Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Ibnu Miskawaih, Bapak Etika Islam

Achmad Buchari by Achmad Buchari
Juni 28, 2021
in Filsafat
0
Ibnu Miskawaih

Sumber : ceknricek

129
SHARES
757
VIEWS

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan etika atau akhlak. Hal ini dapat dilihat dari sejarah dan ajaran Islam. Banyak intelektual muslim yang membahas moral, di antaranya Abu Bakar Al-Razi, Ibn Miskawi, Al Ghazali, dan lain-lain.

Salah satu filosof Islam yang memberikan perhatian khusus pada filsafat etika adalah Ibnu Miskawaih. Ia berusaha mendamaikan pemikiran filsafat dan Islam, khususnya di bidang moralitas. Ia disebut sebagai bapak etika Islam.

TulisanTerkait

Rausyanfikr di Era Digital: Membaca Peran Intelektual Muda melalui Pemikiran Ali Syariati

Membaca Gaya Hidup Generasi Digital melalui Perspektif Jean Baudrillard

Amor Fati: Ketika Mencintai Takdir Menjadi Bentuk Tertinggi dari Kebebasan Jiwa

Biografi Ibnu Miskawaih

Nama lengkap Ibn Miskawaih adalah Abu Ali Al khazin Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya’kub Ibn Miskawaih. Lahir tahun 320 M/932 M, dan wafat tahun 412 M/1030 M. Ia belajar filsafat dari Ibnu al-Khammar. Ia adalah seorang sejarawan yang sangat pandai, ia adalah ilmuwan Islam paling terkenal dan yang pertama menulis filsafat moral.

Sebagai orang yang sangat memahami filsafat moral, semua karya Ibnu Miskawaih tidak terlepas dari pembahasan tentang filsafat moral. Tidak heran jika Ibnu Miskawaih disebut sebagai seorang moralis.

Abu Mansur al-Tsalabi (421 H) menjelaskan bahwa Ibnu Miskawaih adalah orang yang sangat dihormati. Ia sangat baik budi pekertinya. Seorang sastrawan, ahli balaghah, dan seorang penyair yang ulet.

Karya-karya Ibn Miskawaih

Sebagai seorang filsuf, sejarawan, terapis, ilmuwan, dan penulis, Ibnu Miskawah banyak menulis buku. Di antara buku-buku karyanya adalah sebagai berikut:

  1. Kitab Al-Fauz Al-Asghar, tentang ketuhanan, jiwa dan kenabian (metafisika).
  2. Kitab Al-Fauz Al-Akbar, tentang etika.
  3. Kitab Thaharat An-Nafs, tentang etika.
  4. Kitab Tahdzib Al-Akhlaq wa That-hir Al-A’raq, tentang etika.
  5. Kitab Tartib As-Sa’adat, tentang etika dan politik, terutama mengenai pemerintahan Bani ‘Abbbas.

Konsep pemikiran Etika

Tahzib Al-Akhlaq atau dengan nama lain Tathhir Al-Akhlaq (kesucian karakter), merupakan kitab filsafat akhlak klasik yang memuat isu-isu penting. Sebagai muslim, ia menggunakan Al-Quran dan hadis Muhammad SAW sebagai panduan dalam membahas akhlak.

Ibnu Miskawaih selalu memulai dengan menyelami jiwa manusia. Ia memandang bahwa ilmu jiwa memiliki keutamaan sendiri dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain. Manusia tidak mampu untuk meraih suatu ilmu kecuali telah mengetahui ilmu jiwa sebelumnya. Menurutnya, etika adalah keadaan jiwa yang melakukan perbuatan tanpa dipikirkan dan juga dipertimbangkan terlebih dahulu. Sikap mental tersebut berasal dari watak dan juga kebiasaan.

Ibnu Miskawaih membagi kekuatan jiwa menjadi tiga tingkatan. Pertama, kekuatan berpikir (al-quwwah an-natiqah), yaitu kekuatan berpikir dan membedakan esensi sesuatu. Tempatnya ada di pikiran. Kedua, al-quwwah al-ghadabiah, kekuatan amarah. Tempatnya di hati. Ketiga, kekuatan syahwat, al-quwwah asy-syahwatiyah, adalah kekuatan syahwat yang selalu meminta makanan dan cenderung menikmati makanan, minuman, dan syahwat seksual. Tempatnya di hati.

Ajaran etika Ibnu Miskawaih berpangkal pada teori jalan tengah yang dirumuskannya. Inti teori ini menyebutkan bahwa keutamaan akhlak secara umum diartikan sebagai posisi tengah. Tidak berlebihan dan tidak kekurangan.

Yang tengah adalah yang terpuji dan yang ekstrem adalah tercela. Posisi tengah adalah suatu standar atau prinsip umum yang berlaku bagi manusia. Posisi tengah yang sebenarnya (al-wasath al-haqiqi) adalah keutamaan (al-fadilah). Yang satu ini disebut juga garis lurus (al-khath al-mustaqim).

Jika nafsu seseorang dikendalikan oleh pikirannya, kebajikan semacam ini akan muncul dalam diri orang tersebut. Artinya mampu menyesuaikan pilihan yang tepat sehingga bebas, tidak dikendalikan dan tidak terbebani oleh nafsu. Ketika keinginan manusia dituntun oleh jiwa, maka keutamaan ini akan muncul pada diri manusia.

Kombinasi dari semua posisi tengah adalah al-‘adalah (keadilan). Jika seseorang tidak adil, dia tidak bisa disebut ksatria. Keadilan semacam ini merupakan kombinasi dari semua kebajikan, sehingga hanya dapat dicapai jika setiap jiwa menunjukkan setiap kebajikan.

Masalah pokok yang dibicarakan dalam kajian akhlak adalah kebaikan (al-khoir), kebahagiaan (as-sa’adah) dan keutamaan (al-fadhilah).

Kebaikan ada dua, yaitu kebaikan umum dan kebaikan khusus. Kebaikan umum adalah kebaikan bagi seluruh manusia. Dengan kata lain, ukuran-ukuran kebaikan yang disepakati oleh seluruh manusia. Kebaikan khusus adalah kebaikan bagi seseorang secara pribadi. Kebaikan yang kedua inilah yang di sebut kebahagiaan. Karena itu, dapat dikatakan bahwa kebahagiaan itu berbeda-beda bagi setiap orang.

Tentang kebahagian, ada dua pandangan pokok tentang kebahagiaan. Yang pertama diwakili oleh Plato. Ia mengatakan bahwa hanya jiwalah yang mengalami kebahagiaan. Karena itu, selama manusia masih berhubungan dengan badan, ia tidak akan memperoleh kebahagiaan.

Pandangan kedua dipelopori oleh Aristoteles yang mengatakan bahwa kebahagiaan dapat dinikmati di dunia walaupun jiwanya masih terkait dengan badan.

Ibnu Miskawaih mencobah mengompromikan kedua pandangan yang berlawanan itu. Menurutnya, karena pada diri manusia ada dua unsur, yaitu jiwa dan badan, maka kebahagiaan meliputi keduanya. Hanya kebahagian badan lebih rendah tingkatnya dan tidak abadi sifatnya jika dibandingkan dengan kebahagiaan jiwa.

Editor : Yusuf

Terkait

Tags: EtikaIbnu MiskawaihMoral
Previous Post

Covid 19 Serius atau Candaan?

Next Post

Keteladanan Kisah Nabi Ibrahim ketika Diperintahkan Membunuh Anaknya

Achmad Buchari

Achmad Buchari

Next Post
nabi ibrahim

Keteladanan Kisah Nabi Ibrahim ketika Diperintahkan Membunuh Anaknya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.