mendorong umat menerapkan social distancing dan bertahan di rumah (self-qurrantine) seperti AA Gymnastiar, Habib Rizieq, Ustad Maher dan sebagainya. Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdhatul Ulama cenerung untuk mendukung penerapan social distancing ini.

Seperti yang disampaikan oleh Habib Lutfi, ketakutan berlebihan pada virus ini dapat berefek pada melemahnya iman. Dalam Islam, hanya Allah yang paling berhak ditakuti karena Ia mempunyai kekuasaan yang Maha Besar atas seluruh alam semesta. Semua yang ada di bumi dan di langit sepenuhnya tunduk pada kekuasaan Allah swt.

baca juga: Said Aqil & Ma’rifat Hasyim Asy’ari tentang Khilafah

Namun data resmi yang dikeluarkan oleh sejumlah pihak berwenang menunjukkan perkembangan yang cukup mengkhawatirkan. Pasien yang terinfeksi virus semakin bertambah, bahkan tenaga paramedis sudah mulai banyak yang menjadi korban. Dalam situasi dilematis seperti ini, bagaimanakah sebaiknya kita harus bersikap?

Kebenaran terukur

Habib Muhammad Al Athos, Lc.  menyarankan kita agar memahami sunnatullah tentang kekuatan tubuh manusia. Manusia akan mudah terserang penyakit jika daya tahan tubuhnya lemah. Oleh karena itu, yang wajib dilakukan dalam situasi penyebaran virus Covid-19 ini adalah memperkuat daya tahan tubuh tersebut, baik melalui ikhtiar fisik maupun ruhani. Saya menyebut ikhtiar ini dengan istilah “keberanian yang terukur”.

Dalam keberanian terukur, kita harus benar-benar mengetahui daya tahan tubuh kita sendiri sebelum berani bertemu orang lain dan berkumpul dalam sebuah kerumunan. Jika tubuh kita sedang lemah, misalnya karena demam, maka social distancing dan self qurrantine menjadi ikhtiar utama. Namun jika tubuh kita sehat dan kuat, maka tidak ada salahnya kita beraktifitas di luar rumah atau pergi ke tempat ibadah atau perkumpulan sosial. Namun yang harus diingat adalah, keberanian beraktifitas di luar rumah tersebut hendaknya disertai rasa tawakal kepada Allah swt, bukan dengan seenaknya beraktifitas tanpa menyadari besarnya resiko yang akan dihadapi. Menggunakan alat perlindungan diri hendaknya juga tidak disertai rasa khawatir yang berlebihan.

Herd Immunity

Pemerintah kita tidak atau belum berani menyatakan negara dalam keadaan lock down. Tentu banyak sekali pertimbangan mengapa keputusan seperti ini yang diambil. Sejumlah pakar telah menyatakan bahwa sangat boleh jadi ini merupakan strategi untuk menciptakan “herd immunity”, yaitu terbentuknya sekumpulan orang yang kebal terhadap virus ini secara alamiah yang akan menjadi benteng bagi mereka yang rentan. Berita buruknya, dengan strategi ini maka jumlah yang terpapar akan cepat berkembang ke angka yang fantastis, jika tidak disertai social distancing dan self-quarrantine. 

Masalahnya, sangat banyak jumlah anggota masyarakat yang berada pada lapisan ekonomi miskin dan rendah yang bekerja di sektor informal di tempat umum. Para penjaja makanan antar kampung, penjaga angkringan, tukang bangunan, kuli pelabuhan, penjual sayur di pasar tradisional dan sebagainya adalah lapis kelompok masyarakat yang tidak mempunyai cukup tabungan untuk dapat bertahan di rumah tanpa bekerja. Mereka adalah kelompok yang sangat rentan terpapar, apalagi sebagian besar dari mereka tidak mempunyai waku dan akses informasi tentang virus ini.

Kerentanan Sosial

Di sisi lain, Islam adalah agama personal dan sosial. Ada banyak hal yang dituntut pertanggungjawabannya secara personal, tetapi lebih banyak lagi secara sosial. Pelaksanaan sholat berjamaah baik dalam sholat lima waktu, Jumat, maupun Idul Fitri dan Idul Adha adalah sangat bernilai sosial. Islam mempunyai kekuatan dalam membangun kohesi sosial melalui pelaksanaan sholat berjamaah tadi. 

Melarang ummat untuk bertemu dan berkumpul bahkan dalam pelaksanaan sholat berjamaah tentu akan melemahkan peranan sosial tersebut. Demikian pula, tradisi mudik di Indonesia saat lebaran nanti akan terancam batal dilaksanakan, karena setiap pemerintah daerah pasti akan melarang arus perpindahan penduduk secara masif seperti mudik tersebut.

Momentum

Dua pertimbangan di atas agaknya perlu direnungkan lebih mendalam. Sebagaimana halnya kita tidak boleh meremehkan kekuatan virus ini untuk menyebar dan membunuh manusia, namun kita juga tidak boleh lupa bahwa sangat bisa jadi inilah momentum untuk membuktikan kemenangan iman atas mahluk Allah bernama Covid 19 ini. Tentu saja, sekali lagi, harus dengan keberanian terukur, bukan keberanian tanpa ilmu dan iman.

What's your reaction?
6So Happy0Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment