Ketika peradaban manusia sampai pada titik dimana seseorang mengalami fase krisis spiritualitas hingga melahirkan jiwa yang rapuh, resah, tidak mengetahui waktu dan tempat mereka berada saat ini, bahkan tidak mengenali identitas dirinya sendiri, maka akan muncul pertanyaan apa sebenarnya hakikat manusia hidup di dunia? Tasawuf sebagai ilmu fleksibel hadir sebagai solusi ditengah-tengah masyarakat modern.
M. Amin Rais mengatakan bahwa manusia di era modern memiliki lima karakteristik. Pertama, manusia menikmati ledakan informasi tanpa batas. Kedua, semakin longgarnya nilai-nilai moral bagi masyarakat. Ketiga, semakin tumpulnya nilai-nilai kemanusia dalam bermasyarakat.
Keempat, manusia cenderung mengagung-agungkan teknologi. Kelima, kecenderungan kehidupan yang semakin realistik. Adanya teknologi yang semakin berkembang tidak menutup kemungkinan manusia akan menjadikan hal ini sebagai tempat untuk membangun eksistensi dirinya dalam mengekspresikan diri dan berkreasi.
Selain itu, teknologi menjadi hal yang memberikan kemudahan dan kenikmatan dalam berbagai hal. Dengan ini, manusia dapat dengan mudah memperoleh informasi tanpa harus bersusah payah. Modernisme menekankan pada aspek individualitas dan rasionalitas empirisme yang dapat memacu perkembangan masyarakat modern dalam berbagai bidang kehidupan.
Pada akhirnya, individualitas dinilai telah memacu munculnya rasionalitas instrumental yang cenderung mengabaikan solidaritas kemanusiaan. Selain menjanjikan banyak hal postitif era modern juga memberikan dampak negatif, utamanya adalah krisis kemanusiaan.
Modernisme mengubah individualitas menjadi lebih ekstrim dengan mengabaikan solidaritas sekaligus bersikap materialisme dan hedonisme yang secara langsung mengajarkan kepada manusia bahwa tujuan hidup yang sejatinya adalah kesenangan duniawi. Akhirnya mereka akan berkeyakinan bahwa kenikmatan dunia adalah sebenar-benarnya kebaikan yang paling mulia bagi manusia.
Hal ini menyebabkan manusia lebih cenderung merasa hebat sehingga membuatnya melalaikan esensi dari dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Lebih parahnya mereka melupakan eksistensi Tuhan sebagai penguasa dan pencipta segala sesuatu. Segala bentuk kehebatan yang dibanggakan akhirnya masuk kepada sebuah lubang yang tidak akan bisa dipecahkan dengan ilmu mereka. Secara garis besar dapat di artikan bahwa manusia pada era modern ini mengalami krisis spiritualitas.
Modernisme di anggap gagal karena telah mengabaikan nilai-nilai religius-spiritual sebagai pondasi kehidupan sehingga dunia modern tidak memiliki pijakan yang kokoh dalam membangun peradaban. Untuk merespon fenomena tersebut, tasawuf hadir guna mengembalikan semangat spiritualitas masyarakat modern. Tasawuf menjadi suatu area di mana para manusia modern dapat menemui ketenangan hidup dan terhindar dari efek negatif arus modernisasi.
Tasawuf di ibaratkan sebagai dokter dengan al-Qur’an dan hadist sebagai obatnya. Sama seperti halnya dokter yang tidak bisa jauh dari obat karena obat itu adalah pegangannya. Tasawuf di era modern di tuntut untuk mampu manawarkan inspirasi baru yang lebih objektif dalam hal dunia dengan menerapkan melalui sikap positif terhadap iptek dan modernitas. Karena manusia bukan hanya makhluk sosial yang harus bersikap realistis terhadap kehidupan. Tetapi juga seorang hamba yang harus selalu menyembah dan menghormati Tuhan.
Dengan kata lain, seluruh dimensi kehidupan sosial bermasyarakat harus di barengi dengan nafas spiritual agar manusia tidak terjerumus kedalam lubang kegelapan era modern. Kemunculan tasawuf ini sangat di butuhkan untuk mengembalikan sumber-sumber spiritualitas yang hilang akibat dari teknologi yang berkembang dalam kehidupan masyarakat modern.
Adanya tasawuf menjadi penyeimbang dan bermanfaat membantu manusia dalam menjalankan kehidupan melalui jalan spiritual. Pada zaman ini tasawuf tidak hanya memberikan solusi mengenai kerohanian seseorang melainkan menyeimbangkan antara materi dunia dengan spiritual agar tidak terjadi ketimpangan di zaman yang penuh kemajuan ini.
Bertasawuf di zaman yang serba canggih ini membantu individu melatih jiwa dan mental dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan diri dari pengaruh dunia. Dengan kata lain, tasawuf dapat membina manusia untuk mencapai perilaku mulia serta dekat dengan Allah SWT.
Tasawuf menjadi peran penting bagi masyarakat di era modern dengan bentuk pengajaran sebagai alat pengendali dan pengontrol manusia agar dimensi kemanusiaannya tidak terdoktrin oleh modernisasi yang mengarah pada nilai-nilai negatif untuk mengantarkan mereka pada tercapainya keunggulan moral. Ajaran tasawuf memandang bahwa penyelesaian serta perbaikan moral masyarakat tidak akan optimal apabila hanya bertujuan untuk mencari kehidupan lahir saja.
Oleh karena itu, tasawuf berperan secara optimal dalam membenahi keadaan masyarakat modern. Karena memiliki potensi untuk menawarkan kebebasan spiritual dan memberikan jawaban terhadap kebutuhan spiritual. Selain itu untuk membentengi diri saat menghadapi problematika kehidupan yang serba materialistik. Dan mengusahakan untuk merealisasikan keseimbangan jiwa sehingga menimbulkan kemampuan guna menghadapi problem yang ada.
Hal ini membenarkan pendapat yang di sampaikan oleh Zar (2019) bahwa dengan ajaran tasawuf manusia dapat terbebas dari penyakit manusia modern. Seperti kemunafikan, kehampaan rohani dan lain sebagainya. Memang faktanya dunia ini membutuhkan tasawuf karena dalam tasawuf tidak hanya terlahir kedamaian. Tetapi juga masa depan manusia dan alam semesta. Tasawuf di harapkan mampu menandingi kemajuan umat-umat lainnya.
Penulis : Ibnu Rasyid Ashari (Mahasiswa UIN Surabaya)