Oleh: Muhammad Khasbi
Seperti yang pernah dikatakan oleh para pemikir yang jujur dan open minded bahwa ketika para peneliti berani jujur mengungkapkan hasil temuan-temuannya maka akan banyak sekali perubahan di sana-sini.
Hal yang perlu dilihat pertama jika para peneliti berani jujur terletak pada cara berpikir manusia secara umum. Cara berpikir manusia secara umum sebenarnya generalisasi yang terlalu sulit untuk dijangkau.
Tetapi untuk kepentingan argumentasi ini maka disimpulkan di sini bahwa cara berpikir secara umum adalah model cara berpikir yang setengah-setengah. Maksud dari setengah-setengah adalah pemikiran yang malu-malu untuk mengungkapkan kejujuran pemikiran kepada yang lain, terutama dalam ruang publik.
Jujur dan Open Minded
Keadaan cara berpikir yang tidak open minded ini banyak berakibat fatal. Misalnya saja jika kita punya keinginan untuk adzan pada sholat maghrib di suatu daerah yang tidak dikenal sebelumnya. Tak bisa mencapai keinginan itu karena cara berpikir yang tertutup tadi. Sebab kita lebih memilih untuk tak melakukan dialog apapun dengan (jama’ah) yang lain–yang bersangkutan–sehingga berakibat keinginan kita tak bisa tersampaikan dan terwujudkan.
Dan sangat jelas, seperti inilah contoh kasus kecil pikiran yang tak jujur dan tak open minded. Padahal jelas-jelas dalam hati terdapat keinginan untuk adzan sementara di saat yang sama pikiran menghalangi tercapainya keinginan hati tersebut. Berakhir pada sikap kita yang anti sosial.
Baca Juga: Ahmad Khan: Umat Islam Tertinggal Karena Tidak Punya Ilmu
Dalam banyak posisi lain yang serupa contoh kasus di atas, banyak sekali kasus-kasus di mana di situlah kejujuran kita diuji. Mampukah berpikir dan bersikap sama. Jika dalam hati bilang A, maka pikiran kita menjadi A dan tindakan kita adalah upaya perwujudan A tersebut. Satu kesalahan yang sering dilakukan adalah hati A, pikiran setengah A dan tindakan Z.
Dalam konteks ini juga logika dengan prinsip koherensi-nya dipertaruhkan. Logika membuat kita bisa lurus dalam berpikir. Sementara dalam bahasa yang lain, kejujuran membuat kita sesuai dengan prinsip-prinsip agama yang lurus. Tentu saja ini kesesuaian di antara dua dimensi yang dalam sejarah manusia selalu bertentangan (mungkin lebih tepatnya dipertentangkan) yaitu filsafat dan agama.
Agama vs Filsafat
Saya cukup was-was ketika dalam penelitian yang saya lakukan juga akan berakhir dengan kesia-siaan seperti dijelaskan di atas. Kebetulan saya sedang melaksanakan tugas akhir untuk skripsi yang bidang penelitiannya berkaitan dengan variabel agama dan variabel filsafat.
Saya tak perlu jelaskan lebih jauh skripsi itu. Hanya yang saya tekankan adalah bahwa ketakutan akan ketidakjujuran. Dengan, misalnya gambaran seperti ini: saya memaksakan bahwa agama itu sesuai dengan filsafat atau dalam bahasa yang lebih sinis, agama harus tunduk pada ateisme-saintisme-positivisme.
Jelas kegelisahan saya mulai memuncak. Berpikir tidak open minded dengan mengatakan bahwa antar dua variabel telah terjadi kesesuaian sama saja sia-sia. Bahkan lebih esktrem lagi; selama saya melakukan penelitian dan menghasilkan penelitian ternyata tak pernah sesuai dengan ajaran agama yang memegang prinsip kejujuran.
Bisa diperjelas dengan kata-kata bahwa saya telah menanggalkan agama yang diyakini saya dengan mengingkari keyakinan derivikasi saya sendiri. Padahal yang dimaksud iman haruslah holistik.
Intelektual Imitasi
Sementara ketakutan saya ini telah menjadi gejala sosial cukup serius di Indonesia, bahkan di dunia. Hasil penelitian yang terlalu memaksa untuk harus sesuai dengan hipotesa adalah ketidakjujuran itu tadi. Seroang penelitian yang jujur tak akan pernah mengubah hasil temuannya–kendatipun tidak sesuai hipotesa–dan cenderung kuat dalam prinsip.
Lebih dari itu, jika dianalisis; banyak peneliti sebenarnya menjilat pantat penguasa untuk mendapat ruang, beasiswa dan bantuan. Mereka merelakan nalar murni yang dimiliki seorang intelektual sejati untuk ditukarkan dengan kepentingan bersifat pragmatis dan merusak. Apa hasilnya? Tentu kenikmatan para intelektual imitasi yang semakin meningkat. Fasilitas disediakan penguasa; segala yang bersifat material.
Dunia hari ini jika kita mau jujur telah terisi penuh oleh sampah busuk oral mereka yang terwujud dalam karya-karya masterpiece. Lihat saja, sudah mencapai abad ke berapa kita hidup di dunia tapi tak pernah untuk tidak konflik, perang, membunuh, mengkoloni dan lain sebagainya. Abad ke 21 sebenarnya sudah cukup menunjukan untuk bagaimana belajar. Sejarah akan terus berulang jika kita (manusia) tak pernah belajar pada agen-agen sejarah dan peristiwa-peristiwa penting sejarah.
Baca Juga: Selalu Mencerahkan Meski di Tengah Wabah
Lalu apakah hasil penelitian para pakar itu, para sarjana fakultatif itu telah mampu menuju pada satu orientasi harmonisasi dunia? Hari ini para pakar atau sarjana fakultatif itu tak menunjukkan tanda-tanda menuju satu orientasi yang sama. Mereka semua berbeda. Mereka semua didasari kepentingan penguasa.
Degradasi Pemikiran Intelektual Akademisi
Kejujuran yang seharusnya adalah salah satu watak agama sekaligus karakteristik penting dunia ilmiah itu mereka tinggalkan begitu saja. Antara hati, pikiran dan tindakan tak sama. Kelalaian yang mungkin disengaja dijaga untuk meniadakan perebutan ruang menggiurkan milik kaum intelektual yang sebenarnya imitasi itu.
Seperti kata para pemikir postmodernisme: orang yang bingung dengan realitas dunia hari ini dia adalah postmodernisme. Postmodernisme adalah kritik terhadap modernisme. Pemikiran postmodernisme adalah pemikiran yang sedang bergulir kencang hari ini.
Kaum intelektual hari ini merepresentasikan kegagalan dalam sistem kerja dan produksi-produksi intelektualnya. Intimitas kaum intelektual yang bergaya sok objektif-rasional-empiris itu hanya gaya-gayaan yang sudah terlanjur jatuh dalam gaya intelektual imitasi.
Sekali lagi, saya mohon maaf jika ada yang merasa tersinggung dengan tulisan di atas. Dan sekali lagi, butuh kejujuran dalam hati yang terdalam bahwa kita selama ini bisa saja salah terhadap prinsip-prinsip yang dipegangi.
Penulis adalah Mahasiswa IAINU Kebumen dan Aktivis PMII Cabang Kebumen