Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Fear of Mising Out (FOMO): Sebuah Tantangan Sosial di Era Media Sosial

Nurul Permatasari by Nurul Permatasari
November 16, 2025
in Esai, Narasi
0
Fear of Mising Out (FOMO): Sebuah Tantangan Sosial di Era Media Sosial
18
SHARES
105
VIEWS

Oleh : Nurul Permatasari (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto)

Pada era digital yang serba cepat di tahun 2025 semua masyarakat dari kalangan anak-anak hingga lansia hampir semua dari mereka memiliki gawai dan aktif mengoperasikannya. Maka dari itu, tidak menutup kemungkinan bahwasanya media sosial atau platform public yang bisa di akses oleh siapapun menjadi tolak ukur mereka. Informasi dapat tersebar dalam hitungan detik bahkan isu yang belum tentu benar bisa jadi sudah rilis beritanya.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Oktober 2025, media sosial sudah di penuhi dengan berita-berita perselingkuhan dimana pihak yang menjadi objek saja belum mengangkat suara apapun. Fenomena yang muncul membuat generasi Z atau penggemar menjadi berfikir atas kejadian dan berita yang beredar. Sepert; selebritas yang tiba-tiba di lamar bahkan nikah secara tiba-tiba.

Fenomena FOMO atau bisa kita sebut dengan Fear of missing out sudah tertanam bagi kalangan anak muda dari berbagai hal mulai dari berita yang beredar mulai dari fashion, aktor/aktris dan masih banyak lagi mereka merasa tidak boleh tertinggal dan merasa harus selalu terlibat dalam suatu peristiwa atau pengalaman yang sedang di alami oleh masyarakat sekitar.

Perilaku FOMO seringkali menjadi masalah bagi masyarakat apalagi masyarakat yang berpenghasilan di bawah rat-rata. Karena mereka selalu mementingkan urusan dunia agar terlihat oleh masyarakat sekitar dan di pandang menarik oleh masyarakat sekitar.

Istilah FOMO pertama kali dipopulerkan oleh Dr. Dan Herman pada tahun 1996 dan kemudian dikaji lagi oleh Dr. Andrew K. Pryzbylski pada 2013. Pada era digitalisasi seperti sekarang mereka cenderung membandingkan diri dengan yang beredar di media sosial yang dimana hal tersebut sudah melakukan editing, filter dan segala macem.

Faktor Penyebab FOMO

Media sosial: di era digitalisasi seperti sekarang faktor penyebab utama bersumber dari media sosial seperti platform TikTok, Instagram, Tweater, YouTube. Fitur stories, like, comment, followers, serta postingan feed menciptakan mekanisme yang dapat menumbuhkan hal tersebut sebagai perlomban dan persaingan.

Karena saat seseorang melihat kediudpan orang lain yang lebih cantik, lebih baik, lebih bagus, like nya banyak, commentnya bayak dan positive muncul perasaan kurang puas atas pencapaian diri sendiri.

Pengakuan Sosial: Pada umumnya manusia memang ingin terlihat, ingin dipuji secara naluriah ingin diterima dalam kelompok sosial. Misal di media sosial mereka membutuhkan pengakuan yang diwujudkan berupa like, comment dan pujian. Hal tersebut normal namun yang menjadi masalah adalah ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita mau, tidak mendaptkan validasi dari orang lain timbul rasa tertinggal dan tidak berharga.

Budaya Konsumerisme dan Tren: Masyarakat masa kini cenderung mengaitkan nilai diri dengan kepemilikan, barang, atau pengalman orang lain. Mereka cenderung menggunakan prinsip yang penting punya sesuai zaman, walaupun tidak berguna, mereka cenderung beli sesuatu sesuai keinginan bukan kebutuhan.

Kecemasan Eksistensial: Bagi sebagian individu, perilaku FOMO dapat muncul akibat “kehilangan makna hidup.” Mindset yang salah menimbulkan seseorang bersifat cemas, merasa tertinggal, melihat sesorang lebih bahagia, lebih sukses, lebih cantik. Menimbulkan kecemasan pada diri sendiri sehingga merasa kurang berarti atau merasa tertingal.

Dampak Sosial Psikologis dan FOMO

  • Dampak terhadap Kesehatan Mental

    Penelitian menjelaskan bahwa dampak dari FOMO cenderung berdampak negatif salah satunya yaitu dampak pada kesehatan mental dimana yang berakibat dari rasa cemas yang berujung depresi dan mengakibatkan stress akibat perasaan merasa tertinggal dari yang lain. Akibatnya kualitas tidur menurun, konsentrasi berkurang dan muncul rasa tidak puas terhadap pencapaian diri sendiri.

    • Menurunnya Relasi Masyarakat

    Pada umumnya individu yang terlalu aktif di media sosial dan selalu ingin terlihat istimewa justru membuat masyarakat sekitar merasa bahwa individu tersebut tidak membutuhkannya sehingga tercipta hubungan yang rengggang. Mereka yang aktif di dunia maya cenderung bersikap acuh tak acuh terhadap masayarakat sekitar sehingga dapat menimbulkan pecah belahnya hubungan interaksi sosial.

    • Produktivitas Menurun Akibat Kecanduan Digital

      Studi psikologi pada buku Fear of Missing out karya Patrick. J. McGinnis menunjukkan bahwasanya digitalisasi, media sosial dapat mengurangi fokus sampai 40% sehingga produktifitas dalam hidup menurun seiring dengan waktu.

      Konteks FOMO pada generasi milennial dan generasi Z

      Pada konteks fomo cenderung bersifat negatif atau mengikuti gaya hidup duniawi terhadap sosial dimana generasi milenial dan generasi z yang kebanyakan dari mereka termakan beriat hoaks atau trend masa kini dari nedia sosial tanpa memfilter.

      • FOMO sebagai Bentuk Tekanan Sosial

        Generasi muda seperti kita terlalu sibuk menjadi sempurna, sibuk menjadi 100% padahal kita bisa memilih untuk menjadi 99% terkadang kita tidak mengenali diri sendiri, kita sibuk ngejar validasi, kita sibuk ngejar target, kita sibuk menanyakan orang lain dan tidak kenal pada diri sendiri. Seolah-olah hidup kita di remot oleh perkembangan zaman dan menjadikan seseorang menjadi garis finish. Sehingga dengan perasaan kita sering menekan diri sendiri, kita menghindar pada diri sendiri kenapa karena kita takut kecewa, takut dipandang aneh sehingga menjadikan kita stress atau depresi.

        • Tren Viral dan Eksistensi Diri

        FOMO salah satunya adalah mengikuti tren viral untuk eksistensi diri agar terlihat, banyak individu merasa bahwa mereka hidup karena eksis. Mereka ada jika di puji orang lain, ketika mereka dipandang istimewa oleh orang lain.

        FOMO tidak selalu menjadi sifat negatif kita bisa memanfaatkan perilaku Fear of Missing out ini untuk hal-hal baik, menjadikan diri kamu survive pada era globlisasi ini mengakses digitalisasi untuk kebaikan, mengajarkan agama, dan menjadikan kita bisa naik lebih tinggi tanpa harus menjadikan hal tersebut jadi validasi, kita tidak perlu hidup untuk orang lain, kita tidak butuh ucapan terima kasih dari orang lain. Karena ketika kita menaikkan value untuk diri kita sendiri menjadikan hal tersebut menjadi hal yang lebih baik menjadi hari kemarin.

        Gunakanlah media sosial untuk hal-hal positif dan ambillah sifat FOMO yang ada di media sosial sebagai hal-hal untuk memperbaiki diri di masa muda untuk diri sendiri. Karena kita memiliki garis start dan finish masing-masing.

        Editor: Dwi Kurniadi

        Terkait

        Tags: DigitalisasiFear of Mising OutFOMOmedia sosialPeradaban
        Previous Post

        Dari Cinta ke Cuan: Menakar Arah Dakwah Berkemajuan di Era Finansial Gen Z

        Next Post

        KH. Mustain Nasoha Sampaikan Penjelasan Ilmiah Tentang Hukum Shalat Qobliyah Setelah Shalat Fardhu

        Nurul Permatasari

        Nurul Permatasari

        Next Post
        KH. Mustain Nasoha Sampaikan Penjelasan Ilmiah Tentang Hukum Shalat Qobliyah Setelah Shalat Fardhu

        KH. Mustain Nasoha Sampaikan Penjelasan Ilmiah Tentang Hukum Shalat Qobliyah Setelah Shalat Fardhu

        Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

        Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

        • Tentang Kalimahsawa.id
        • Redaksi
        • Kontak Kami
        • Kirim Tulisan
        Contact Person: 085850332866

        © 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

        No Result
        View All Result
        • Report
        • Video
        • Narasi
          • Esai
          • Cerpen
          • Sosok
          • Puisi
        • Ulûm ad-Dîn
          • Akhlak
          • Tafsir
          • Filsafat
          • Ibadah
        • Risalah
          • Khutbah
          • Doa
          • Kata Bersama
          • Muslimah
        • Kirim Tulisan

        © 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.