Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Islam, Agama yang Universal

Shihab Wicaksono Ardhi by Shihab Wicaksono Ardhi
April 14, 2020
in Narasi
0
Islam adalah agama yang universal. Artinya segala sesuatu yang diatur dalam syariat Islam itu bukan hanya di tujukan untuk orang-orang muslim

Islam adalah agama yang universal. Artinya segala sesuatu yang diatur dalam syariat Islam itu bukan hanya di tujukan untuk orang-orang muslim

834
SHARES
4.9k
VIEWS

Islam adalah agama yang universal yang merujuk pada ketentuan-ketentuan Allah. Artinya segala sesuatu yang diatur dalam syariat Islam itu bukan hanya di tujukan untuk orang-orang muslim saja. Tetapi juga untuk seluruh manusia. Hal ini terbukti bahwasannya wahyu Allah yang berupa Al-Quran itu selalu relevan dengan keadaan zaman tanpa terikat waktu dan tempat.

Begitu pula dengan keadaan lingkungan masyarakat yang sudah memasuki era modern. Di mana perkembangannya tidak hanya soal teknologi tapi juga tertuju pada perkembangan pemikiran.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Islam yang dikatakan sebagai agama universal tentu memiliki banyak teori yang dapat dikemukakan secara ilmiah sesuai dengan keadaan zaman melalui redaksi Al-Quran. Ini menunjukkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam Al-Quran itu saling berhubungan dengan zaman.

Istilah “tauhid” juga dikenal luas oleh kalangan umat Islam sebagai sebuah orientasi dalam keberagamaan dan juga seringkali dimaknai sebagai bentuk pengesaan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa keimanan dalam hal pengesaan Allah itu merupakan syarat yang sangat penting bagi seorang muslim dalam menjalani kehiduan beragama.

Baca Juga: Belajar dari Sejarah: Bagaimana Dakwah dengan Ilmu dan Teknologi?

Terbukti dengan peletakan dua kalimat syahadat pada runtutan rukun Islam dan iman kepada Allah pada runtutan rukun iman menjadi redaksi pertama yang dikemukakan dalam keduanya. Penekanan dalam pengesaan Allah Swt merupakan pondasi yang sangat penting dalam mengintegrasikan point-point keimanan yang lain yang saling berhubungan.

Memaknai Kalimat Tauhid

Namun, makna “Mengesakan Allah” itu bukanlah final dalam memahami tauhid, sebagaimana konsep “trinitas” dalam agama kristen. Merujuk pada makna kata “Tauhid” yang berasal dari bahasa Arab yaitu “wahhada-yuwahhidu” yang berarti menyatukan, memadukan, mengintegrasikan, menggabungkan, membakukan dan menghubungkan.

Maka kata tauhid dalam kaitannya dengan Islam universal itu adalah menghubungkan segala macam aspek kehidupan dengan ketentuan yang sesuai dengan syariat Islam.

Makna “Mengesakan Allah” merupakan bagian dari integrasi antara Islam universal ke dalam bidang teologi. Kemudian perkembangan teori-teori global yang kemudian diislamisasikan. Seperti politik Islam, pendidikan Islam, psikologi Islam, sosiologi Islam, filsafat Islam, sains Islam, dan lainnya. Itu merupakan hasil integrasi antara aspek kehidupan dengan tauhid sehingga terbentuk Islam universal.

Ini merupakan korelasi bahwa Nabi Muhammad shollalohu ‘alaihi wasallam merupakan nabi dan rasul terakhir yang kemudian membawa risalah Islam sebagai penyempurna peradaban manusia. Konsep tauhid dengan makna “Mengesakan Allah” secara teologis merupakan konsep yang telah dibawa oleh para nabi dan rasul sebelum Muhammad. Sehingga sangat universal maknanya karena mencakup berbagai umat.  

Maka kesempurnaan tauhid itu berhasil dibawa oleh Islam melalui risalah-risalah universalnya yang mencakup berbagai bidang kehidupan. Konsep tauhid seperti inilah yang kemudian menjadikan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Pembahasan mengenai Islam universal menuntut terjadinya liberasi pemikiran. Di mana sebuah konsep atau teori mengenai syariat Islam harus dipandang secara luas untuk menemukan point-point yang menjadi penghambat perkembangan Islam. Artinya Islam harus dipahami secara liberal untuk memadukan peradaban yang menyimpang menuju peradaban yang terarah dan sesuai dengan syariat Islam.

Liberasi Islam dan Pemikiran

Liberasi Islam merupakan proses yang hanya bersifat nalar, artinya segala bentuk pemahaman yang menyimpang hendaknya disesuaikan dengan syariat Islam bukan diyakini sebagai sebuah keimanan. Begitu juga akidah Islam atau tauhid teologis tidak bisa dipahami secara keras bahwa syariat Islam tidak dapat ditolak oleh siapapun karena sifat universalnya.

Sehingga memunculkan paham radikalisme yang menuntut syariat Islam harus dipahami secara keras dan harus diimani oleh seluruh manusia. Padahal Allah sendiri terlah berfirman:

“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir!”. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (Q.S. Al-Kafirun: 1-6).

Ini menunjukkan bahwa syariat Islam bukanlah agama yang harus dipaksakan. Akan tetapi dari syariat Islamlah tatanan kehidupan manusia itu bisa berkembang dengan berbagai peradaban.

Maka makna radikalisme itu harus diproyeksikan pada sebuah keyakinan atau keimanan, di mana dalam mengamalkan ajaran Islam harus dimulai dari mengimani keesaan Allah secara radikal atau mendasar. Radikalisme demikian tidak masalah. Radikalisme pemikiran dan keimanan.

Sebuah proses panjang yang telah ditentukan Allah melalui kisah para nabi dan rasul, telah menghadirkan peradaban Islam yang sempurna. Allah tidak memaksa manusia untuk mengimani syariat Islam. Namun dengan mengimani syariat Islam, manusia akan mengetahui bahwa kesempurnaan itu terletak di dalamnya.

Baca Juga: Betulkah Manusia dan Alam Semesta itu Berpadu?

Maka memaknai tauhid sebagai proses radikalisasi dan memaknai Islam universal sebagai proses liberasi merupakan suatu keniscayaan dalam mengukir kembali peradaban yang sesuai dengan tatanan syariah Islam.

Sumber Ilustrasi: news.visimuslim.org

Terkait

Tags: Islamrahmatan lil 'alaminToleranUniversal
Previous Post

Pohon, Ekologi Kehidupan

Next Post

Istana Membela Kepala BPIP, Menteri Agama Diam

Shihab Wicaksono Ardhi

Shihab Wicaksono Ardhi

Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Sukoharjo

Next Post
Istana Membela Kepala BPIP, Menteri Agama Diam

Istana Membela Kepala BPIP, Menteri Agama Diam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.