Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Darurat di Dunia Perkuliahan

Arsy Sekar Kemuning by Arsy Sekar Kemuning
Desember 16, 2025
in Esai, Narasi
0
Darurat di Dunia Perkuliahan
20
SHARES
116
VIEWS

Oleh: Arsy Sekar Kemuning

Dewasa ini, sering kita dengar ungkapan bahwa “di jenjang perkuliahan, proses belajar yang sesungguhnya terjadi di luar kelas; sedangkan kelas hanyalah forum diskusi.” Pernyataan ini tidak sepenuhnya keliru dan bahkan dapat diakui oleh sebagian besar mahasiswa.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Sistem pendidikan tinggi memang dirancang untuk mendorong mahasiswa agar lebih mandiri dalam menggali ilmu, terbiasa membaca sumber akademik, berpikir kritis, serta berani menyampaikan pendapatnya secara logis dan bertanggung jawab.

Dengan sistem ini, mahasiswa diharapkan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada dosen, melainkan mampu menjadi subjek aktif dalam proses pembelajaran.

Idealnya, perkuliahan menjadi ruang pembentukan karakter ilmiah. Mahasiswa belajar menyusun argumen, menganalisis persoalan, dan memecahkan masalah secara kreatif serta solutif. Kemandirian belajar inilah yang membedakan pendidikan tinggi dengan jenjang sebelumnya.

Namun, realitas yang terjadi saat ini justru menunjukkan adanya kesenjangan besar antara idealisme dan praktik. Dunia perkuliahan yang seharusnya menjadi tempat lahirnya pemikir muda dan insan akademik yang kritis, perlahan mulai kehilangan ruhnya.

Di sinilah letak darurat dunia perkuliahan hari ini, ketika proses belajar yang mestinya bermakna berubah menjadi rutinitas formalitas semata.

Yang Terjadi di Kelas

Pada pertemuan pertama, suasana kelas biasanya masih terasa hangat dan penuh harapan. Dosen memperkenalkan diri, menjelaskan kontrak perkuliahan, sistem penilaian, serta garis besar materi yang akan dipelajari selama satu semester. Mahasiswa pun masih tampak antusias, mencatat, dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Namun, suasana tersebut sering kali hanya bertahan sebentar.

Memasuki pertemuan kedua dan seterusnya, pola yang sama mulai berulang. Dosen menjelaskan materi secara singkat, kemudian membagi mahasiswa ke dalam beberapa kelompok dan menentukan jadwal presentasi.

Setiap kelompok bertugas memaparkan materi sesuai pembagian topik, sementara kelompok lain berperan sebagai penanya atau penanggap. Secara konsep, metode ini tampak ideal karena mendorong keaktifan mahasiswa dan melatih keberanian berbicara di depan umum.

Namun, jika ditelaah lebih dalam, praktik di lapangan sering kali jauh dari harapan. Banyak presentasi yang tidak lahir dari proses membaca dan memahami buku referensi, jurnal ilmiah, atau diskusi mendalam antar anggota kelompok.

Sebaliknya, presentasi hanya berisi pembacaan ulang slide yang ditampilkan di layar proyektor. Bahkan, tidak sedikit materi yang disajikan merupakan hasil salinan mentah dari kecerdasan buatan (AI), tanpa penyuntingan, tanpa pemahaman, dan tanpa refleksi kritis.

Situasi ini semakin terlihat saat sesi tanya jawab dibuka. Mahasiswa yang seharusnya menyimak dan berpikir kritis justru sibuk menunduk menatap layar ponsel, mengetik perintah seperti, “Berikan saya pertanyaan kritis untuk materi ini.” 

Pertanyaan pun dilontarkan, bukan sebagai hasil pemikiran, melainkan hasil generasi mesin. Lebih ironis lagi, pemateri menjawab dengan cara yang sama, mencari jawaban instan dari AI. Maka, yang terjadi bukan lagi diskusi antar manusia, melainkan dialog antar mesin yang hanya diperantarai oleh manusia.

Fenomena ini menjadi gambaran nyata bergesernya semangat belajar dari proses yang mendalam menuju budaya instan. Mahasiswa tidak lagi diposisikan sebagai pencari ilmu, melainkan sebagai penyalur informasi. Perkuliahan kehilangan maknanya ketika tugas hanya dijadikan kewajiban administratif, bukan sarana pembelajaran. Jika kondisi ini terus dibiarkan, dunia akademik berpotensi kehilangan fungsinya sebagai ruang pembentukan intelektual dan moral.

Solusi dan Refleksi

Menghadapi realitas tersebut, sudah saatnya mahasiswa melakukan refleksi dan menata kembali cara belajarnya. Teknologi, termasuk AI, bukanlah musuh yang harus dijauhi. Sebaliknya, teknologi adalah alat bantu yang sangat bermanfaat jika digunakan secara bijak. AI seharusnya menjadi pendukung dalam memahami konsep, merangkum bacaan, atau memicu ide berpikir, bukan dijadikan jalan pintas untuk menghindari proses belajar itu sendiri.

Di sisi lain, dosen juga memiliki peran penting dalam mengembalikan ruh perkuliahan. Penilaian tidak seharusnya hanya berfokus pada hasil akhir berupa slide atau makalah, tetapi juga pada proses berpikir, cara mahasiswa menyusun argumen, serta keaktifan mereka dalam diskusi yang bermakna. Kelas perlu dihidupkan kembali sebagai ruang dialektika, tempat ide diuji, dikritisi, dan dikembangkan secara sehat.

Pada akhirnya, makna perkuliahan tidak terletak pada seberapa banyak tugas yang diselesaikan, melainkan pada seberapa dalam pemahaman yang diperoleh. Jika setiap mahasiswa berani menantang dirinya untuk benar-benar membaca, berpikir, dan memahami, maka kelas akan kembali menjadi ruang yang hidup dan bermakna.

Karena sejatinya, ilmu tidak lahir dari hasil salin-tempel, melainkan dari proses panjang antara rasa ingin tahu, kesungguhan, dan kerja keras yang tulus.

Editor: Zahfa Almedina

Terkait

Tags: Kecerdasan BuatankuliahmahasiswapendidikanPeradaban
Previous Post

Resensi Buku Dari Pesantren Ke Jalanan

Next Post

Bangun Ruang Publik Inklusif, Mahasiswa Ilkom UMS Gaungkan Kampanye “Kawan Netra”

Arsy Sekar Kemuning

Arsy Sekar Kemuning

Next Post
Bangun Ruang Publik Inklusif, Mahasiswa Ilkom UMS Gaungkan Kampanye “Kawan Netra”

Bangun Ruang Publik Inklusif, Mahasiswa Ilkom UMS Gaungkan Kampanye “Kawan Netra”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.