Oleh: Tri Rizqi Rizaldi (Kader IPM Payaman)
Hari ini, 2 Mei 2026, linimasa kita kemungkinan besar akan dipenuhi oleh unggahan bertema Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Foto mengenakan jas almamater dengan kutipan legendaris Ki Hadjar Dewantara akan berseliweran.
Namun, di balik seremoni digital yang riuh itu, ada sebuah kenyataan pahit yang sengaja kita abaikan, yakni sebuah jurang yang semakin dalam antara kita, Mahasiswa yang bangga sebagai Generasi Z, dengan mereka yang kita sebut sebagai Generasi Alpha.
Kita sering membanggakan diri sebagai generasi paling “melek teknologi”, paling kritis, dan paling progresif. Namun, di tengah gemerlapnya personal branding dan ambisi mengejar karier di usia muda, kita luput akan satu hal kesalahan fatal. Kita salah, karena membiarkan adik-adik kita, Generasi Alpha, tumbuh dalam rimba digital tanpa kompas moral yang memberikan keteladanan tanpa sosok manusiawi didalamnya, sementara kita sibuk membangun menara gading intelektual diri sendiri.
Pertanyaan yang lebih mendasar sebelum mencerna lebih dalam adalah : Siapa yang sebenarnya memiliki otoritas untuk mendidik generasi selanjutnya?
Secara sosiologis, pendidikan bukan hanya soal transfer data dari guru ke murid di dalam kelas. Pendidikan adalah tentang “keteladanan” (Ing Ngarsa Sung Tuladha).
Masalahnya, mahasiswa saat ini cenderung mengalami krisis mentor organik. Kita merasa terlalu pintar untuk turun tangan menjelaskan mana yang baik dan mana yang benar kepada anak-anak yang sedang terpaku pada layar ponsel mereka tanpa tahu apa yang sedang mereka sibukkan disana.
Jika kita, yang sudah mencicipi bangku kuliah dan memiliki kapasitas untuk mencerna informasi, memilih untuk apatis dan menarik diri. Maka, jangan pernah menyalahkan keadaan jika otoritas mendidik itu diambil alih oleh algoritma-algoritma yang dibuat oleh oknum jahat yang menyetiri mereka yang belum bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Saat itulah kita gagal menjadi agen perubahan yang sesungguhnya.
Kita tidak bisa hanya diam di zona nyaman. Kita harus turun gunung ke platform publik yang mereka gunakan. Mahasiswa harus menjadi penyaring dan contoh teladan yang nyata di lapangan.
Menjaga jarak dari mereka hanya karena alasan gengsi atau malas verifikasi adalah bentuk pengkhianatan terhadap tanggung jawab sosial mahasiswa. Ini bukan hanya tugas para guru di sekolah, ini tugas seluruh generasi yang sadar dan paham, kepada generasi yang harus disadarkan dan dipahamkan.
Bahkan kita sendiri, sering menyebut Generasi Alpha saat ini sebagai generasi yang sulit diatur atau kecanduan gadget. Tapi bukankah itu cermin dari kegagalan kita? Banyak orang tua mereka yang gagap teknologi (gaptek) dan tidak mampu memberikan pendampingan yang mumpuni.
Di titik inilah mahasiswa seharusnya menjadi jembatan. Menjadi penghubung sekaligus memahamkan para orang tua untuk mengawasi apa yang dikonsumsi anak-anak mereka sekarang.
Jika melarang penggunaan gadget hampir tidak dapat diterapkan, maka solusi selanjutnya adalah pengawasan yang ketat sampai mereka mencapai usia legal bersosial media, Jangan sampai semuanya terlambat dan urusan moral ini berdampak jauh lebih buruk kedepannya.
Kita adalah generasi yang memiliki posisi unik, karena kita mengerti teknologi sefasih mereka, namun kita memiliki kematangan berpikir yang tidak mereka miliki. Jika kita tidak bersedia menjelaskan kepada para orang tua tentang bahaya digital, atau tidak mau menemani langkah kecil adik-adik kita dalam memahami realitas, maka kita sedang membiarkan sebuah generasi tersesat di depan mata kita sendiri.
Memperingati Hardiknas tahun ini seharusnya menjadi momentum bagi mahasiswa untuk sadar tentang realita dan bencana moral yang besar. Berhentilah menjadi mahasiswa yang elitis.
Jangan bangga jago membaca teori hukum atau sosial yang rumit. Namun, gagal menjelaskan etika sederhana kepada adikmu sendiri. Meluangkan waktu mengobrol dengan anak-anak di lingkungan sekitar, masuk ke ruang digital mereka sebagai sosok “kakak” yang membimbing, dan menjadi teladan nyata dalam berperilaku.
Kita harus merebut kembali otoritas pendidikan dari tangan algoritma. Kita harus membuktikan bahwa manusia, dengan segala empati dan moralitasnya, masih merupakan pendidik terbaik bagi sesamanya.
Jika hari ini kita masih memilih untuk masa bodoh dan hanya fokus pada ambisi pribadi, maka sepuluh atau dua puluh tahun lagi, jangan pernah mengeluh jika tatanan sosial kita rusak. Jangan salahkan Generasi Alpha jika mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak kita ekspektasikan.
Karena pada saat mereka membutuhkan kompas, kita justru sibuk mengagumi bayangan kita sendiri di cermin intelektualitas. Mengabaikan mereka yang membutuhkan kakak yang menjadi sosok teladan yang mereka banggakan, bukan kakak yang selalu mengolok-olok bahkan menjadikan mereka bahan candaan kelewatan batas jika mereka membuat kesalahan tanpa langsung diberi nasihat dan tuntunan yang menenangkan.
Gelar mahasiswa adalah mandat, bukan hanya sekedar status sosial. Saatnya kita menunaikan mandat itu.
Mari kita temani langkah kecil mereka, karena di tangan mereka pulalah, masa depan yang kita perjuangkan ini akan dititipkan. Saatnya mahasiswa turun gunung menghidupkan kembali “Ing Ngarsa Sung Tuladha” di depan memberi teladan.
Jika bukan kita, lalu siapa lagi? Jika tidak sekarang, maka kiamat keteladanan sudah di depan mata. Dan secara tidak langsung ini atas ulah kita yang memilih menutup mata dan telinga membiarkan mereka tersesat padahal kita tau arah benarnya mengarah kemana.