Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Mengapa Psikologi Positif Itu Penting dan Bagaimana Praktiknya Saat Ini

RedaksiKS by RedaksiKS
Februari 8, 2026
in Esai, Narasi
0
Mengapa Psikologi Positif Itu Penting dan Bagaimana Praktiknya Saat Ini
17
SHARES
99
VIEWS

Oleh: Muh Ramdani Ningkiula

Apa Itu Psikologi Positif

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Psikologi Positif adalah sebuah studi tentang kondisi dan proses yang menyebabkan berkembang dan berfungsinya secara optimal seorang individu, kelompok, dan sebuah institusi. Perkembangan yang dimaksud ini adalah perkembangan potensi-potensi positif yang merupakan bawaan sejak lahir dan telah dimiliki oleh setiap manusia. Psikologi positif memancarkan secercah harapan bahwa kajian psikologi agar lebih mencermati dan mengembangkan nilai-nilai positif yang ada pada diri manusia, yang selama ini terabaikan (Wiguna A, 2017).

Mengapa dan Pentingnya Psikologi Positif

Ilmu psikologi selama bertahun-tahun lebih banyak berfokus pada kajian mengenai gangguan mental, trauma, depresi. Semua kajian tersebut penting untuk memahami manusia, namun belum cukup untuk memahami manusia secara utuh sebab ada aspek positif dari manusia dalam perspektif psikologi yang sangat jarang menjadi pembahasan. Bahkan Abraham Maslow, tokoh kunci dalam Psikologi Humanistis, pernah menyebutkan “Toward a Positive and Personality” sebagai salah satu judul bab dalam bukunya Motivation and Personality.

Ia menulis bahwa ilmu psikologi lebih berhasil mempelajari dan memahami aspek negatif dari pengalaman manusia dan kurang berhasil dalam aspek yang lebih positif. Oleh karena itu, Psikologi Humanisme seharusnya mempelajari keseluruhan spektrum pengalaman manusia, termasuk kasih, keberanian, kreativitas, growth, pengalaman puncak, dan topik serupa (Maslow A, 1954, dalam Froh, 2004, dalam Irwanto & Gunawan F, 2018, hlm. 263).

Psikologi Positif menjadi penting karena membantu individu mengenali dan mengembangkan kekuatan diri yang dimiliki, ditambah psikologi sendiri bisa dikatakan cukup lama untuk menyadari untuk lebih banyak melakukan kajian-kajian teoritis mengenai aspek positif dari manusia, yang artinya kajian-kajian yang dilakukan selama ini belum cukup komprehensif untuk menjelaskan aspek psikologis manusia secara utuh. Psikologi positif bukan hanya hadir untuk menjadi pelengkap dalam kajian teoritis psikologi, namun juga memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia.

Psikologi positif bertujuan untuk mengkatalisasi suatu perubahan dalam psikologi, artinya tidak hanya memperbaiki sesuatu yang paling buruk dalam hidup, tetapi juga membangun kualitas terbaik dalam hidup dan memperbaiki ketidakseimbangan di waktu lalu. Aspek-aspek positif yang tidak tergali atau tidak terperhatikan dalam diri seseorang harus mulai dikembangkan. Pendekatan psikologi positif merupakan suatu langkah pemberdayaan individu dan masyarakat untuk membangun bangsa yang beradab (Yudhawati D, 2018).

Praktik Psikologi Positif saat Ini

Praktik psikologi dewasa kini diterapkan dalam berbagai aspek. Hal ini sejalan dengan apa yang menjadi rekomendasi Abraham Maslow seperti yang telah dibahas dalam tulisan di atas bahwa psikologi seharusnya mempelajari seluruh spektrum kehidupan manusia. Psikologi positif hari ini sudah dipraktikkan dalam aspek emosi, misalnya yang berarti kebahagiaan, bersyukur pada Tuhan dan orang lain.

Kepribadian sifat positif yang dirancang ahli psikologi positif seperti rasa ingin tahu, kreatif, keberanian, pikiran masa depan, optimisme, setia, etika kerja yang baik, akrab, kejujuran, baik hati, semangat, kepedulian, keadilan, ketekunan, dan memiliki kapasitas untuk mengalir dan mencerahkan (Seligman, 2002, dalam Yudhawati D, 2018).

Dalam praktik lain, misalnya manusia harus mempunyai institusi atau lingkungan yang positif dalam artian kehidupan yang positif (bermakna, puas dan bahagia serta produktif) hanya akan muncul secara maksimal bila kondisi lingkungan tempat manusia itu berada memiliki sifat-sifat positif. Para pakar umumnya sependapat bahwa hidup manusia sebagai individu sangat dipengaruhi institusi yang ada dalam kehidupannya. Institusi adalah keluarga (family), sekolah, organisasi kemasyarakatan dan budaya, institusi kenegaraan (society), dan institusi yang menentukan tatanan ekonomi politik global.

Untuk mengurangi stres kehidupan individu dalam masyarakat, tentunya semua lingkungan ini harus memiliki sifat-sifat positif untuk menghalau stres. Sifat-sifat positif yang harus ada dalam institusi kehidupan manusia (institusi rumah tangga, sekolah, tempat kerja, masyarakat, dan negara) yang mendukung pemunculan kekuatan karakter yang maksimal adalah sifat adil, peduli (caring), bertanggung jawab, beradab, toleransi, nondiskriminatif, saling mendukung, dan saling menghargai (Yudhawati D, 2018).

Psikologi positif merupakan pendekatan penting dalam ilmu psikologi yang berupaya memahami manusia secara lebih utuh dengan menekankan pengembangan potensi, kekuatan, dan nilai-nilai positif yang telah dimiliki sejak lahir. Kehadirannya menjawab keterbatasan kajian psikologi yang selama ini terlalu berfokus pada aspek negatif seperti gangguan dan patologi, sehingga kurang memberi ruang bagi pembahasan tentang kebahagiaan, makna hidup, dan aktualisasi diri.

Psikologi positif tidak hanya berperan sebagai pelengkap teori, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan individu dan masyarakat termasuk mahasiswa untuk membangun kualitas hidup yang lebih baik. Melalui praktik yang mencakup pengelolaan emosi positif, pengembangan karakter, serta penciptaan lingkungan dan institusi yang adil, peduli, dan suportif, psikologi positif berkontribusi nyata dalam membentuk individu yang sehat secara psikologis dan masyarakat yang beradab.

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: Mental HealthpendidikanPengembanganDiriPsikologiPositif
Previous Post

Bahaya Toxic Self-Talk yang Jarang Dibahas

Next Post

Amalan Malam Nisfu Sya’ban: Antara Rasionalitas dan Otoritas

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Amalan Malam Nisfu Sya’ban: Antara Rasionalitas dan Otoritas

Amalan Malam Nisfu Sya'ban: Antara Rasionalitas dan Otoritas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.