“Aku datang bukan untuk membawa damai melainkan sebilah pedang,” begitulah kata Yesus yang termaktub dalam Matheus (10:34).
“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mengucapkan Lailaha illa-Allah” Hadist riwayat Tirmidzi.
Siapapun boleh mengambilnya sebagai hujjah dan membenarkan perilaku keras.
Kekerasan Bukan Jalan untuk Mencapai Kesempurnaan Tatanan Moral
Amerika adalah tanah air Kristen sebelum dikuasai ‘Si Lain’, lantas orang mengambil jalan kekerasan untuk menapak jalan Tuhan. Timothy McVeigh mengamuk. 168 orang mati. 500 lainnya luka parah. McVeigh yang tergabung dalam laskar Tuhan itu berpendirian tentang musuh Tuhan yang harus dikalahkan. Banyak orang tak cakap melihat realitas kebenaran lantas memandang yang berbeda sebagai musuh. McVeigh salah satunya dan ribuan lainnya tersebar di berbagai agama dan idelogi. Demikian Mark Juergensmeyer, guru besar sosiologi dari Universitas California Santa Barbara, dalam sebuah buku yang ditulisnya “Terror in the Mind of God,“
Ada sebagian orang yang menganut pemutlakan nilai, bahwa iman tak bisa disentuh apalagi ditawar. Ia lupa bukan dirinya yang sempurna tapi Islam. Al Quran pasti mutlak benar tapi bukan tafsirmu atasnya. Bukan dirimu yang mulia tapi Muhammad saw. Jadi Islam kaffah bukan dicapai tapi dicari, tidak satupun berhak mengklaim telah mencapai kaffah selain Rasulullah sendiri.
Perjuangan ini perlu, karena Amerika telah diperintah oleh “sekularisme” yang dibangun oleh komplotan Yahudi dan para intelektual progresif untuk menghabisi kemerdekaan “masyarakat Kristen”. Kata ruhaniwan Pierce yang membenarkan kekerasan untuk mencapai kesempurnaan tatanan moral.
Keadaan jiwa yang terancam memang bahaya. Hal ini dapat menimbulkan sikap nekat menerjang membabi buta. Apalagi dibakar marah karena agama. Menabalkan diri sebagai laskar Tuhan, semacam Paderi berani mati di jalan tuhan, meski sering hanya menjadi martir karena kemarahan sesaat.
Hanya Islam yang Benar dan Kaffah, tapi Bukan Berati Hanya Islam yang Boleh Tinggal
Kristenisasi, Islamisasi pemurtadan kerap mengancam pikiran meski realitasnya tidak sekeruh yang dibayang. Tapi cukup membuat orang berbuat di luar nalar. Gambaran muram tentang Amerika yang dikuasai ‘si lain’ telah melahirkan banyak kelompok kecil tapi beringas seperti Al-Qaeda atau ISIS di timur tengah, mereka juga membangun kamp militer untuk latihan dan menunggu giliran menjadi manten yang siap meledakkan dirinya.
Syetan diciptakan sebagai musuh tapi bukan untuk dibunuh. Orang Yahudi, Nasrani, Hindhu, Budha, Shinto, Zoroaster dan 4.300 agama lainya bukan untuk saling menerkam atau memangsa satu sama lainnya. Hanya Islam yang benar dan kaffah, tapi bukan berati hanya Islam yang boleh tinggal.
Buku “Terror in the Mind of God” Menjelaskan bahwa Agama kerap menjadi picu pemutlakan nilai, hanya Islam yang benar yang lain salah dan tak boleh ada. Ironisnya agama juga membenarkan kekerasan atas nama nahy munkar untuk menegakkan tataran moral yang disebut ‘syariat’
Editor : Irawan