Ihwal bahwa hakikat Iduladha adalah pengorbanan sudah sering kali diulas. Pengorbanan terhadap nafsu duniawi, semangat untuk berbagi dan berkorban di jalan Allah. Namun, satu hal yang sering kali dilupakan dalam momen ini adalah tentang spirit pendidikan keluarga yang dilakukan oleh kekasih Allah SWT, Nabi Ibrahim kepada keluarganya.
Dalam Al Quran dijelaskan bagaimana jawaban Ismail ketika ditanya pendapatnya tentang mimpi sang Ayah untuk menyembelihnya. Dengan matang, ia pun menjawab : qāla yā abatif’al mā tumaru satajidunī in syāallāhu minaṣ-ṣābirīn.(Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar).
Jawaban yang demikian tentunya tidak muncul secara tiba-tiba, namun melalui proses pembinaan yang panjang. Pondasi tauhid yang ditanamkan oleh Nabi Ibrahim kepada Ismail kala itu menghujam dengan sangat kokoh. Keimanan yang sangat kokoh menancap kuat di hati Ismail yang kala itu usianya belum cukup dewasa.
Pandemi kali ini mengajarkan kepada kita untuk kembali meneguhkan fitrah bahwa rumah adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Ibu Ayah mereka adalah guru dan Kepala Sekolahnya. Jangan terlalu berharap pada sekolah formal di situasi seperti ini. Semakin kita mengeluh pada sistem online, maka semakin nampak kegagalan kita menjadikan rumah sebagai madrasah pertama.
Marilah kita jadikan keluarga kita seperti keluarga Nabi Ibrahim, mendidik anak, berdialog dengan bahasa mereka, menjadi teman dan sabahat bagi mereka. Ayat Allah dengan tegas mengatakan kepada kita: “Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.”
Nabi Ibrahim tak lepas senantiasa mendoakan agar keturunannya menjadi anak yang salih, senantiasa mengerjakan sholat. Ia meyakini betul, warisan untuk keturunan bukan harta, namun kesalihan dan nilai-nilai terwujud dalam perilaku keseharian.
Mari kita ketuk pintu langit, menengadah kepada Allah SWT agar selalu menjaga anak-anak kita, menjadikan mereka sebagai generasi yang spirit Ismail selalu didalamnya, keturunan yang baik untuk senantiasa menebarkan kebaikan dan kemanfaatkan kepada orang lain.
Surakarta, 10 Dzulhijah 1442 H.
Editor: Yusuf