Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Melawan Radikalisme dengan Paradigma Sufistik

Hadi Pranoto by Hadi Pranoto
Juli 21, 2020
in Tasawuf
0
Kekerasan agama di Indonesia
51
SHARES
302
VIEWS

Seluk-beluk radikal yang kemudian menjadi konsep radikalisme secara umum banyak bersumber dari pemahaman Islam konservatif dan fundamentalis. Pemahaman (radikalisme) yang memperjuangkan pemurnian agama (sufistik) dan kembali ke ajaran Islam yang ‘asli’.

Jelas memicu benturan dan kontradiksi tak berkesudahan. Bagaimana tidak? Pemahaman secara literal terhadap sumber hukum Islam Qur’an dan Hadits, tanpa melihat konteks dan penjelasan oleh generasi sahabat yang terhubung hingga ke generasi sekarang. Sedikit banyak akan melahirkan cara pandang yang kaku, sempit, intoleran dan mau menang sendiri. Radikalisme-pun tak terelakkan.

TulisanTerkait

Ultimate Selfhood: Wacana Ontologis-Spiritual Seyyed Hossein Nasr

Tasawuf Sebagai Solusi di tengah Problematika Umat

Peran Tasawuf Sebagai Terapi Spiritual Modern

Radikalisme dan Sufistik

Islam sebagai ajaran tak bisa dipisah dari teks dan konteks, lahir dan batin. Kecenderungan hanya kepada teks dan melupakan konteks sama dengan menghilangkan aspek batin dalam Islam yang merupakan dasar sekaligus pijakan dalam beragama.

Sebaliknya, kecenderungan hanya kepada konteks dan melupakan teks sama dengan menghilangkan aspek lahir dalam Islam yang juga merupakan pijakan dan dasar beragama, mereka akan memiliki cara pandang ‘liar’.

Keduanya tak bisa dipisah seperti manusia yang juga terdiri dari aspek lahir dan batin. Seperti dalam bahasa Gusdur manusia tanpa  batin disebut mayit dan manusia tanpa lahir disebut demit. Mayit itu diam, kaku dan stagnan sedangkan demit, fleksible, liar tapi tak terlihat dan tidak jelas.

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa kecenderungan berpikir kaku yang Ujungnya mengarah pada radikalisme adalahaspek cara berpikir yang melulu bertumpu pada lahiriyah teks saja dan mengesampingkan aspek batindalam teks. Padahal aspek batin itu akan menunjang kekuatan lahiriyah pun sebaliknya. Hubungan simbiotik dan saling menguatkan ini setidaknya menjadi acuan melawan radikalisme yang semakin memilukan.

Tasawuf dan Paham Sufisme

Tasawuf atau sufisme yang merupakan pengajaran aspek batin dalam Islam perlu digencarkan sebagai penyeimbang dari cara berpikir yang tekstual. Tasawuf adalah ilmu untuk membaca dan memahami cara menyucikan batin sehingga berimbas pada akhlaqul karimah,membangun batin yang jernih dan lahiriyah yang sempurna. Pengamalnya disebut Sufi, berasal dari kata Suf ((صوفyang berarti ‘wol’, kain yang terbuat dari bulu domba yang sangat sederhana.

Posisi sederhana adalah bentuk ideal, berada ditengah-tengah antara dua kutub bersebrangan. Dalam hal ini tidak radikal juga tidak liberal. Posisi tengah-tengah yang merupakan bentuk kesederhanaan yangdi kalangan NU disebut ‘tawazun’, tidak serta merta dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari baik berpikir dan bertindak, tanpa menyelam lebih jauhkedalam sufisme.

Baca Juga: Pesantren Muhammadiyah Melawan Radikalisme

Sufisme sebagai  tata cara mengolah batiniah dalam upaya pendekatan kepada Sang Kholik yang menjadikan rasa (zhauq) dan hati (qalb) sebagai lingkup gerakannya. Butuh kejernihan serta ketulusan yang kuat. Hati yang merupakan penghubung ke kerajaan langit seperti kata al-Ghozali dalam kimiya-yi-sa’adat. Pada mulanya hati harus  disucikan dengan berbagai latihan-latihanuntuk bisa mengakses kerajaan langit, sebagai pendekatan kepada Sang Kholik.

****

Hati harus bebas dari cengkraman nafsu yang merusak, dan akhlak yang buruk. Seperti amarah yang berlebihan yang memicu anarkisme dan radikalisme yang banyak merugikan sesama.  Meski nafsu yang merusak ini tidak bisa dimatikan, karena ia bagian dari fitrah kemanusiaan. Tugas kita adalah mengendalikan agar tunduk pada perintah hati dan akal.

Dalam tamsilnya al-Ghozali mengatakan bahwa hati adalah raja,akal adalah perdana menteri sedangkan nafsu-nafsu tersebut adalah bala tentaranya. Sebagai raja hati harus memiliki kebijaksanaan tinggiagar perintah-perintahnya sejalan dengan kemaslahatan bersama. Proses pembersihan hati-pun harus diusahakan.

Bagial-Ghozali hati adalah cermin yang dengannya kita melihat pancaran sinar ketuhanan. Jika cermin itu penuh dengan daki karena penyakit-penyakit yang menempel. Cahaya ketuhanan akan terhalang masuk. Akibatnya hati akan gelap dan perintahnya atas dasar kegelapan nafsu yang merusakimplikasinya pada radikalisme dan terorisme pun bisa terjadi.

Dari Sufisme Hingga Pluralistik

Dalam sufisme penyakit-penyakit yang merusak hati tersebut dipelajari dan dihilangkan setahap demi setahap dengan latihan-latihan yang ketat (riyâdhoh), dengan bersungguh-sungguh (mujâhadah),penempuh jalan ini akan sampai pada penyaksian (musyâhadah).

Istilah maqâmat dalam sufisme sebagai tingkatan perjalanan spiritual seseorang memiliki dua aspek; jelas, dan samar. Aspek yang samar ini bagi al-Ghozali tidak mudah untuk dijelaskan kepada kebanyakan orang sehingga rentan dengan salah paham dan timbulnya fitnah, sehinggaal-Ghozali melarangnya. Jika terpaksa harus diceritakan maka bahasa simbolik dan isyaratlah yang digunakan. Boleh diceritakan asal level atau frekuensinya sama atau lebih tinggi lagi.

Sufisme telah banyak melahirkan konsep-konsep besar dengan implikasi toleransi yang tinggi tidak hanya kepada sesama pemeluk agama,antar agama yang berbeda-pun konsep tersebut dinilai ramah, seperti wahdatul wujûd, wahdatul ummah, wahdatul syuhûd, dan wahdatul adyân, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Problem Gender dalam Perspektif Sufisme

Wahdatul adyan adalah konsep tasawuf yang dibawa oleh para sufi seperti al-Hallaj, ibnu ‘Arabi, Jalâludin Rumi dan HazratInayat Khan. Konsep yang mengajarkan kesatuan agama-agama, sehingga melahirkan pandangan yang pluralistik.

****

Diri dan alam ciptaan ini dipandang sebagai karya agung Sang Pencipta, sehingga semua keaneka-ragaman ciptaan tak lain hanya sebuah bentuk dengan hakikat yang sama.Tidak ada alasan tidak menerima perbedaan itu,sebab pada ujungnya yang dilihat adalah Keagungan Sang Pencipta.

Belum lagi tentang mahhabbah atau cinta yang diusung oleh Rabi’atuladawiyah. Konsep-konsep dalam tasawuf dinilai relevan sebagai penyeimbang, atau bahkan melawan radikalisme. Ajaran-ajarannya tentang kerendahan hati, toleransi, keterbukaan, salaing menghargai, lemah lembut dan cinta yang dikemas dalam konsep-konsep besar di satu sisi dan sederhana di sisi yang lain. Tentu sangat mampu menjawab pertanyaan bagaimana radikalisme diatasharus dihadapi?

Penulis adalah Alumni dari Pondok Pesatren Al-Falah Jember

Editor: Dartim I.R.

Terkait

Tags: PemikiranradikalismeSufismetasawuf
Previous Post

YDSF: Lembaga Amil Zakat yang Peduli Rakyat

Next Post

Meluruskan Sejarah, “Pendidikan dan Pesantren” Muhammadiyah

Hadi Pranoto

Hadi Pranoto

Next Post
Meluruskan Sejarah, “Pendidikan dan Pesantren” Muhammadiyah

Meluruskan Sejarah, "Pendidikan dan Pesantren" Muhammadiyah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.