Oleh: Nabila Zidna Nihayah (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Di era media sosial hari ini, istilah mental health terasa semakin sering muncul—mulai dari konten edukasi, curhat di platform digital, hingga kampanye publik. Sayangnya, meningkatnya popularitas ini sering disalahpahami sebagai sekadar “tren”. Padahal, kesehatan mental bukan fenomena sementara, melainkan isu nyata yang berdampak besar pada kehidupan individu dan masyarakat secara luas.
Meski begitu, World Health Organization (WHO) mendefinisikannya dengan “suatu keadaan yang baik dimana seseorang menyadari kemampuannya, dapat menghadapi stress yang normal, dapat bekerja secara produktif dan menyenangkan, dan dapat berkontribusi dalam komunitasnya” (Ahmad Nurrohim, 2016:10).
Di era modern ini, Generasi Z juga dihadapkan pada tantangan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka harus beradaptasi dengan perubahan yang cepat dalam dunia pekerjaan yang semakin dipengaruhi oleh otomatisasi dan kecerdasan buatan (Ahmad Nurrohim, 2025: 96).
Kesehatan mental menjadi isu yang sering menjadi perhatian karena penggunaan media sosial yang belum memenuhi batas usia, yang belum semestinya mempengaruhi kinerja otak dalam memproses suatu informasi baru yang ada (Ahmad Nurrohim, 2025: 2).
Realitas di balik “Tren” Data menunjukkan bahwa kesehatan mental adalah masalah serius, bukan sekadar topik viral. Secara global, gangguan mental termasuk penyebab utama beban kesehatan masyarakat dan terus meningkat dari tahun ke tahun.
Generasi Z Muslim cenderung berhati-hati dalam menyebarkan informasi, menghindari konten yang mengandung hoaks, fitnah, atau ghibah, sesuai dengan prinsip Islam yang melarang penyebaran kebohongan dan menuntut menjaga kehormatan orang lain (Ahmad Nurrohim, 2025: 5).
Di Indonesia sendiri, situasinya tidak kalah mengkhawatirkan. Berdasarkan estimasi yang mengacu pada standar WHO, sekitar 1 dari 10 orang Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, yang berarti puluhan juta orang terdampak Lebih spesifik lagi, survei pada remaja menunjukkan bahwa 1 dari 3 anak usia 10–17 tahun memiliki masalah kesehatan mental, sebuah angka yang menjadi alarm serius bagi masa depan generasi muda.
Angka-angka ini memperlihatkan satu hal penting: yang terlihat sebagai “tren” di media sosial sebenarnya hanyalah puncak gunung es dari persoalan yang jauh lebih besar. Kenapa Kesehatan Mental Penting? Kesehatan mental bukan hanya soal perasaan sedih atau stres sesaat. Ia berkaitan erat dengan cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, bekerja, hingga menjalin hubungan sosial.
Kata mental berasal dari bahasa Latin mens atau metis yang berarti jiwa, nyawa, sukma, roh, atau semangat. Karena itu, mental adalah hal-hal yang berkaitan dengan psycho atau kejiwaan yang dapat mempengaruhi perilaku individu (Ahmad Nurrohim, 2016: 6).
Ajaran Islam menekankan pentingnya ketakwaan dan teladan dari Nabi Muhammad SAW, memberikan pedoman untuk mencapai pemikiran yang benar melalui bimbingan wahyu dalam Al-Qur’an. Islam, sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an, berfungsi sebagai obat bagi jiwa dan penyakit spiritual (Ahmad Nurrohim, 2025: 5).
Di era modern ini tentu akan semakin banyak cobaan dan tantangan seorang hamba untuk terus istiqomah berada di jalan Allah. Mulai dari godaan tekonologi, ekonomi, hingga moral (Yeti Dahliana, 2024: 12).
Beberapa alasan mengapa kita harus peduli Pertama, dampak pada produktivitas dan kualitas hidup. Gangguan mental seperti depresi dan kecemasan dapat menurunkan produktivitas, bahkan menghambat seseorang menjalani kehidupan sehari-hari secara optimal.
Kedua, berkaitan dengan kesehatan fisik. Kesehatan mental dan fisik saling terhubung. Stres kronis dapat meningkatkan risiko penyakit fisik seperti gangguan jantung dan sistem imun.
Ketiga, Pengaruh pada generasi muda. Remaja dengan masalah kesehatan mental berisiko mengalami kesulitan akademik, relasi sosial yang buruk, hingga perilaku berisiko.
Keempat, dampak sosial dan ekonomi. Secara makro, kesehatan mental memengaruhi pembangunan suatu negara. Bahkan faktor seperti pendidikan, pekerjaan, dan tekanan sosial terbukti berkaitan erat dengan tingkat gangguan mental.
Mental Health bukan tren, tapi kebutuhan. Jika kita melihat lebih dalam, meningkatnya pembicaraan tentang kesehatan mental bukanlah tren kosong, melainkan tanda bahwa masyarakat mulai sadar akan kebutuhan yang selama ini terabaikan. Sama seperti kesehatan fisik, kesehatan mental membutuhkan perhatian, perawatan, dan dukungan. Bedanya, luka mental sering tidak terlihat—namun dampaknya bisa jauh lebih dalam. Keterlibatan orang tua, pendidik, dan tenaga kesehatan berperan penting untuk menjaga keterlibatan peserta, memastikan keamanan psikologis, serta membantu penerapan keterampilan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari (E Kusmayanti, 2026: 13).
Apa yang Bisa Kita Lakukan? Kepedulian terhadap kesehatan mental bisa dimulai dari langkah sederhana: (1) Lebih peka terhadap diri sendiri dan orang sekitar (2) Tidak meremehkan perasaan atau kondisi psikologis (3) Berani mencari bantuan profesional jika diperlukan (4) Mengurangi stigma dengan edukasi dan empati
Mental health bukan tren yang akan hilang seiring waktu. Ia adalah bagian fundamental dari kehidupan manusia. Justru, meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental adalah peluang untuk membangun masyarakat yang lebih sehat—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan sosial.Karena pada akhirnya, sehat bukan hanya tentang tubuh yang kuat, tetapi juga pikiran yang tenang.
Editor: Astyra Gita