Oleh: Savira Arfa’a Azka
Di antara banyak tokoh besar yang pernah lahir dan tumbuh dalam rahim Muhammadiyah, nama Abdul Rozak Fakhruddin atau yang lebih dikenal sebagai AR Fakhruddin memiliki tempat yang istimewa. Ia bukan hanya seorang pemimpin organisasi, melainkan seorang pendidik jiwa. Ketika orang berbicara tentang Muhammadiyah, mereka sering mengenang keteguhan Ahmad Dahlan sebagai pendiri, tetapi ketika berbicara tentang keteladanan, kesederhanaan, dan kebijaksanaan, nama AR Fakhruddin hampir selalu hadir dalam percakapan. Kisah hidupnya bukanlah cerita tentang kemewahan atau kekuasaan. Ia adalah kisah tentang pengabdian yang panjang.
Tentang seseorang yang memilih hidup sederhana, tetapi meninggalkan pengaruh yang luar biasa besar bagi generasi setelahnya. Di tengah perjalanan Muhammadiyah yang terus berkembang, Embrio kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada 14 Maret 1964 di Yogyakarta diingat sebagai organisasi mahasiswa Islam yang menjadi wadah kaderisasi intelektual muda Muhammadiyah. IMM hadir dengan cita-cita membentuk akademisi Islam yang berakhlak mulia dan mampu mengabdikan ilmunya untuk masyarakat. Meski AR Fakhruddin bukan pendiri IMM, hubungan antara dirinya dan IMM sangatlah erat. Hubungan itu bukan sekadar hubungan organisatoris, melainkan hubungan nilai dan keteladanan.
Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang memimpin dalam waktu cukup panjang, AR Fakhruddin menjadi salah satu figur yang mewarnai arah pembinaan kader-kader muda Muhammadiyah, termasuk para aktivis IMM. Bayangkan seorang mahasiswa yang sedang mencari jati diri. Di satu sisi ia bergelut dengan buku-buku akademik, di sisi lain ia berhadapan dengan berbagai persoalan sosial di sekitarnya. Dalam situasi seperti itu, sosok AR Fakhruddin hadir sebagai teladan yang mengajarkan bahwa ilmu tanpa akhlak akan kehilangan arah, sedangkan akhlak tanpa ilmu akan kehilangan daya.
Karakter inilah yang kemudian menjadikan ruh dalam gerakan IMM. Organisasi ini tidak hanya mendorong kadernya menjadi mahasiswa yang cerdas, tetapi juga pribadi yang berintegritas, berjiwa sosial, dan memiliki komitmen keislaman yang kuat. Berbagai proses kaderisasi IMM hingga hari ini terus menekankan penguatan ideologi, intelektualitas, dan kepedulian sosial sebagai bagian dari pembentukan kader yang utuh. Tidak mengherankan jika nama AR Fakhruddin kemudian diabadikan menjadi nama berbagai cabang IMM di Indonesia, salah satunya Pimpinan Cabang IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta.
Penggunaan nama tersebut bukan sekadar penghormatan historis, tetapi juga simbol harapan agar kader-kader IMM mampu mewarisi nilai-nilai yang beliau perjuangkan: kesederhanaan, keikhlasan, kecintaan pada ilmu, dan keberanian untuk mengabdi kepada umat. Ada satu pelajaran penting yang dapat dipetik dari sosok AR Fakhruddin. Di zaman ketika banyak orang berlomba menjadi terkenal, beliau justru mengajarkan arti penting menjadi bermanfaat. Di saat banyak orang mengejar jabatan, beliau menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati adalah pelayanan. Dan ketika banyak generasi muda terjebak dalam perdebatan tanpa aksi, beliau memberikan teladan bahwa perubahan dimulai dari kerja nyata yang dilakukan dengan penuh ketulusan. Nilai-nilai tersebut masih hidup dalam tubuh IMM hingga hari ini.
Dalam berbagai forum kaderisasi, diskusi intelektual, gerakan sosial, hingga pengabdian masyarakat, semangat yang diwariskan AR Fakhruddin terus berdenyut. IMM tidak hanya berupaya mencetak mahasiswa yang unggul secara akademik, tetapi juga melahirkan kader yang mampu menjadi agen perubahan bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
Pada akhirnya, hubungan AR Fakhruddin dengan IMM adalah hubungan antara teladan dan pewaris nilai. AR Fakhruddin telah menyalakan obor yang menerangi jalan panjang perjuangan Muhammadiyah. Sementara IMM adalah generasi yang membawa obor itu ke masa depan. Selama nilai-nilai keilmuan, keislaman, dan kemanusiaan terus dijaga oleh kader-kader IMM, selama itu pula semangat AR Fakhruddin akan tetap hidup, menginspirasi, dan menerangi perjalanan bangsa. Lebih jauh lagi, pengaruh AR Fakhruddin terhadap kader-kader Muhammadiyah tidak lahir dari pidato-pidato yang berapi-api atau retorika yang mengguncang emosi. Justru sebaliknya, kekuatan beliau terletak pada kesederhanaan sikap dan konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai Islam. Banyak tokoh besar dikenang karena gagasan-gagasan monumental yang mereka tinggalkan, tetapi AR Fakhruddin dikenang karena kemampuannya menghadirkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menunjukkan bahwa dakwah tidak selalu dilakukan dari atas mimbar, melainkan juga melalui perilaku yang mencerminkan kejujuran, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap sesama. Bagi kader IMM sendiri, pelajaran semacam ini memiliki makna yang sangat penting. Dunia mahasiswa seringkali menjadi arena pertarungan ide, gagasan, dan identitas. Dalam dinamika tersebut, seorang kader tidak hanya dituntut mampu berpikir kritis dan menyampaikan argumentasi yang kuat, tetapi juga harus memiliki karakter yang matang.
Di sinilah nilai-nilai yang diwariskan AR Fakhruddin menemukan relevansinya. Beliau mengajarkan bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan kecerdasan moral. Bahkan, tidak sedikit kader IMM yang kemudian tumbuh menjadi akademisi, birokrat, pendidik, aktivis sosial, maupun pemimpin masyarakat. Keberhasilan mereka tidak hanya diukur dari jabatan yang diraih, tetapi juga dari sejauh mana mereka mampu menghadirkan kemaslahatan bagi lingkungan sekitarnya. Semangat inilah yang menjadi benang merah antara perjuangan AR Fakhruddin dan misi kaderisasi IMM. Keduanya sama-sama berupaya melahirkan manusia yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki komitmen untuk menjadikan ilmu tersebut sebagai sarana pengabdian kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan.