Oleh: Azhar Ardiansyah Al Aziz
Di dalam sebuah lemari tua, tersembunyi dunia bernama Narnia. Dunia itu tidak dapat dimasuki oleh semua orang, apalagi oleh mereka yang merasa telah sepenuhnya dewasa. The Chronicles of Narnia karya C.S. Lewis sering dipandang sebagai kisah fantasi anak-anak, padahal sesungguhnya ia adalah alegori panjang tentang iman, kehilangan, dan keberanian untuk percaya di tengah dunia yang menuntut kepastian rasional. Narnia bukan sekadar tempat, melainkan simbol ruang batin manusia ruang yang hanya bisa dibuka oleh iman.
Tragedi paling sunyi dalam kisah Narnia bukanlah peperangan melawan White Witch atau pengorbanan Aslan, melainkan keputusan Susan Pevensie untuk tidak kembali. Susan pernah menjadi ratu, pernah menyaksikan mukjizat, pernah hidup di dunia yang penuh makna. Namun ketika ia “dewasa”, Narnia ia simpan sebagai dongeng masa kecil. Ia tidak membenci Narnia. Ia hanya menganggapnya tidak lagi relevan.Dalam keputusan Susan inilah, Narnia bersinggungan dengan satu gagasan besar filsafat modern: pernyataan Friedrich Nietzsche bahwa “Tuhan telah mati.”
Nietzsche tidak sedang mengabarkan kematian Tuhan secara literal. Ia sedang membaca perubahan zaman. Baginya, manusia modern hidup seolah Tuhan tidak lagi menjadi pusat kehidupan. Moral, nilai, dan makna tidak lagi bersumber dari Yang Transenden, tetapi dari rasio dan kehendak manusia sendiri. Tuhan tidak dibunuh dengan pedang, melainkan dipinggirkan oleh cara hidup. Ketika manusia merasa cukup dengan dirinya sendiri, Tuhan perlahan kehilangan tempat.
Susan adalah gambaran manusia pasca “kematian Tuhan” itu. Ia tidak kehilangan kecerdasan. Ia justru merasa telah menemukan rasionalitas. Dunia menjadi lebih rapi, terukur, dan masuk akal. Namun bersamaan dengan itu, dunia juga kehilangan kedalaman. Keajaiban menguap, makna menipis, dan iman diperlakukan sebagai nostalgia.
Islam sejak awal telah mengingatkan bahwa bahaya terbesar manusia bukanlah kehilangan akal, tetapi kehilangan orientasi hidup. Al-Qur’an tidak pernah menyatakan Tuhan bisa mati, tetapi berulang kali menegaskan bahwa manusialah yang berpaling. Allah berfirman:
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit.”
(QS. Thaha: 124)
Kehidupan yang sempit bukan berarti kekurangan materi. Ia adalah kehidupan yang kehilangan arah batin. Manusia tetap bergerak, bekerja, dan berprestasi, tetapi merasa kosong. Inilah yang juga ditakuti Nietzsche: ketika Tuhan “mati”, manusia berhadapan dengan kehampaan makna yang mengerikan.
Dalam Narnia, Aslan berfungsi sebagai pusat moral, keberanian, dan pengharapan. Selama Aslan diakui, Narnia memiliki arah. Ketika Aslan disangkal, kekacauan muncul. Ini sejalan dengan konsep tauhid dalam Islam. Ketika Allah menjadi pusat kehidupan, nilai menjadi kokoh. Ketika Allah disisihkan, manusia mulai menciptakan “tuhan-tuhan kecil”: ego, kekuasaan, kesenangan, bahkan akal itu sendiri.
Allah mengingatkan dengan tajam:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS. Al-Jatsiyah: 23)
Nietzsche pun menyadari bahaya ini. Setelah Tuhan “mati”, manusia tidak otomatis menjadi bebas. Justru ia berisiko menyembah banyak hal tanpa sadar. Namun solusi Nietzsche adalah manusia harus menciptakan nilai sendiri dan menjadi “manusia unggul”. Islam menawarkan jalan yang berbeda: mengakui keterbatasan manusia dan bersandar pada Yang Maha Mutlak.Susan kehilangan Narnia bukan karena kurang bukti empiris. Ia kehilangan Narnia karena menutup ruang iman dalam dirinya. Inilah yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai kebutaan hati:
“Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”
(QS. Al-Hajj: 46)
Modernitas sering mengajarkan bahwa iman adalah fase awal yang harus ditinggalkan demi kedewasaan. Namun Islam memandang iman justru harus semakin matang seiring bertambahnya usia. Akal tidak ditolak, tetapi tidak dituhankan. Akal adalah alat untuk memahami tanda-tanda Tuhan, bukan hakim terakhir atas realitas.
Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk berpikir, tetapi juga mengingatkan bahwa tidak semua hal bisa dijangkau oleh rasio semata. Ada wilayah iman yang hanya bisa disentuh oleh kerendahan hati. Ketika manusia menolak wilayah ini, ia memang tampak dewasa, tetapi sesungguhnya kehilangan satu dimensi penting dalam kemanusiaannya.
Akhir kisah Narnia menyampaikan pesan yang sangat relevan dengan zaman ini. Dunia iman tidak runtuh. Aslan tidak mati. Narnia tetap ada. Yang berubah hanyalah manusia yang tidak lagi mau masuk. Ini sejajar dengan realitas keimanan hari ini. Tuhan tidak mati, tetapi banyak manusia hidup seolah-olah Ia tidak ada.
Di era modern, kehilangan iman jarang terjadi secara dramatis. Ia datang pelan-pelan: doa yang ditunda, makna yang dikompromikan, iman yang direduksi menjadi identitas sosial. Hingga suatu hari, seseorang berkata seperti Susan, “Itu hanya cerita.” Padahal Al-Qur’an menegaskan bahwa tanda-tanda Tuhan selalu hadir di sekitar manusia:
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman.”
(QS. Al-Baqarah: 164)
Tanda-tanda itu tidak pernah habis. Yang sering habis adalah kesediaan manusia untuk berhenti sejenak dan merenung.
Narnia mengajarkan bahwa iman bukan soal usia, melainkan keberanian. Nietzsche mengingatkan bahwa dunia tanpa Tuhan akan mengalami krisis makna. Islam datang sebagai jawaban yang tenang namun tegas: Tuhan tidak mati manusialah yang sering lupa. Dan barangkali, di zaman ini, mempertahankan iman bukan tanda kemunduran, melainkan bentuk keberanian paling sunyi melawan kehampaan yang ditawarkan dunia modern.