Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Kesamaan Ajaran Stoicism dengan Nilai Islam

RedaksiKS by RedaksiKS
Juni 29, 2023
in Ulûm ad-Dîn
0
Menyoal Istilah Ekstrem Kanan-Kiri dalam Agama
48
SHARES
285
VIEWS

Pada saat penulis menginjak kelas 12 SMA waktu dimana bagi seorang remaja mulai harus menentukan tujuan hidupnya. Antara kerja atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pilihan hidup ini terus menghantui sang penulis selama berbulan-bulan, hingga menemukan suatu rekomendasi buku di internet tentang Stoicism. Buku tersebut berjudul “Filosofi Teras”.

Penulis akhirnya tergugah untuk membeli dan membaca buku tersebut. Setelah beberapa hari membaca, penulis merasa terbuka pikiran dan membuatnya melupakan semua masalahnya tentang pilihan hidupnya yang  membingungkan. Namun begitu penulis masih dibingungkan dengan isi buku tersebut yang memiliki banyak kesamaan ajaran dengan agama islam.

TulisanTerkait

Rausyanfikr di Era Digital: Membaca Peran Intelektual Muda melalui Pemikiran Ali Syariati

Membaca Gaya Hidup Generasi Digital melalui Perspektif Jean Baudrillard

Fiqh Al-Rahmah dalam Krisis Empati: Filantropi Islam sebagai Jalan Kepemimpinan Transformatif

Oleh karena itu, penulis akan memaparkan apa saja kesamaan antara Stoicism dengan ajaran agama islam itu sendiri. Terutama dalam kajian tasawuf, dan juga bagaimana hukumnya seorang muslim mengamalkan ajaran yang ada di buku tersebut.

Sejarah Lahirnya Stoicism

Stoicism didirikan oleh Zeno seorang pedagang kaya raya dari Sipru. Pada saat itu Zeno sedang melakukan perjalanan dagang dari Phoenicia ke Peiraeus dengan menaiki kapal. Namun ditengah perjalanan kapal tersebut karam dan menyebabkan Zeno terdampar di Athena. Selain itu juga dia kehilangan seluruh dagangan dan harta bendanya.

Di Athena dia sendiri tanpa sanak keluarga dan teman satu pun, hingga suatu hari ia mengunjungi suatu toko buku. Ia menemukan buku filsafat yang menarik. Setelah itu dia bertanya kepada pemilik toko, “di manakah aku dapat bertemu dengan filsuf-filsuf seperti penulis buku ini?”. Secara kebetulan saat itu terlihat Crates (Filsuf Aliran Cynic) sedang melintas. Sang pemilik toko pun menunjuk kepada Crates sehingga Zeno pun mengikutinya dan belajar filsafat kepadanya.

Seiring berjalannya waktu Zeno terus belajar filsafat dari berbagai filsuf dan mulai mengajarkan filosofinya sendiri di sebuah teras berpilar. Teras dalam bahasa yunani adalah Stoa . Oleh karena itu, nama Stoicism diambil dari kata Stoa karena filsafat ini berdiri dan diajarkan di sebuah teras berpilar.

Kesamaan Ajaran Stoicism dengan Ajaran Agama Islam

Tujuan utama dari ajaran Stoicism adalah mencapai kehidupan yang bahagia. Pengertian bahagia dalam Stoicism adalah terbebas dari segala macam emosi negatif seperti marah, sedih, curiga, cemas, cemburu dan lain sebagainya. Dalam islam tujuan seorang muslim beribadah adalah untuk mendapat ridha Allah SWT yang mana ketika seorang muslim telah malaksanakan segala hal yang di perintahkan dan meninggalkan segala hal yang di larang oleh-Nya. Maka kita akan mendapat kebahagian dunia dan akhirat.

Kebahagian dalam sudut pandang seorang Sufi adalah ketika kita tidak terikat oleh hal-hal yang bersifat duniawi. Segala hal yang bersifat keduniawian akan menyebabkan kita mudah terlena. Ketika kita terlena kita akan lupa dengan-Nya, yang pada akhirnya kita dihinggapi sikap-sikap tercela seperti ketika kita terlalu terikat dengan harta benda yang kita miliki. Kita jadi lupa siapa yang memberi rezeki tersebut, hingga suatu ketika Allah mengangkat seluruh harta kita, dan kita jadi sedih, marah, dan menyalakan keadaan. Bahkan yang paling parah sampai pada menyalakan-Nya.

Sehingga dapat kita tarik benang merah meskipun tujuan utamanya berbeda. Tapi pada dasarnya terdapat kesamaan yakni sama-sama tidak menganggap hal-hal yang bersifat duniawi sebagai sumber kebahagiaan. Jika Stoicism menganggap kebahagian adalah terbebas dari emosi negatif. Namun islam menganggap semakin dekat dengan Allah maka kita kan semakin bahagia. Selain itu juga sama-sama bertujuan untuk membebaskan diri dari segala sifat tercela sehingga membuat kita bisa lebih fokus kepada hal lain. Yakni dengen terus mendekatkan diri kepada-Nya.

Tujuan lain dari Stoicism adalah ”Hidup Mengasah Kebajikan” yang terbagi menjadi 4; kebijaksanaan, keadilan, keberanian, menahan diri. Maksud dari kebijaksanaan ini adalah kita dapat mengambil keputusan terbaik didalam situasi apapun. Artinya dalam melakukan apapun kita harus menggunakkan akal kita serta selalu berhati-hati agar tidak jatuh kepada hal-hal buruk yang tidak diinginkan.

Seperti contoh diatas ketika kita memiliki harta yang banyak jika kita barengi dengan akal yang baik. Maka kita dapat mengontrol dengan baik harta tersebut. Sebaliknya jika kita tidak menggunakan akal dalam hal ini di kuasai oleh nafsu, maka kita akan terjerumus ke dalam hal yang tidak di inginkan. Sama dengan apa yang ada dalam islam sendiri kita selalu di larang untuk mengikuti hawa nafsu karena sifatnya yang pasti merusak sebaliknya akal yang di barengi dengan rasa dalam hati akan menjadi hal yang baik.

Stocism sangat menekankan pada penggunaan akal karena hanya itu satu-satunya hal yang membedakan manusia dengan hewan, ketika akal kita tidak berfungsi makan kita selayaknya hewan, dan konsep ini sama dengan apa yang ada dalam Islam bahwa akal sendiri mendapat kedudukan yang sangat tinggi karena dapat menunjukkan kebenaran dan kebatilan.

Keadilan yakni memperlakukan orang lain secara adil dan jujur, konsep ini sangat sulit di lakukan karena kita sering kali terbiasa dengan apa yang kita beri, maka itu yang harus kita dapat contohnya ketika seseorang berbuat baik kepada tetangganya. Maka seseorang tersebut merasa tetangganya juga harus berbuat baik pada kita. Konsep keadilan dalam Stoicism tidak lah sesimpel itu melainkan lebih kompleks. Stoicism percaya bahwa keadilan akan selalu membawa kebaikan kepada seluruh alam semesata.

Hukum Mengamalkan Ajaran Stoicism

Jika kita kaitkan pada kasus di atas, seorang Stoicism tidak akan menuntut tetangganya untuk berbuat baik kepadanya melainkan dia akan lebih berfokus pada apa yang bisa di lakukan yakni terus berbuat baik dan adil, urusan tetangga tersebut mau membalasnya dengen kebaikan atau tidak itu bukan urusan seorang Stoicism lagi karena sudah berada di luar kendalinya yang mana jika seorang Stoicism terlalu berharap atau bahkan memaksa agar si tetangga berbuat baik kepadanya, itu hanya akan menyebabkan kita tidak tenang dan cemas dan ini berlawanan dengan tujuan Stoicism yang ingin hidup bebas dari emosi negatif.

Dalam islam kita sendiri mengenal konsep Fastabiqul Khairat yakni berlomba-lomba dalam hal kebaikan tanpa peduli timbal balik apa yang kita dapat nantinya yang memiliki tujuan sama dengan Stoicism yakni terus berbuat baik kepada sesama.

Setelah membaca pemaparan di atas kita tahu bahwa memang ada kesamaan dan masih banyak ajaran-ajaran Stoicism yang memang memiliki kesamaan dengan ajaran agama islam sedangkan bagaimana hukumnya? menurut penulis mengamalkan ajaran Stoicism bukanlah hal yang di larang karena itu tidak menyalahi aturan yang ada dalam islam itu sendiri, selain itu juga apa yang ada di Stocism ternyata juga ada dalam agama islam yang mana itu dapat memperluas khazanah pemikiran kita agar lebih terbuka.

Penulis : Ahmad Thoriqu Zaki (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)

Terkait

Previous Post

Analisis Kontroversi Sholawat yang Diharamkan

Next Post

Syeikh Yusuf Al-Makassari: Sufi Pejuang

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Syeikh Yusuf Al-Makassari: Sufi Pejuang

Syeikh Yusuf Al-Makassari: Sufi Pejuang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.