Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Jihad Muhammadiyah itu Berbayar

Nurbani Yusuf by Nurbani Yusuf
Desember 20, 2020
in Esai
0
Jihad muhammadiyah
20
SHARES
115
VIEWS

Di Muhammadiyah tak ada anggaran bikin tandu untuk sambut pemimpin. Isu egaliter lebih dominan dibanding tentang mulianya nashab. Semua dilihat sama, bergantung prestasi. Yang paling mulia diantara kami adalah yang paling bertaqwa. Sebab itu di Muhammadiyah tak ada Habib, Syarif atau Sayyid

Isu tentang kesejahteraan sosial (social walfare), pendidikan berkualitas, demokrasi, keadilan, kesenjangan sosial, toleransi lebih dominan dibanding dengan isu-isu sektarian dan sara.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Sejak awal Kyai Dahlan menolak formalisme dan strukturalisme sebab itu beliau pernah menolak ketika beberapa santrinya mengusulkan agar ‘Sopo Tresno’ diubah menjadi sebuah organisasi. “Nanti engkau akan sibuk ngurus organisasi ketimbang pergerakan,” kata Kiai Dahlan ringkas. Kalian juga tak usah repot-repot ngurusi diriku.

Muhammadiyah memberi ruang luas dan spesial bagi kadernya untuk berkompetisi, berlomba-lomba berbuat bajik, ‘fastabiqul khairat’ menjadi salah satu jargon paling populair dan diminati, dibanding menjadi paderi atau pasukan berani mati.

Bukan nyawa tapi harta. Kami juga berani mati tapi ada saatnya. Jihad tak melulu identik dengan setor nyawa, bahkan harta lebih perlu dan didahulukan. Allah berfirman: “Berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”. (At-Taubah 9:20).

Muhammadiyah menghargai kerja keras, ikhlas, dan tulus. Para ulamanya bersahaja. Tidak berharap sanjung puji. Hampir semua serahkan harta, tanah, rumah, uang untuk Persyarikatan dan tak satupun berpikir membawa kembali pulang, meski triliunan aset telah di usahakan.

Jangan dikira kami tak berani mati. Jika sudah waktunya, semua akan kami beri, termasuk jiwa dan nyawa. Harta saja kami berikan apalagi nyawa. Jadi jangan pernah ragukan ghirah jihad kami. Jihad kami berbayar. Harta benda kami serahkan, baru nyawa.

Max Weber menulis apik tentang etika Protestan dalam sebuah risetnya ‘Die Protestantiesche Ethik Under Geits Des Kapitalismus’ yang fenomenal, yang melahirkan semangat kapitalisme. Orang Kristen puritan yang disebut Weber ini begitu kuat mempengaruhi perilaku kapitalisme Eropa. Kerja keras, kompetitif, hemat, produktif dan suka memberi yang kemudian lazim disebut Protestan-ethics.

Syekh Maulana Muhammad Zakariya Al Khandahlawi, mengisahkan dalam kitabnya bahwa Sayidina Abu Bakar ra serahkan semua hartanya, Sayidina Umar ra separo hartanya. Kemudian Rasulullah saw bertanya: ‘Apa yang kau tinggalkan buat keluargamu? Abu Bakar menjawab yakin ‘Allah dan RasulNya’.

Jihad Islam bukan ofensif, tapi defensif. Islam tak pernah menyerang duluan tapi bertahan. Bukan seperti kebo nantang pasangan. Dan menantang semua yang lewat dihadapan.

Kyai Dahlan serahkan semua hartanya untuk biaya Persarikatan tanpa menyisakan sedikitpun. Beliau berkata kepada para kadernya: “Janganlah kamu berteriak-teriak sanggup membela agamamu dengan menyumbangkan jiwamu, jiwamu tak usah kamu tawarkan. Kalau Tuhan menghendakinya, entah dengan jalan sakit atau tidak tentu kamu akan mati. Tapi beranikah kamu menawarkan harta bendamu untuk kepentingan agama? Itulah yang lebih diperlukan pada waktu sekarang ini.” Agak berat memang, sebab jihad kami berbayar.

Editor: Yusuf

Terkait

Tags: JihadMuhammadiyahNurbani yusuff
Previous Post

Migrasi Ideologi di Muhammadiyah

Next Post

Otonomi Daerah VS Gurita Korupsi APBD di Indonesia

Nurbani Yusuf

Nurbani Yusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Next Post
Otonomi Daerah VS Gurita Korupsi APBD di Indonesia

Otonomi Daerah VS Gurita Korupsi APBD di Indonesia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.