Oleh: Nahla Sholikhatul Mumtaza PD IPM KLATEN
Generasi Z dan Generasi Alpha tumbuh dalam lingkungan yang sangat dipengaruhi oleh teknologi. Banyak teknologi canggih yang dapat mempermudah dalam kehidupan sehari- hari. Kondisi ini menuntut adanya model kepemimpinan yang bersifat “Kolaboratif”. Yang artinya menggabungkan atau mengkolaborasikan kepemimpinan dengan dunia digital. Sekaligus dapat mengajarkan generasi muda agar tidak gagap teknologi atau gaptek. Di Tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat di zaman ini.
Kepemimpinan Kolaboratif menjadi pendekatan yang relevan karena menggunakan sistem kerjasama, partisipasi aktif, dan keterlibatan seluruh anggota dalam mencapai keputusan bersama. Generasi Z dan Generasi Alpha dikenal dengan pemikirannya yang kritis, terbuka terhadap perbedaan, dan biasa memberikan pendapat. Oleh karena itu, pemimpin di era ini perlu memiliki kemampuan untuk mendengarkan, menghargai ide, dan memberikan solusi, serta mampu menciptakan ruang diskusi yang aman dan nyaman.
Perlu diketahui, tugas pemimpin adalah sebagai fasilitator yang mengarahkan dan menuntun anggota tim agar dapat berkembang di dalam ruang lingkup yang sama. Salah satu karakter utama Kepemimpinan Kolaboratif adalah komunikasi yang terbuka. Pemimpin yang kolaboratif mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk membangun interaksi. Menjadikan platform digital sebagai media penyebaran informasi penting tentang organisasi.
Dengan komunikasi, anggota akan merasa dihargai dan memiliki rasa tanggungjawab terhadap tujuan bersama. Selain dengan komunikasi, Kepemimpinan Kolaboratif juga menekankan pentingnya kerjasama tim. Sebagian besar Gen Z dan Gen Alpha lebih senang mengerjakan tugas secara berkelompok agar bisa bertukar pendapat dan dapat berdiskusi untuk memecahkan masalah, mereka lebih menghargai lingkungan yang suportif. Pemimpin yang mampu membangun kepercayaan, akan lebih mudah mengajak anggota untuk berkontribusi secara aktif.
Kepercayaan ini dapat dibentuk melalui sikap adil, konsistensi, dan keterbukaan antar anggota. Keterbukaan atas kritik dan saran dari anggota merupakan bentuk evaluasi diri agar bisa lebih baik untuk kedepannya. Di Sisi lain, ada juga tantangan dari Kepemimpinan Kolaboratif yaitu, perbedaan pendapat
yang beragam dapat menyebabkan konflik apabila tidak dikelola dengan baik. Untuk menyikapi hal tersebut, pemimpin perlu memiliki kemampuan manajemen konflik dan kecerdasan emosional yang baik.
Selain itu, pemimpin juga harus memiliki Time Management yang baik. Artinya dapat membagi waktu antara kesibukan sehari – hari dan kesibukan organisasi dengan porsinya masing- masing. Kepemimpinan Kolaboratif juga berperan penting dalam menumbuhkan rasa tanggungjawab. Ketika anggota dilibatkan dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan, maka mereka akan merasa memiliki tanggung jawab terhadap hasil yang dicapai. Kepemimpinan Kolaboratif membantu menanamkan nilai bahwa keberhasilan bukan milik individu, melainkan hasil dari kerjasama tim.
Dalam konteks pendidikan dan organisasi pelajar. Penerapan sistem Kepemimpinan Kolaboratif menjadi strategi yang tepat untuk membentuk karakter pemimpin di masa depan. Dengan membiasakan berdiskusi, kerjasama tim, dan musyawarah. Generasi muda dilatih untuk berpikir kritis, menghargai perbedaan pendapat, serta mengambil keputusan secara bijak. Proses ini bukan hanya membentuk kepemimpinan, tetapi juga memperkuat nilai empati dan tanggungjawab sosial.
Contoh penerapan Kepemimpinan Kolaboratif dapat dilihat dalam lingkungan sekolah dan organisasi pelajar. Dalam sebuah organisasi seperti OSIS atau IPM, Kepemimpinan Kolaboratif melibatkan anggota melalui diskusi dan musyawarah rutin. Misalnya, dalam perencanaan program kerja, setiap anggota diberikan kesempatan untuk menyampaikan ide dan pendapat. Pemimpin berperan sebagai pengarah yang menyatukan berbagai pendapat yang telah diajukan oleh anggota, dari banyaknya ide yang masuk dapat dijadikan inspirasi untuk mengambil keputusan.
Dalam pelaksanaan kegiatan organisasi. Sebuah acara sedang diselenggarakan, tugas dibagi berdasarkan minat dan kemampuan dari masing – masing anggota. Generasi Z dan Generasi Alpha cenderung lebih ter motivasi ketika diberikan ruang untuk berkontribusi sesuai dengan potensinya. Dengan demikian, Kepemimpinan Kolaboratif mampu meningkatkan rasa tanggung jawab dan keterlibatan aktif seluruh anggota tim. Selain di lingkungan sekolah dan organisasi, Kepemimpinan Kolaboratif juga dapat diterapkan di dalam lingkungan sosial lainnya.
Kepemimpinan Kolaboratif juga dapat diterapkan dalam proses evaluasi dan refleksi bersama. Setelah suatu kegiatan selesai, pemimpin mengajak seluruh anggota tim untuk mengevaluasi jalannya program, baik dari segi keberhasilan atau kendala. Anggota diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat dengan bebas. Melalui proses ini, Gen z dan Gen Alpha belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang mencari siapa yang salah, melainkan mencari jalan tengah dari akar masalah melalui musyawarah dan belajar bersama memperbaiki diri.
Sebagai pelajar Muhammadiyah, kita tahu bahwa gaya kepemimpinan Muhammadiyah berbasis dalam sistem Kepemimpinan Kolektif – Kolegial. Yang sistemnya hampir sama dengan gaya Kepemimpinan Kolaboratif. Pendekatan kebijakan Kepemimpinan Kolektif – Kolegial mengandung nilai bayani ( teks ), burhani ( rasional/ ilmiah ), dan irfani ( spiritual ).