Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Dari Cinta ke Cuan: Menakar Arah Dakwah Berkemajuan di Era Finansial Gen Z

Saffana Alfy Karomah by Saffana Alfy Karomah
November 16, 2025
in Esai, Narasi
0
Dari Cinta ke Cuan: Menakar Arah Dakwah Berkemajuan di Era Finansial Gen Z
28
SHARES
167
VIEWS

Oleh: Usamah Shafy Al Haidar dan Saffana Alfy Karomah

Di era digital seperti sekarang, banyak anak muda khususnya Gen Z memilih fokus cari uang dulu sebelum mikirin nikah. Ungkapan “nikah nanti saja, stabil dulu” jadi kalimat yang lewat di mana-mana, obrolan tongkrongan, story Instagram, sampai forum kampus. Dan ternyata ini bukan cuma tren atau gaya-gayaan. Data BPS (2023) menunjukkan usia menikah pertama naik 2–3 tahun dibanding sepuluh tahun lalu. Bahkan survei Jakpat dan Populix (2024) bilang lebih dari 70% Gen Z menunda nikah karena merasa belum cukup stabil secara finansial.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Namun perubahan orientasi ini bukan sekadar soal uang. Ini menyangkut bergesernya nilai-nilai dalam kehidupan generasi muda. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, nilai adalah sesuatu yang dianggap penting dan berharga. Pada generasi sebelumnya, nilai yang dominan adalah komitmen, kebersamaan, dan kesiapan mental dalam membangun rumah tangga. Kini, nilai finansial naik menjadi indikator utama kedewasaan.

Perubahan ini terlihat jelas dari bagaimana Gen Z menilai kesiapan menikah. Jika dulu kesiapan batin dan kemampuan memimpin keluarga menjadi ukuran penting, sekarang indikator itu tergeser oleh hal-hal yang lebih material: pendapatan tetap, kestabilan karier, kemampuan membeli rumah, hingga sertifikasi skill. Nilai-nilai seperti komitmen jangka panjang, kesabaran dalam membangun proses, dan keteguhan spiritual sering kali berada di urutan belakang.

Rasionalitas ekonomi inilah yang membuat Gen Z lebih berhati-hati. Mereka melihat bagaimana orang tua atau lingkungan sekitar menghadapi masalah rumah tangga akibat tekanan finansial. Dalam dunia digital yang serba cepat dan penuh ketidakpastian, mereka menyimpulkan bahwa kestabilan ekonomi harus hadir lebih dulu, baru kemudian komitmen menikah. Namun di sinilah persoalannya: orientasi finansial yang terlalu dominan dapat menggeser makna hidup yang lebih dalam.

Contohnya terlihat dari kebiasaan Gen Z mengikuti pelatihan skill digital, investasi, hingga freelance untuk menambah pemasukan. Rasionalitas ini sebenarnya baik. Namun di sisi lain, perhatian pada nilai spiritual seperti mujahadah, kesabaran, kesiapan mental, dan keseimbangan dunia–akhirat justru menurun. Shalat tetap dilakukan, tetapi visi hidup sering kabur. Penghasilan meningkat, tapi arah hidup tidak selalu jelas.Islam sebenarnya tidak menolak orientasi duniawi. Al-Qur’an mengingatkan, “Dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari dunia.” {QS. Al-Qashash ayat 77}. Tetapi ayat itu dilanjutkan dengan perintah agar manusia tetap mencintai akhirat sebagai orientasi utama. Artinya, Islam mengajarkan keseimbangan, bukan ekstrim materialistik ataupun anti-dunia.

Dalam konteks inilah Muhammadiyah memiliki peran penting. Sebagai gerakan Islam berkemajuan, Muhammadiyah hadir untuk menata arah perubahan agar tetap dalam bingkai nilai. Konsep ekonomi berkeadaban yang digagas Muhammadiyah sangat relevan. Ekonomi berkeadaban bukan sekadar tentang cuan, tetapi tentang aktivitas ekonomi yang berorientasi pada keberkahan, keadilan sosial, kemandirian, dan kontribusi pada kemaslahatan. Berbeda dari budaya digital yang individualistik dan kompetitif, ekonomi berkeadaban melihat kekayaan bukan sebagai tujuan akhir, tetapi sarana memperkuat martabat manusia dan dakwah.

Muhammadiyah telah memberikan contoh konkret melalui berbagai program. Majelis Ekonomi sering mengadakan pelatihan wirausaha syariah, pengembangan UMKM berbasis etika, dan inkubasi bisnis yang bukan hanya mengejar profit, tetapi kebermanfaatan. Sementara itu, IMM sebagai ortom mahasiswa memiliki posisi strategis dalam menjembatani idealisme keislaman dengan realitas ekonomi Gen Z. Beberapa komisariat IMM telah menjalankan program seperti:

• pelatihan literasi keuangan syariah,•

workshop freelance halal berbasis skill digital,

• mentoring karier plus pembinaan ruhiyah,

• bakti sosial kewirausahaan untuk memberdayakan masyarakat.

Program-program ini menunjukkan bahwa ekonomi dan spiritualitas tidak perlu dipertentangkan. Kerja keras bisa menjadi ibadah, dan produktivitas bisa menjadi ladang dakwah.

Dakwah Muhammadiyah juga perlu adaptif terhadap perubahan zaman. Dakwah adaptif bukan berarti kompromi nilai, tetapi menerjemahkan nilai agar relevan dan mudah dipahami anak muda. Contohnya sudah terlihat di berbagai daerah:

• kajian tematik di kafe dengan pendekatan diskusi interaktif,

• konten dakwah pendek di TikTok dan Instagram,

• kelas “problem solving Islami” untuk mengatasi kecemasan finansial,

• pendampingan karier yang disertai bimbingan spiritual,

• podcast dakwah dengan gaya komunikasi ringan namun berbobot.

Model dakwah seperti ini lebih ramah, solutif, dan dekat dengan realitas generasi digital. Anak muda tidak sedang menjauh dari agama, mereka hanya mencari cara yang lebih relevan untuk memahaminya.

Menunda menikah demi memperkuat kemampuan diri bukan kesalahan. Tetapi jika orientasi finansial menjadi satu-satunya nilai, maka keseimbangan hidup akan hilang. Generasi muda membutuhkan panduan agar ambisi ekonominya tetap bertumpu pada nilai spiritual dan etika Islami. Di sinilah Islam Berkemajuan mengambil peran: menuntun anak muda agar tidak terjebak menjadi “mesin cuan”, tetapi menjadi manusia yang berdaya, bertanggung jawab, dan bernilai.

Pada akhirnya, keberhasilan hidup bukan ditentukan oleh siapa paling cepat mapan atau paling banyak cuan. Keberhasilan ditentukan oleh siapa yang mampu menjaga nilai-nilai hidup meski arus zaman terus berubah. Dan dari generasi muda yang bekerja dengan iman, belajar dengan tekun, serta berorientasi pada keberkahan inilah, masa depan peradaban Islam Berkemajuan akan terus tumbuh.

Editor: Arsy Sekar Kemuning

Terkait

Tags: EkonomiIslamMuhammadiyahpendidikanPeradabanRemaja
Previous Post

Milad Muhammadiyah & HW: Santri SMAMSATU Gresik Belajar Teladan di Puthuk Siwur

Next Post

Fear of Mising Out (FOMO): Sebuah Tantangan Sosial di Era Media Sosial

Saffana Alfy Karomah

Saffana Alfy Karomah

Next Post
Fear of Mising Out (FOMO): Sebuah Tantangan Sosial di Era Media Sosial

Fear of Mising Out (FOMO): Sebuah Tantangan Sosial di Era Media Sosial

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.