Oleh: Latifah Nur Azizah (Anggota Bidang RPK PK IMM FAI)
Identitas Buku
Judul Buku : Dari Pesantren ke Jalanan
Penulis : Ramadhanur Putra
Penerbit : MD Publisher
Tahun Terbit : 2024
Jumlah Halaman : 234
Ikhtisar :
Buku ini merupakan kumpulan esai yang ditulis oleh Ramadhanur Putra. Beliau merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 2021-2024 pada Program Studi Agama Islam dan merupakan aktivis kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Komisariat Fakultas Agama Islam.
Pada pengantar buku ini saya tertarik dengan satu kalimat “Dengan merawat kegelisahan intelektual, buku ini tidak akan menjadi satu satunya karya yang ia hasilkan hingga kemudian hari. Selamat membaca sesuatu yang tidak selalu tertulis. Selamat menuliskan sesuatu yang tak langsung terbaca.” Maksud dari tulisan ini sangat menarik karena menurut saya seorang penulis tidak langsung mengucapkan kata kata agar pembaca terdorong untuk mempertanyakan, mencari untuk terus menumbuhkan rasa ingin tahu serta pembaca diajak untuk menulis hal hal yang mungkin tidak mudah dipahami orang lain secara langsung tetapi memiliki makna yang dalam.
Kemudian masuk kedalam esai nya yang berjudul “RKUHP” yang isinya tentang etika profetik yang dijelaskan oleh Kuntowijoyo. Islam adalah agama perjuangan dan senantiasa membawa perubahan. Islam bukan agama formalistik atau ritualistik semata yang mensyaratkan umatnya untuk memikirkan ibadah dirinya sendiri kepada Tuhan, melainkan agama yang transformatif dan menjunjung nilai nilai kemanusiaan. Islam tak mengajarkan kita untuk egois dan individualis melainkan paham dengan realitas sekitar serta menuntun kita untuk selalu memiliki sikap ta’awun, dakwah dan peka terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Dalam esai ke 4 yang berjudul “Ramadan”, membahas kehadiran ramadan yang setiap tahunnya lebih sebagai ‘miniatur’ agenda transformasi sosial. Kemuliaan satu bulan dalam setiap tahun ini ternyata tidak hanya terdapat pada amal ibadahnya. Akan tetapi, mampu memberikan gambaran agenda transformasi sosial yang harus dilakukan secara totalitas dan kontinu.
Landasan epistemologi pensyariatan ibadah puasa yang termanifestasi dalam Q.S. Al baqarah ayat 83, bahwasanya puasa diharapkan dapat membentuk insan yang bertakwa. La’allakum Tattaqun’ kalimat penutup dalam akhir ayat itu secara jelas menyimpulkan bahwa output yang diharapkan dari ibadah puasa adalah ketakwaan pada diri orang yang beriman. Iman dalam makna filosofinya adalah tauhid yang menancap dalam diri seorang hamba.
Prinsip perjuangan umat islam yang seharusnya kita lihat dan kita lakukan karena Islam merupakan agama, harus memiliki sifat humanisasi yang artinya memanusikan manusia sesuai dengan fitrahnya, membebaskan manusia dari struktur yang mencekam dengan memperjuangkan hak dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Prinsip kedua adalah Islam merupakan agama pembebasan atau liberasi, Seperti mencegah kemungkaran sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Pembebasan dari segi struktur seperti membuat kebijakan dan peraturan yang berpihak pada kaum lemah. Prinsip yang ketiga yakni Islam sebagai pencerahan. Sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, prinsip perjuangan harus dapat mencerahkan umat alam semesta.
Tiga Pilar Utama Ilmu Sosial Profetik dalam buku Bapak Kuntowijoyo atas penafsirannya terhadap Al Quran surat Al Imran ayat : (110) terdapat misi islam yang bersifat universal. Yakni Humanisasi (emansipasi, liberasi dan transendensi) ketiganya sangat berpengaruh. Gagasan teori ISP Kuntowijoyo ini sepintas menggemakan teori sosial kritis Mazhab Frankfurt yang hanya menekan pada dimensi humanisasi dan liberasi saja. Sedangkan ISP menumbuhkan dimensi transendensi sebagai salah satu pilar penting dalam menjemput transformasi sosial.
Pertama, pilar humanisasi (emansipasi): amar ma’ruf manusia seutuhnya yang menjadi aktor dalam kehidupan di alam semesta. Gelombang proses perkembangan zaman hari ini, Seolah mengisyaratkan manusia cenderung mengalami reduksivitas fungsi dan haknya dalam struktur sosial. Kedua, pilar liberasi: nahi-munkar adalah proses pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan. Pembebasan manusia dari tirani kemiskinan, penindasan, penghisapan, dan seterusnya. Ketiga, pilar transendensi: tu’minuna billah yakni kesadaran transendental terhadap hakikat kemanusiaan di tengah berbagai problematika yang melanda umat manusia.
Kemudian saya juga tertarik pada esai beliau yang berjudul “Mari Kita Bercerita”. Di dalamnya mengatakan bahwa “Hidup terlalu dinamis dan kompleks. Bersengkarut dan tak semua yang mampu mengurai benang kusutnya.” Menurut pemahaman saya, kalimat ini sangat bermakna bahwa kehidupan ini sangat berubah-ubah dan rumit. Banyak masalah atau situasi yang saling terkait dan sulit untuk diselesaikan, sehingga tidak semua orang mampu menemukan solusi atau jalan keluar dari kesulitan tersebut. Ini mengandung makna tentang tantangan hidup yang penuh konflik dan ketidakpastian. Yang pasti ketika kita di titik terendah dalam hidup cobalah sejenak untuk selalu menghubungkan titik-titik yang mengantarkan kita kedalamnya, menganalisis bagaimana kejadian bisa terjadi.
Ketika kita berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, cobalah mengingat cerita yang menyenangkan di masa lalu dan mengingat apa yang membuat kita tertawa ketika melewati dunia ini. Cobalah pergi ke tempat tempat yang membuat kita lebih bersyukur.
Analisis :
Penulis berhasil menghadirkan kumpulan esai yang mudah dipahami, serta dijadikan contoh yang perlu diikuti. Gaya bahasa yang dipilih sederhana sehingga pesan moralnya terasa lebih mendalam dan relevan. Penulis juga mengungkapkan rasa yang mendalam agar pembaca lebih memahami dengan mudah isinya.
Kesimpulan :
Dari buku yang sudah saya baca “Dari Pesantren Ke Jalanan”, banyak sekali pelajaran yang dapat diambil. Mahasiswa mempunyai tanggung jawab besar terutama dalam konteks gerakan. Mereka harus mampu memasukkan nilai nilai Islam dalam sebuah gerakan yang nyata, terutama dalam mewujudkan Islam sebagai agama Rahmatan Lil’alamin yang memberikan rahmat bagi seluruh alam semesta. Buku ini merupakan bentuk semangat anak muda yang berusaha mencatat sejarah untuk membawa perubahan positif bagi kehidupan di masa depan.
Editor: Zahfa Almedina