Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Keteladanan Kisah Nabi Ibrahim ketika Diperintahkan Membunuh Anaknya

Rohmat Faizin SP by Rohmat Faizin SP
Juni 28, 2021
in Ibadah
0
nabi ibrahim

ilustrasi

99
SHARES
585
VIEWS

Sudah menjadi pandangan umum ketika Idul Adha tiba maka umat Islam pasti akan teringat dengan 2 sosok uswah hasanah atau teladan yang baik bagi manusia yang hingga kini masih jelas termaktub di dalam Al-Quran. Kedua uswah hasanah tersebut adalah Nabi Muhammad S.A.W dan Nabi Ibrahim A.S.

Keteladanan Nabi Muhammad SAW termaktub di dalam firman Allah yang berbunyi:

TulisanTerkait

Kapan Wanita Mulai Shalat Zhuhur di Hari Jumat?

Film Bidaah Melalui Kacamata Tafsir Kontemporer: Antara Sensasi dan Substansi

Bacalah Surat Al-Kahfi dengan Keutamaannya

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ.

Artinya : “Sungguh terdapat teladan yang baik bagi kamu sekalian di dalam diri Rosululloh SAW, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari akhir, serta banyak mengingat Allah.” (Q.S. Al-Ahzab : 21).

Adapun keteladanan Nabi Ibrahim AS termaktub di dalam firman Allah yang berbunyi:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ اِذْ قَالُوْا لِقَوْمِهِمْ اِنَّا بُرَءٰۤؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۖ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاۤءُ اَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗٓ اِلَّا قَوْلَ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ لَاَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ اَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍۗ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاِلَيْكَ اَنَبْنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ.

Artinya : “Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,” kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, ”Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.” (Ibrahim berkata), “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,” (Al-Mumtahanah : 4).

Selain itu, keteladanan Nabi Ibrahim AS juga termaktub dalam firman Allah yang lain sekaligus menjadi kisah yang sudah masyhur didengar, yaitu dalam Q.S Ash-Shaffat ayat 101-107 sebagai berikut :

فَبَشَّرۡنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيۡمٍ.

“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar.”

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa anak yang sangat sabar itu ialah Ismail AS. Dialah anak pertama sekaligus sebagai kabar gembira bagi Nabi Ibrahim AS. Menurut kesepakatan kaum muslimin dan ahlul kitab bahwasanya Ismail lebih tua dari Ishaq, Ismail lahir saat Nabi Ibrahim berusia 86 tahun sedangkan Ishaq lahir saat Nabi Ibrahim berusia 99 tahun.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعۡىَ قَالَ يٰبُنَىَّ اِنِّىۡۤ اَرٰى فِى الۡمَنَامِ اَنِّىۡۤ اَذۡبَحُكَ فَانْظُرۡ مَاذَا تَرٰى‌ؕ قَالَ يٰۤاَبَتِ افۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ‌ سَتَجِدُنِىۡۤ اِنۡ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِريۡن.

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Dari Ibnu Abbas ra, Mujahid, Ikrimah, Said bin Jubair, Atha Al-Khurasani, Zaid bin Aslam, dan yang lainnya, bahwa makna lafazh فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعۡىَ (Maka, tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim) adalah Ismail menginjak masa remaja, dewasa dan mampu mengerjakan pekerjaan Ibrahim, berupa usaha dan pekerjaan.

Adapun pada lafazh setelahnya, yaitu قَالَ يٰبُنَىَّ اِنِّىۡۤ اَرٰى فِى الۡمَنَامِ اَنِّىۡۤ اَذۡبَحُكَ فَانْظُرۡ مَاذَا تَرٰى‌ؕ (Ibrahim berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?”) Ubaid bin Umair mengatakan bahwa mimpi para Nabi adalah bagian dari wahyu. Dengan demikian maka mimpi Nabi Ibrahim tersebut merupakan wahyu.

Lalu pada lafazh قالَ يٰۤاَبَتِ افۡعَلۡ مَا تُؤۡمَر (Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu;), menurut Ibnu Katsir maksud lafazh ini adalah Nabi Ismail menyetujui jika Nabi Ibrahim mengerjakan apa yang diperintahkan Allah kepada lewat mimpi, yaitu menyembelih dirinya.

Kemudian persetujuan Nabi Ismail itu ditutup pada lafazh akhir dari ayat 102 ini, yaitu سَتَجِدُنِىۡۤ اِنۡ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِريۡن. (insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”). Maknanya Nabi Ismail akan bersabar serta mengaharapkan pahala dari Allah. Dan pada akhirnya beliau pun menetapi janjinya (bersabar).

فَلَمَّاۤ اَسۡلَمَا وَتَلَّهٗ لِلۡجَبِيۡنِ‌ۚ

“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah).”

Lafazh اَسۡلَمَا (keduanya telah berserah diri) berarti berserah diri dan pasrah. Keduanya siap melaksanakan perintah Allah dengan segala resikonya. Sedangkan lafazh وَتَلَّهٗ لِلۡجَبِيۡنِ‌ (dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah)) berarti membaringkan Ismail di atas wajahnya lalu disembelih pada tengkuknya. Kemudian pada saat menyembelihnya Ibrahim tidak melihat Ismail agar hal itu lebih meringankannya.

وَنَادَيۡنٰهُ اَنۡ يّٰۤاِبۡرٰهِيۡمُۙ

“Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim!””

قَدۡ صَدَّقۡتَ الرُّءۡيَا ‌ ‌ۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجۡزِى الۡمُحۡسِنِيۡنَ

“Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Dalam lafazh قَدۡ صَدَّقۡتَ الرُّءۡيَا ‌ ‌ وَنَادَيۡنٰهُ اَنۡ يّٰۤاِبۡرٰهِيۡمُۙ (Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.”) yakni Nabi Ibrahim sudah mewujudkan mimpi tersebut karena ia telah membaringkan anaknya (ismail) untuk disembelih.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi Ibrahim telah meletakkan pisau dan menjalankannya pada leher Ismail tapi pisau itu sama sekali tidak memotongnya karena tiba-tiba muncul tembaga yang menghalangi diantara keduanya (pisau dan leher). Pada saat yang bersamaan, Ibrahim diseru قَدۡ صَدَّقۡتَ الرُّءۡيَا (sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.”).

Kemudian lafazh اِنَّا كَذٰلِكَ نَجۡزِى الۡمُحۡسِنِيۡن (Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik) berarti Ibrahim digolongkan Allah termasuk dari orang-orang baik, yang menurut Ibnu Katsir adalah orang-orang yang mentaati Allah yang kemudian dihindarkan dari segala hal yang tidak disukai dan dari kesusahan. Lalu orang-orang baik itulah yang diberikan Allah kelapangan dalam segala hal serta jalan keluar untuk urusan mereka.

Dari kisah Nabi Ibrahim tersebut jelas termaktub bahwa Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail. Namun saat Nabi Ibrahim menjalankan perintahnya dengan pasrah dan patuh kepada Allah, ternyata perintah itu dihapuskan dengan munculnya tembaga secara tiba-tiba diantara leher Ismail dan pisau tadi, sehingga otomatis menggagalkan aksi Nabi Ibrahim menyembelih Ismail.

Adapun para ulama’ menafsirkan maksud Allah dalam kisah Nabi Ibrahim tadi, yakni agar Nabi Ibrahim mendapatkan pahala yang besar atas kesabaran yang telah ia lakukan karena diperintahkan menyembelih anaknya sekaligus pahala karena ia melakukan itu semua dengan keteguhan hatinya.

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ

“Sesungguhnya ini adalah ujian yang benar-benar nyata,”

Lafazh إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ (Sesungguhnya ini adalah ujian yang benar-benar nyata), maknanya perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya adalah sebagai bentuk ujian nyata bagi Nabi Ibrahim itu sendiri. Dan Nabi Ibrahim lulus ujian tersebut dengan munculnya tembaga secara tiba-tiba untuk menggagalkan Nabi Ibrahim menyembelih anaknya. Lalu pada ayat selanjutnya dijelaskan sebagai berikut:

وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Pada ayat ini dijelaskan bahwa kisah lulusnya Nabi Ibrahim dari ujian Allah tidak hanya dibuktikan dengan munculnya tembaga yang menggagalkan saja, melainkan juga dibuktikan dengan kemunculan seekor hewan sembelihan yang besar berupa domba.

Sufyan ast-Tsauri menceritakan dari Jabir al-Ju’fi, dari Abuth Thufail, dari Ali ra, وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar), dia (Ali) mengatakan: “Yakni dengan satu ekor domba jantan yang berwarna putih, bermata bagus, bertanduk serta diikiat dengan tali dari rumput samurah.” Abuth Thufail mengutarakan: “Mereka mendapatkannya dalam keadaan terikat dengan rumput samurah”.

Dari kisah Nabi Ibrahim tadi, setidaknya ada 2 nilai keteladanan yang bisa diambil sekaligus diamalkan saat suasana idul adha seperti sekarang ini, 2 keteladanan tersebut ialah :
Pertama adalah keteladanan dalam hal berserah diri sepenuhnya atas perintah Allah apapun itu bentuknya. Nilai keteladanan ini muncul saat beliau diperintahkan Allah lewat mimpinya yang berulangkali terjadi untuk menyembelih anaknya. Akal manusia pastilah memahami bahwa perintah ini jelas merugikan, namun karena tauhid yang amat kokoh maka Nabi Ibrahim melakukannya dengan berserah diri sepenuhnya kepada Allah.

Begitu juga dengan perintah Allah bagi seorang muslim yang memenuhi syarat untuk menyisihkan hartanya untuk berqurban saat idul adha ini. Memang akal manusia memahami bahwa hal tersebut sangatlah merugikan karena mengurangi harta tanpa ada embel-embel laba setelahnya sebagaimana dunia bisnis. Tapi bagi seorang muslim yang meneladani Nabi Ibrahim pastilah melakukannya dengan berserah diri sepenuhnya kepada Allah.

Kedua adalah keteladanan kisah Ibrahim dalam hal kesabaran penuh saat melakukan perintah Allah. Nilai keteladanan ini muncul saat beliau melakukannya selain dengan berserah diri sepenuhnya juga dengan penuh kesabaran, sabar dengan melakukannya tanpa protes maupun banyak tanya. Artinya beliau langsung melakukannya.

Begitu juga dengan seorang muslim yang melakukan perintah qurban maka harus selain melakukannya dengan berserah diri sepenuhnya juga dengan penuh kesabaran. Sabar dengan langsung melakukan perintah qurban tanpa menimbang-nimbang akibatnya, sabar tanpa protes dan bertanya-tanya sebagaimana Nabi Ibrahim yang melakukan perintah Allah untuk menyembelih anaknya.

Lalu tidak bisa dipungkiri bahwa di akhir kisah tersebut Ismail yang sebelumya akan disembelih akhirnya diganti dengan seekor hewan sembelihan berupa domba besar. Maknanya bahwa segala perintah Allah pastilah akan diganti dengan yang lebih baik.

Jadi jika ada perintah Allah maka lakukan saja tanpa protes maupun banyak tanya, cukup langsung melakukannya saja dengan berserah diri serta sabar, dan akhirnya Allah menggantinya dengan yang lebih baik.

Begitu juga saat melakukan perintah qurban, maka langsung lakukan saja tanpa protes dan banyak tanya. Cukup lakukan dengan berserah diri serta sabar dan akhirnya Allah akan menggantinya dengan lebih baik. Karena sebenarnya menjalankan perintah Allah itu adalah proses transaksi antara seorang hamba dengan Allah. Hanya saja seorang hamba bertransaksi dengan jiwa raga dan harta sedangkan Allah membayar transaksi tersebut dengan surga, hal ini sebagaimana termaktub dalam firman Allah Q.S. Attaubah: 111 sebagai berikut:

إِنَّ ٱللَّهَ ٱشْتَرَىٰ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلْجَنَّةَ ۚ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ وَٱلْإِنجِيلِ وَٱلْقُرْءَانِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِۦ مِنَ ٱللَّهِ ۚ فَٱسْتَبْشِرُوا۟ بِبَيْعِكُمُ ٱلَّذِى بَايَعْتُم بِهِۦ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

Editor : Irawan

Terkait

Tags: ismailnabi ibrahim
Previous Post

Ibnu Miskawaih, Bapak Etika Islam

Next Post

Perjuangan Hak Perempuan Nawal El Sa’adawi

Rohmat Faizin SP

Rohmat Faizin SP

Next Post
Nawal El Sa'adawi

Perjuangan Hak Perempuan Nawal El Sa'adawi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.