Oleh: Azhar Ardiansyah Al Aziz
Kita hidup pada zaman ketika layar gawai sering kali lebih mengenal kebiasaan kita dibandingkan diri kita sendiri. Algoritma tahu jam kita terjaga, topik yang membuat kita marah, video yang membuat kita bertahan lebih lama di layar. Ia tidak sekadar menyajikan informasi, tetapi juga mengarahkan perhatian. Pelan, halus, dan nyaris tak terasa. Yuval Noah Harari membaca situasi ini sebagai tanda perubahan besar dalam sejarah manusia: manusia tidak lagi sepenuhnya berpikir bebas, melainkan mulai “dipikirkan” oleh algoritma.
Dalam Homo Deus, Harari menyebut manusia sebagai “algoritma biologis”. Pikiran, perasaan, dan pilihan manusia dipahami sebagai rangkaian proses kimia yang bisa dipetakan dan diprediksi. Jika manusia hanyalah algoritma versi lama, maka algoritma digital yang lebih cepat dan presisi berpotensi mengambil alih peran pengambil keputusan. Di titik inilah muncul kekhawatiran: manusia perlahan kehilangan otonomi, sementara mesin memperoleh otoritas.
Al-Qur’an sejak awal menolak cara pandang yang mereduksi manusia menjadi sekadar objek. “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam” (QS. Al-Isra’: 70). Ayat ini bukan sekadar pernyataan teologis, tetapi fondasi cara pandang tentang manusia. Manusia dimuliakan bukan karena efisiensi, bukan karena produktivitas, melainkan karena martabat. Dalam tafsir para ulama, kemuliaan itu terletak pada akal, kehendak, dan tanggung jawab moral hal-hal yang tidak sepenuhnya bisa dibaca oleh algoritma.
Masalahnya, dunia hari ini cenderung memercayai data lebih dari kebijaksanaan. Harari menyebut keyakinan ini sebagai Dataisme, sebuah “agama baru” yang menempatkan data sebagai sumber kebenaran tertinggi. Jika data berkata demikian, maka itulah yang benar. Namun Al-Qur’an mengingatkan dengan nada rendah hati, “Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada Yang Maha Mengetahui” (QS. Yusuf: 76). Ayat ini seperti jeda sunyi di tengah hiruk-pikuk informasi. Ia mengingatkan bahwa pengetahuan manusia termasuk pengetahuan algoritmikakan selalu terbatas.
Ketika data diagungkan tanpa etika, algoritma bisa berubah menjadi alat kekuasaan. Harari memperingatkan lahirnya kediktatoran digital, di mana kontrol tidak lagi dilakukan dengan kekerasan, tetapi dengan manipulasi kesadaran. Pilihan tetap terlihat bebas, padahal telah diarahkan. Al-Qur’an jauh hari telah mengingatkan pentingnya amanah dalam setiap bentuk kekuasaan: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisa’: 58). Dalam dunia hari ini, data dan algoritma adalah amanah baru yang sering disalahgunakan.
Di sisi lain, Al-Qur’an juga menegaskan peran manusia sebagai khalifah di bumi. “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi” (QS. Al-Baqarah: 30). Khalifah bukan berarti penguasa tanpa batas, melainkan pengelola yang bertanggung jawab. Teknologi, seberapa pun canggihnya, tetap harus berada di bawah kendali manusia yang sadar nilai. Ketika manusia menyerahkan sepenuhnya kendali itu kepada algoritma, ia sedang mengingkari perannya sendiri.
Dalam lanskap inilah kader IMM Sukoharjo hidup dan bergerak. Sebagai mahasiswa, kader IMM Sukoharjo adalah bagian dari generasi yang paling akrab dengan algoritma. Sebagai kader gerakan Islam, mereka memikul tanggung jawab tambahan: menjaga agar akal tidak larut, dan iman tidak tersisih. Tantangannya bukan menolak teknologi, tetapi memastikan teknologi tidak mengambil alih kesadaran.
Agar tidak terjebak dalam logika algoritma, langkah pertama yang perlu dibangun adalah kesadaran kritis. Kader IMM Sukoharjo perlu menyadari bahwa linimasa bukan cermin realitas, melainkan hasil seleksi. Apa yang muncul di layar bukan yang paling benar, tetapi yang paling menguntungkan bagi sistem. Kesadaran ini membuat kader tidak mudah terseret emosi, polarisasi, dan ilusi mayoritas.
Langkah kedua adalah merawat ruang-ruang non-algoritmik. Diskusi tatap muka, kajian kecil, obrolan panjang tanpa gawai semua itu menjadi bentuk perlawanan sederhana terhadap dunia yang serba cepat. Di ruang-ruang inilah pikiran dilatih untuk mendengar, bukan sekadar bereaksi. Kader IMM Sukoharjo perlu menjaga ruang ini agar nalar tetap tumbuh secara manusiawi.
Langkah ketiga adalah menyeimbangkan data dengan doa. Algoritma bisa membaca kebiasaan, tetapi tidak pernah memahami niat. Di sinilah refleksi spiritual menjadi penting. Dzikir bukan pelarian dari dunia digital, melainkan jangkar agar manusia tidak hanyut. Fikir dan dzikir berjalan bersama: akal tetap kritis, hati tetap jernih.
Langkah keempat adalah menggunakan teknologi secara berpihak. Media sosial tidak harus menjadi panggung narsisme, tetapi bisa menjadi ruang edukasi, advokasi, dan keberpihakan sosial. Algoritma memang tak bermoral, tetapi manusia yang menggunakannya harus bermoral. Di sinilah kader IMM Sukoharjo diuji: apakah teknologi dipakai untuk membebaskan, atau justru mempersempit cara berpikir.
Pada akhirnya, tantangan algoritma bukan soal mesin yang terlalu pintar, melainkan manusia yang terlalu mudah menyerahkan makna. Di antara data yang terus mengalir dan doa yang menenangkan, kader IMM Sukoharjo dipanggil untuk tetap waras. Menjadi manusia yang berpikir sebelum percaya, merenung sebelum bereaksi, dan beriman tanpa kehilangan nalar. Di tengah dunia yang semakin dihitung, kader IMM Sukoharjo harus tetap mampu merasakan dan menjaga kemanusiaan itu sendiri. Billahi fi sabilil haq fastabiqul khairot.