Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Ketika Pesantren hanya Mengajarkan Patuh Tanpa Berpikir: Pengaruh Sistem Pesantren Terhadap Keberanian Santri dalam Bersuara

Raissatunnisa Luthfiah by Raissatunnisa Luthfiah
April 6, 2026
in Akhlak, Esai, Narasi
0
Ketika Pesantren hanya Mengajarkan Patuh Tanpa Berpikir: Pengaruh Sistem Pesantren Terhadap Keberanian Santri dalam Bersuara
13
SHARES
76
VIEWS

Oleh: Raissatunnisa Luthfiah

Pondok pesantren merupakan institusi pendidikan yang menjadi pusat dakwah dan penyebaran nilai-nilai islami. Pasti kerap kita dengar dan ketahui bersama, salah satu ciri khas dari sistem pendidikan di pondok pesantren khususnya yang bercorak tradisional atau salaf adalah ta’dzimul ustadz. Secara keagamaan ini merupakan nilai yang sangat terpuji, namun secara praktis seiring perkembangannya, hal ini diterjemahkan sebagai ketundukan sepenuhnya/total terhadap guru dan kyai.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Dalam praktik sehari-hari istilah ini kerap berubah dan disalah artikan sebagai taklid buta. Contoh konkretisasi dari istilah ini adalah para santri yang hanya menerima apa yang dikatakan gurunya tanpa adanya filter, tanpa analisa, tanpa berani mengajukan pertanyaan yang bersifat klarifikatif.

Padahal mencari kejelasan, meminta penjelasan terhadap hal yang bersifat rancu, atau sekedar memastikan benar tidaknya suatu pemahaman merupakan hal yang sangat dianjurkan dalam islam, guna menghindari kesalahpahaman atau bahkan fitnah. Di lingkungan religius yang sangat menempatkan adab diatas segalanya, santri yang terlalu banyak bertanya bisa dicap sebagai orang yang memiliki su’ul adab atau kurang sopan. Tentu label tersebut dianggap berat dan tercela.

Bagi siapapun yang pernah menuntut ilmu di pondok pesantren tradisional pasti pernah mengalami momen dimana ketika ustadz atau kyai sedang berbicara, suasana ruangan berubah menjadi senyap, tidak ada yang berani berbicara, bertanya, apalagi membantah.

Hal itu bukan selalu berarti karena materi yang disampaikan terlalu memukau sehingga membuat audiens speechless, namun karena tidak ada satupun santri yang merasa berhak bersuara di forum tersebut. Mereka menganggap diam bukan bodoh, diam itu sopan, diam itu tanda hormat. Mereka tidak bodoh, mereka hanya tidak diajarkan bahwa suara mereka layak untuk disampaikan.

Tidak perlu kita ragukan bahwa pondok pesantren sebagai sentral penyebaran agama islam selama berabad-abad di nusantara telah melahirkan ulama besar, cendekiawan, bahkan pemimpin negara sekalipun dengan sistem pendidikannya. Namun yang sering luput dari perbincangan masyarakat adalah bagaimana sistem yang berjalan ini bisa mengikis keberanian santri dalam bersuara, bertanya, dan menyampaikan pendapat, baik secara sistematis atau seringkali tanpa disadari.

Tempat mulia yang dimana banyak ulama besar yang terlahir dari rahimnya, disisi lain juga bisa melahirkan orang yang lebih pandai membaca teks-teks klasik daripada membaca realitas. Tempat yang mencetak generasi penghafal al-Qur’an diwaktu yang sama juga bisa menjadi tempat yang mematikan suara.

Pondok pesantren tradisional membangun identitas para santrinya menjadi pribadi yang patuh. Santri yang baik dalam kacamata pesantren adalah santri yang taat, patuh, disiplin, tidak neko-neko, dan tidak banyak membantah.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Alvian Fajar Subekti & Hermien Laksmiwati tahun 2019, dalam tulisannya yang berjudul “Hubungan Antara Religiusitas Dengan Kepatuhan Santri Dalam Mentaati Aturan di Pondok Pesantren”, disimpulkan bahwa religiusitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepatuhan santri di pondok pesantren. Semakin tinggi tingkat religiusitas seseorang, maka semakin tinggi pula tingkat kepatuhannya terhadap aturan.

Dengan kata lain, nilai-nilai keagamaan berperan penting dalam membentuk perilaku disiplin dan ketaatan santri. Sehingga pondok pesantren sebagai tempat memperdalam ilmu agama dengan lingkungannya yang mendukung penginternalisasian nilai-nilai islami yang dipelajari, menghasilkan seorang “santri yang baik”.

Kepatuhan total apabila dipotret dari luar memang terlihat seakan-akan seperti hal yang baik bahkan ideal, namun disisi lain hal ini bisa menimbulkan kondisi psikologis yang disebut learned helplessness, yaitu kondisi dimana seseorang percaya bahwa dia tidak memiliki kendali atas apa yang terjadi pada dirinya sehingga menimbulkan pikiran bahwa tindakan yang dia lakukan tidak berarti.

Di lingkup pondok pesantren, seseorang yang mengalami kondisi ini akan merasa respon aktif dari mereka baik itu berupa tindakan maupun perkataan tidak relevan untuk disampaikan atau bahkan tidak diinginkan. Terkadang tanpa disadari hal ini menyebabkan efek jangka panjang, dan bisa dilihat jelas ketika berada di forum diskusi, tidak sedikit dari mereka cenderung memilih diam meski sebenarnya memiliki argumen yang kuat. Mereka diam bukan karena tidak tahu tapi karena mereka tidak terlatih untuk percaya bahwa suara mereka layak untuk didengarkan.

Perlu digaris bawahi bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan atau menyerang pihak pondok pesantren sebagai institusi pendidikan berbasis islam. Pondok pesantren merupakan warisan peradaban yang sangat luar biasa. Kini telah banyak pondok pesantren yang mengintegrasikan nilai-nilai kritis dalam kurikulumnya. Contohnya adalah pondok pesantren Darussalam gontor dengan sistem pendidikan debatnya, dan beberapa pondok yang mengedepankan riset keilmuannya. Hal ini telah membuktikan bahwa tradisi dan kebebasan berpikir dapat berjalan secara beriringan.

Masalah yang saya uraikan lebih merupakan produk dari interpretasi tradisi yang kaku, bukannya tradisi itu sendiri. Pondok pesantren tidak perlu menghilangkan tradisinya secara keseluruhan dalam membentuk jiwa santri yang ta’dzim, yang perlu diubah adalah bagaimana tradisi itu diwariskan.

Ta’dzim kepada ustadz bukan berarti ketakutan untuk menanyakan atau menyampaikan sesuatu, justru saling menyampaikan argumen yang bersifat akademis dianjurkan dalam proses pembelajaran, guna mengetahui sudut pandang dari setiap orang, seperti halnya yang dilakukan oleh ulama-ulama besar kita terdahulu.

Pesantren yang ideal adalah pesantren yang mampu mencetak santrinya menjadi pribadi yang holistic dalam keilmuan dan keberanian bersuara, yang beradab dan tahu kapan waktunya berbicara. Pada akhirnya diam memang bisa menjadi emas, namun bangsa ini juga membutuhkan santri yang bisa menyampaikan gagasannya, meski suaranya bergetar, meski belum sempurna, meski bertentangan dengan hal yang dianggap masyarakat sebagai hal yang lazim. 

Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir

Terkait

Tags: Islampesantrensantri
Previous Post

Self-Love atau Self-Ish? Membangun Harga Diri Tanpa Melupakan Fitrah Manusia

Next Post

KOPMA UMS Dorong Profesionalisme Berbasis Nilai Islam via Halal Bihalal

Raissatunnisa Luthfiah

Raissatunnisa Luthfiah

Next Post
KOPMA UMS Dorong Profesionalisme Berbasis Nilai Islam via Halal Bihalal

KOPMA UMS Dorong Profesionalisme Berbasis Nilai Islam via Halal Bihalal

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.