Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Menghidupkan Nalar Kritik Untuk Membangun Intelektualitas

Muhammad Haris Nurdiansyah by Muhammad Haris Nurdiansyah
Februari 28, 2022
in Esai
1
Logika berfikir
57
SHARES
336
VIEWS

Kita tidak akan asing lagi dengan yang namanya “kritik”, kritik merupakan tanggapan dari seseorang mengenai hasil karya, pendapat dan baik buruknya sesuatu. Kritik itu dapat dilakukan dan diucapkan oleh siapa pun baik setiap individu maupun kelompok.

Ia boleh menyangkal atau berpendapat melalui pengalaman yang dilaluinya agar tercipta sesuatu yang lebih baik lagi, tentunya melalui banyaknya pengalaman.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Sedangkan membangun, yaitu sesuatu yang tumbuh dan tercipta dari hasil memperbaiki sesuatu. Jika di kaji lebih dalam, makna membangun akan bersanding dengan kemajuan yang lebih baik dari pada sebelumnya.

Maka makna dari “kritik yang membangun” adalah sebuah tanggapan mengenai persoalan yang ada. Kemudian dapat memberikan solusi untuk memberikan kemajuan dengan hierarki kebaikan melalui kebijakan dan kearifan berpikir.

Memberikan kritik juga harus melihat kepada siapa dan dengan siapa ia mengkritik, sebab tidak semua kita hantam dengan kritikan tajam. Apalagi dalam memberikan kritik yang membangun. Jika tidak ada pengalaman dan kajian mendalam terhadap kritik yang membangun.

Maka bisa jadi ia akan terkucilkan melalui bumerang yang ia akan dapatkan dari perdebatan dengan yang lain, di karena kan belum adanya pengetahuan terhadap bagaimana membangun kritik yang membangun.

Sebuah kritik akan terasa pedas jika ia membangun, yakni dapat memberikan solusi terhadap problem yang ada. Sering kali kita mendapatkan kritik, akan tetapi tidak untuk memberikan solusi. Dan hal semacam ini sering kita alami, maka solusinya adalah mengesampingkan segala kritik jika itu tidak memberikan solusi.

Sebagai mahasiswa baru hendaknya dia tahu dunia critikal thinking, sebab dari ruang ini ia akan menjadi radikalisme intelektual. Sebuah intelektual dibangun sejak dini, yakni pada taraf mahasiswa baru jika tidak, maka ia akan menjadi mahasiswa yang muda di ombang-ambingkan keadaan. Yang muda ikut sana sini, yang tidak mempunyai pendirian. Padahal ranah mahasiswa adalah ranah di mana ia mendapatkan dan menelusuri jati dirinya.

Membangun Daya Kritik

 Pengalaman adalah guru terbaik bagi seseorang. Sebuah nasehat dari seorang petuah ini yang memberikan gagasan kepada setiap kaum cendekiawan dan para intelektual generasi muda bangsa. Agar memperbanyak pengalamannya dalam usia mudanya melalui kegemaran membaca, berdialektika di warung kopi atau di tempat yang terasa nyaman, dan menjalin relasi di berbagai macam daerah.

Melalui cara-cara ini sebuah kritikan akan mulai terbangun secara bertahap, mungkin dalam prosesnya kita akan mencari-cari kekurangan apa yang seharusnya di tutupi. Dengan menggunakan relasi teman yang berpengalaman pada bidangnya, hal semacam ini bisa kita lakukan dan kita atasi.

Melalui berbagai cara tadi secara tidak langsung kita akan memperoleh sebuah pencapaian dari usaha yang kita lakukan, yakni sebuah kritik. Melalui membaca khazanah keilmuan dan kosa-kata baru akan kita dapatkan secara tidak langsung. Sehingga semakin banyak yang kita baca maka semakin banyak kita akan mendapatkan solusi terbaik bagi sebuah masalah.

Sudah menjadi barang tentu, jika membaca ini sebaiknya di sandingkan dengan budaya menulis. Jika tidak ia akan terasa hampa, seperti membaca Al-Quran tapi tidak tahu maknanya.

Tahap selanjutnya adalah dengan melalukan dialektika dengan para kaum intelektual. Dalam proses ini tidaklah boleh untuk memandang dan membawah ras atau golongan yang di bawahnya. Sebab jika kita membawah ras atau golongan yang kita bawah, maka kita telah mementingkan ego, yang akan membuat orang lain tidak nyaman.

Maka jalan yang harus kita tempuh jika kita berdialektika dengan lain ras atau golongan adalah duduk dan membahas persoalan yang seharusnya di bahas dan memberikan solusi. Seperti pembahasan masalah fikih, pemerintahan dan pembahasan yang lebih universal.

Mungkin jika ingin membawah ras atau golongan, hendaknya ia berdialektika dengan para senior yang sesuai dengan golongan. Sebab, itu akan lebih baik dilakukan dan akan mengembangkan ras atau golongan yang dibawa.

Pada tahapan terakhir adalah dengan banyak menjalin relasi yang akan menguatkan entitas dan kekuatan dalam diri. Dengan banyaknya relasi kekuatan dalam diri dan penyelesaian masalah akan menjadi ringan. Seperti ungkapan petuah “berat sama dipikul, ringan sama di jinjing” yang berarti semua pekerjaan atau masalah akan teratasi dengan prosedur dengan baik, jika kita mengadakan kekuatan bersama.

Melalui pengalaman-pengalaman yang kita bangun dari tiga proses di atas, maka kita akan menjadi pribadi yang tangguh dan mempunyai jiwa hidup berbeda dengan berbagai pihak yang ada dan akan menjadi proklamator gerakan kebaikan di depan.

Sikap Dalam Memberikan Kritik

Memberikan sanggahan atau kritikan terhadap hasil karya atau pendapat seseorang harus mempertimbangkan agar tidak menyakiti salah satu pihak. Beberapa di antaranya adalah:

Pertama, Tidak menjatuhkan. Semua kritik adalah menjatuhkan. Sebuah stigma bagi kami adalah kesalahan fatal. Sebab sebuah kritik bisa membangun jika pemberi kritik memberikan solusi akan problem yang ada. Dan kritik yang membangun akan di sukai dari berbagai pihak sebab ia mampu memberikan solusi terbaiknya.

Berbeda dengan yang hanya mampu mengkritik dengan meniadakan solusi, mereka hanya menuruti ego dan nafsu belaka yang pada akhirnya mereka akan terdiskriminasi oleh keadaan.

Kedua, Usia. Merupakan adab dan tingkah laku orang Indonesia adalah memperhatikan dengan siapa ia berbicara baik kepada yang tua, mudah atau anak-anak. Terhadap orang tua hendaknya mendengarkan dan menjalankan perintah, meski menurut kita tidak baik. Dan yang perlu kita memahami adalah meski mereka tidak berpendidikan S1, akan tetapi pengalaman hidup mereka sangat berarti untuk mengombinasikan rana intelektual.

Terhadap yang muda, memberi kritik tidak boleh menjatuhkan, akan tetapi bagaimana ia bisa bangkit dan terbangun melalui kritikan. Meski itu terasa pedas dan terhadap anak-anak adalah memberikan kritik tidak boleh sampai menyakitinya, jika tersakiti maka anak-anak akan putus asa dan jengkel. Akan tetapi yang bisa kita lakukan adalah  dengan memberikan semangat juang akan kebaikan jika ia melakukan.

Ketiga, Bahasa yang digunakan. Tidak di sarankan jika berdialektika dengan generasi muda, yakni usia remaja  diberikan sebuah kata yang rumit yang sulit dicerna akal pikiran. Sebab jika di berikan maka ia akan terasa malas dan canggung, sehingga mereka akan menutup diri untuk berteman dan berdialektika dengan kita.

Mungkin sepata dua kata ilmiah yang harus di himpun dan di pikirkan oleh para remaja. Sebab jikalau tidak memberikan bahasa-bahasa asing terhadap mereka, maka mereka akan terkejut dengan dunia luar dan mereka akan tersingkirkan dengan para petarung yang tangguh, baik secara keilmuan atau kekreatifan.

Dari tiga poin ini yang seyogyanya  seorang memberikan kritik agar mendahulukan adab. Sebab Nabi pun mengajarkan agar adab menjadi fondasi membangun rana intelektual (keilmuan). Dan di era industri five to zero ini, di negara kita sendiri fondasi moral atau adab sudah minim. Sehingga peraturan norma masyarakat pun tidak di perhatikan lagi.

Mungkin sudah mementingkan bagaimana mendapatkan apa yang  ada di dunia ini. Padahal jika kita hanya orientasi dunia maka ujungnya tidak akan sampai, sebab dunia adalah tempat, ladang, jembatan bagi kaum beriman intelektual untuk mendapatkan segelintir kebaikan dan akan membuahkan hasil di akhirat kelak.

Editor: Rahmat

Terkait

Tags: IntelektualKritikKritik IntelektualKritik Positif
Previous Post

Ibnu Sina Seorang Pengembang Sains di Bidang Fisika

Next Post

Kebiasaan Dahsyat Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari Bagi Generasi Muda

Muhammad Haris Nurdiansyah

Muhammad Haris Nurdiansyah

Next Post
Kebiasaan Dahsyat Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari Bagi Generasi Muda

Kebiasaan Dahsyat Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari Bagi Generasi Muda

Comments 1

  1. Sima says:
    5 tahun ago

    Bukan hanya banyu wangi, kita semua perlu materi ini!

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.