Penulis: Muthii’ah Aristawati
Perkembangan teknologi digital mengalami kemajuan yang sangat pesat dan memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga cara manusia berkomunikasi. Perubahan ini juga berdampak besar pada cara menyampaikan pesan keagamaan atau dakwah.
Dakwah yang dahulu identik dengan ceramah langsung di mimbar atau pengajian tatap muka, kini berkembang ke ruang digital. Salah satu teknologi yang sedang berkembang pesat dan mulai dimanfaatkan dalam berbagai bidang adalah Artificial Intelligence (AI). Kehadiran AI sering dianggap rumit dan berjarak dengan nilai keagamaan, padahal jika dimanfaatkan secara bijak, AI justru dapat menjadi peluang besar untuk dakwah yang lebih kreatif, efektif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Secara sederhana, Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan adalah kemampuan mesin atau sistem komputer untuk meniru cara berpikir manusia, seperti belajar, menganalisis, dan mengambil keputusan.
Menurut John McCarthy, seorang ilmuwan komputer yang pertama kali memperkenalkan istilah AI, Artificial Intelligence adalah ilmu dan rekayasa untuk membuat mesin cerdas, khususnya program komputer yang mampu melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia. Dalam konteks dakwah, AI dapat berperan sebagai alat bantu untuk mempermudah penyampaian pesan keislaman, bukan sebagai pengganti peran manusia.
Sementara itu, dakwah secara bahasa berasal dari kata da’a–yad’u yang berarti mengajak atau menyeru. Menurut para ulama, dakwah adalah usaha mengajak manusia kepada kebaikan, menyeru kepada ajaran Islam, serta mencegah dari perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Dakwah bukan hanya menyampaikan ceramah, tetapi juga mencakup keteladanan, tulisan, tindakan sosial, dan berbagai bentuk komunikasi yang membawa nilai kebaikan. Oleh karena itu, dakwah sangat mungkin menyesuaikan media dan metode sesuai dengan perkembangan zaman.
Jika menengok sejarah, dakwah di zaman Rasulullah SAW juga dilakukan dengan cara yang sangat kontekstual dan menyesuaikan kondisi masyarakat saat itu. Rasulullah tidak hanya berdakwah melalui lisan, tetapi juga melalui akhlak, surat-surat dakwah kepada para pemimpin, serta strategi komunikasi yang bijaksana.
Pada masa itu, teknologi yang digunakan adalah media yang paling efektif di zamannya, seperti pertemuan langsung, syair, dan surat tertulis. Hal ini menunjukkan bahwa esensi dakwah adalah menyampaikan kebenaran dengan cara terbaik sesuai kondisi zaman. Jika Rasulullah hidup di era digital, maka penggunaan media modern dan teknologi canggih sangat mungkin menjadi bagian dari strategi dakwah selama tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.
Di era sekarang, dakwah menghadapi tantangan yang berbeda. Masyarakat, khususnya generasi muda, lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial dan platform digital. Mereka cenderung menyukai konten visual, video singkat, desain menarik, dan bahasa yang ringan.
Dakwah yang terlalu kaku dan panjang sering kali kurang diminati. Di sinilah AI hadir sebagai alat bantu dakwah kreatif. AI dapat membantu menyusun ide konten, merangkum materi kajian menjadi lebih singkat, menyederhanakan bahasa dakwah, hingga membantu pembuatan desain poster, ilustrasi, dan konsep video dakwah.
Selain dalam pembuatan konten, AI juga berperan dalam sistem organisasi dakwah. Pengelolaan data anggota, penyusunan jadwal kegiatan, evaluasi program, hingga pengelolaan media sosial dapat dibantu dengan teknologi berbasis AI. Dengan sistem yang lebih rapi dan terstruktur, organisasi dakwah dapat berjalan lebih efektif dan terarah.
Tokoh Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa dakwah Islam harus bersifat mencerahkan dan berkemajuan. Dakwah tidak boleh tertinggal dari perkembangan zaman, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.
Menurut beliau, teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana dakwah yang membawa pencerahan, bukan sekadar mengikuti tren. Pemanfaatan AI dalam dakwah sejalan dengan semangat Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah, yaitu memadukan nilai keislaman dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam konteks dakwah masa kini, dakwah tidak lagi hanya berpusat pada mimbar dan ceramah formal. Dakwah kini dapat hadir melalui konten media sosial, tulisan inspiratif, desain visual, video edukatif, hingga pengelolaan komunitas digital. Dakwah menjadi lebih dialogis, partisipatif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Bagi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), AI membuka peluang besar dalam pengembangan dakwah pelajar yang kreatif dan inovatif. IPM yang memiliki basis kader muda dari generasi Z dan generasi Alpha merupakan kelompok yang relatif terbuka teknologi dan akrab dengan dunia digital. Hal ini menjadi modal besar dalam membangun dakwah digital yang sesuai dengan karakter generasi muda.
Pemanfaatan AI dalam dakwah IPM dapat diwujudkan melalui berbagai program dan kegiatan, seperti pembuatan konten dakwah digital berbasis AI, pengelolaan media sosial IPM secara terjadwal dan terstruktur, pembuatan poster dan video dakwah kreatif, serta pemanfaatan AI untuk membantu administrasi dan evaluasi program kerja. IPM juga dapat mengadakan pelatihan literasi digital dan AI bagi kader generasi muda, teknologi digunakan secara bijak dan bertanggung jawab.
Bagi generasi muda, khususnya kader IPM, dakwah tidak harus selalu dilakukan di atas mimbar yang selama ini lebih identik dengan generasi yang lebih tua. Dakwah dapat dilakukan melalui konten positif, desain kreatif, tulisan reflektif, pengelolaan komunitas digital, dan berbagai aktivitas produktif lainnya. Setiap keterampilan yang dimiliki kader muda dapat menjadi sarana dakwah jika dilandasi niat yang baik.
Pada akhirnya, Artificial Intelligence bukanlah ancaman bagi dakwah, melainkan peluang besar yang harus dimanfaatkan secara bijak. Dengan memadukan teknologi, kreativitas, dan nilai keislaman, dakwah dapat menjangkau lebih luas dan lebih relevan dengan perkembangan zaman. Bagi IPM dan kader muda Muhammadiyah, AI adalah sarana strategis untuk melanjutkan estafet dakwah Islam berkemajuan di era digital.