Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Jalan Sunyi Pencerahan Buya Syafii

Fajar Riza Ul Haq by Fajar Riza Ul Haq
Juni 11, 2021
in Esai
0
Buya Syafii Maarif
25
SHARES
148
VIEWS

Buya Syafii Maarif ibarat burung Rajawali yang gagah dan terbang tinggi ke angkasa tetapi tak mau membangun sarangnya sendiri.

Salah satu hal mengagumkan dari pribadinya adalah pengkhidmatannya yang luar biasa terhadap Muhammadiyah dan keberpihakannya yang sangat kuat terhadap kaderisasi. Begitulah kesaksian Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengenai sosok penerima Ramon Magsaysay Award 2008 ini (Suara Muhammadiyah, 31 Mei 2019).

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Cita-cita terbesar Buya Syafii di penghujung batang usianya adalah melihat berdirinya Kampus Terpadu Madrasah Muallimin di atas lahan seluas 6 hektar di Sedayu, Bantul, Yogyakarta.

Buya Syafii dan Muallimin

Madrasah Muallimin merupakan sekolah perkaderan bersejarah. Pertama kali didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1918 dengan nama “Qismul Arqo”, kemudian berubah nama menjadi “Kweekschool Moehammadijah” (Sekolah Para Guru Muhammadiyah) sebelumnya akhirnya beralih bahasa ke dalam bahasa Arab, ”Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah”.

Sejak tahun 1928, setiap alumni sekolah ini melakukan pengabdian dakwah di pelosok tanah air. Mereka menyemai kesadaran literasi, menyebarkan suluh kemajuan, mencerdaskan anak-anak bangsa, dan merajut tali kebangsaan. Mereka adalah anak panah Muhammadiyah.

Sekolah Muallimin ini memiliki visi kebangsaan dan transformasi kepemimpinan yang kuat. Hal ini tercermin dari pengakuan politik pemerintah terhadap tiga orang mantan direktur Muallimin yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, yaitu KH. Ahmad Dahlan (1961), KH. Mas Mansyur (1964), dan Prof. Abdul Kahar Muzzakir (2019).

Ketiganya berhasil menerjemahkan nilai-nilai Keislaman dan Kemuhammadiyahan dalam bingkai kebangsaan, kemerdekaan, dan kemajuan. Jasa kepahlawanannya telah menggarami jiwa Indonesia hari ini. Mencerminkan spirit dari Muhammadiyah untuk bangsa.

Usai tidak mencalonkan diri lagi pada perhelatan Muktamar Muhammadiyah 2010 di Malang, Buya Syafii mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk membenahi dan membangun Muallimin sebagai sekolah kader Muhammadiyah. Sebagai alumni Muallimin, Buya Syafii selalu mengingatkan almamaternya agar melakukan reorientasi visi perkaderan.

Yang utama menjadi kader kemanusiaan berwawasan global dengan berpijak pada nilai-nilai Qurani yang universal. Ranah berikutnya adalah menjadi kader bangsa, dan kader Persyarikatan Muhammadiyah. Selama ini, orientasi perkaderan lebih menekankan ranah terakhir. Pendiri MAARIF Institute ini ingin kader-kader Muhammadiyah mengisi ruang-ruang kemanusiaan dan kebangsaan yang lebih luas, tidak terjebak kotak-kotak sektarian kelompok.

Atas mandat PP Muhammadiyah, Buya Syafii memimpin langsung proyek pembangunan Kampus Terpadu Muallimin dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Yang paling melelahkan dan memakan waktu adalah proses pembebasan lahan. Dalam satu kesempatan, ia sempat mengeluh karena peliknya bernegosiasi dengan salah satu penjual tanah, salah satu anaknya keberatan.

Pada satu waktu Buya mengajak penulis bertandang ke kediaman Alm. Taufik Kiemas. Di sela-sela perbincangan, Buya mengatakan sekolah Muallimin mendidik para kader Muhammadiyah menjadi pribadi Muslim yang berpikiran terbuka sehingga diharapkan tidak canggung bergaul dengan siapa pun. Alm. Taufik Kiemas merupakan salah seorang dermawan yang membantu pembangunan kembali gedung Muallimin paska dihantam gempa bumi tahun 2006.

Penulis merasa beruntung karena menjadi saksi bagaimana Buya Syafii mendayagunakan jaringan pergaulannya yang begitu luas untuk mempromosikan sekolah perkaderan Muallimin ke tokoh-tokoh lintas golongan. Dalam beberapa kali perbincangan dengan Alm. Jakob Oetama di ruang kerjanya, Buya Syafii seringkali menekankan bahwa orientasi pendidikan Muallimin tidaklah primordial ataupun sektarian.

Ia berharap titik-titik kisar perjalanan hidupnya selama ini bisa menjadi refleksi bagi generasi muda Muhammadiyah (Maarif, 2006). Kedua tokoh bangsa tersebut dipersatukan oleh komitmen kemanusiaan dan keindonesiaan yang sama.

Demi memastikan komitmen ini, Buya Syafii selalu memprioritaskan waktunya untuk berdiskusi dan memberi pembekalan kepada para guru dan pelajar Muallimin. Mantan Ketua PP Muhammadiyah ini berpesan agar mereka menyampaikan pesan Islam dengan bahasa hati.

“Anda akan menemui masyarakat yang sangat heterogen. Iman bisa berbeda, mungkin sama-sama Islam tapi lain golongan, mungkin juga ada yang tidak percaya Tuhan. Persiapkan diri, karena Indonesia adalah negara yang sangat bhineka, ” ujarnya pada acara pelepasan santri Muallimin awal April lalu.

Totalitas Buya Syafii dalam mewujudkan pembangunan sekolah perkaderan terpadu Muallimin sukar dicari padanannya. Predikat guru bangsa yang disematkan banyak pihak tidak membuat dirinya rikuh untuk menenteng proposal pembangunan. Beberapa tahun lalu, ia sempat mengurus sendiri proposal yang harus segera diserahkan kepada seseorang di ruang tunggu bandara Adi Sucipto, Yogyakarta.

Dalam beberapa kesempatan saat bertemu Presiden Jokowi, persoalan pembangunan Muallimin selalu ada di daftar menu obrolannya. Presiden Jokowi sendiri menghadiri perayaan 1 abad Madrasah Muallimin pada awal Desember 2018. Dalam momen itulah mantan Gubernur DKI Jakarta ini memerintahkan kementerian terkait untuk membantu pembangunan Kampus Terpadu Muallimin.

“Ini Presiden Indonesia yang pertama berkunjung ke Muallimin,” ungkap Buya dalam sambutannya di depan Jokowi.

Beragama dengan Ilmu

Guru Besar emeritus Universitas Negeri Yogyakarta ini lebih memilih jalan pencerahan dalam memastikan keberlanjutan gerakan peradaban ilmu dengan membesarkan institusi pendidikan. Buya Syafii telah mencanangkan Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu dalam periode kepemimpinannya (1998-2005). Gerakan ini bertujuan membangun kesadaran kritis dan masyarakat berpengetahuan dengan basis budaya literasi.

Beragama tanpa berpegang kepada ilmu pengetahuan akan bermuara pada sikap fanatisme buta menentang otoritas sains yang berdasarkan evidence. Adanya gejala pengingkaran terhadap Pandemi Covid-19 atas dasar alasan keagamaan tidak bisa diabaikan.

Komitmen inilah yang membuat Buya bersedia menerima tawaran sebagai Ketua Pembina Pesantren Modern Terpadu Prof. Dr. Hamka di Padang, Sumatera Barat. Hamka merupakan figur sentral dalam gerakan pembaruan Islam di Sumatera (Rush, 2017). Saat meresmikan pesantren modern terpadu ini akhir Mei 2018, Presiden Jokowi menyebut Hamka sebagai tokoh ulama yang dihormati dan sastrawan besar yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan dan ilmu pengetahuan.

“Diukur dengan zamannya, pemikiran Hamka sangat maju tapi mengapa kemudian tidak dikembangkan lebih jauh. Ia telah mencoba keluar dari kotak Sunni dan Syiah,” tulis Buya Syafii melalui pesan Whatsapp akhir Desember 2020.

Hingga usianya menginjak ke-86 tahun yang bertepatan dengan 31 Mei 2021, stamina intelektual Buya Syafii masih terjaga meskipun sempat menyandung status orang tanpa gejala (OTG) pada Februari lalu. Ia sangat jengkel ketika ada kelompok politik yang menjual isu bunga bank dan tepuk tangan demi mengail ceruk suara. Cukup lama energi umat terkuras oleh perilaku pandir elitnya yang justru membodohi. Menurut Azyumardi Azra (2020), Buya Syafii itu di tulang rusuknya adalah seorang demokrat.

Selamat ulang tahun dan sehat selalu, Buya. Semoga kami generasi muda bisa mengikuti jalan pencerahanmu. Wallahu’alam.

Tulisan ini telah terbit di Kompas, 5 Juni 2021

Terkait

Tags: Buya SyafiiFajar Riza Ul HaqMualliminMuhammadiyahpendidikan
Previous Post

Gerakan Boikot Israel adalah Bagian dari Konstitusi

Next Post

Enam Teori Ekonomi Ibnu Khaldun

Fajar Riza Ul Haq

Fajar Riza Ul Haq

Pengurus Majelis Hukum & HAM PP Muhammadiyah dan Dewan Pembina MAARIF Institute

Next Post
Enam Teori Ekonomi Ibnu Khaldun

Enam Teori Ekonomi Ibnu Khaldun

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.