Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Biografi Hassan Hanafi dan Sejarah Kemunculan Kiri Islam

Mutiara Islamia by Mutiara Islamia
Juni 30, 2021
in Esai
0
Kiri Islam Hassan Hanafi
238
SHARES
1.4k
VIEWS

Hassan Hanafi merupakan teolog muslim kelahiran Kairo, Mesir pada tanggal 13 Febuari 1935. Ia dan keluarga berasal dari Provinsi Banu Suwaif yang berada di Mesir bagian Selatan, semasa kecilnya Hassan Hanafi juga mempelajari ilmu Al-Qur’an yang dimulai saat berusisa 5 tahun. Disamping itu Hassan Hanafi juga menempuh pendidikan formal, pendidikan formal pertamanya ialah Madrasah Sulayman Ghawish.

Sifat kritis beliau mulai terlihat pada saat ia menempuh pendidikan tsanawiyyah di Khalil Agha dan mengikuti diskusi Ikhwan Muslim, tidak berhenti sampai disitu Hassan Hanafi melanjutkan pendidikannya pada tahun 1956 dan pada saat itulah ia mendapatkan gelar Sarjana filsafat di Fakultas Sastra, Universitas Kairo.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Karir Akademisi Hassan Hanafi

Sebagai seorang yang terpelajar dan memiliki pemikiran yang sangat kritis, ia melanjutkan studinya di Universitas Sorbonne, Prancis dan mencetuskan disertasi monumental dengan judul “Les Metodes d’ Exegese; essai sur La Science de Fonaments de la Comprehesion, ilmu ushul fiqh”. Selepas kepulangannya dari Prancis, Hanafi meluangkan waktunya untuk menyusun mega proyek yang dikenal dengan sebutan al-Turas wa al-Tajdid (tradisi dan modernisasi), namun sangat disayangkan proyek tersebut mengalami kemandekan yang dikarenakan Hassan Hanafi lebih memprioritaskan kegiatan akademisnya.

Pada tahun 1967 Hassan Hanafi memulai karier akademiknya sebagai Lektor dan dilanjutkan menjadi Profesor Filsafat pada prodi Filsafat di Universitas Kairo, tidak berhenti disitu saja Hanafi juga berkesempatan menjadi dosen tamu diberbagai negara seperti di Maroko, Kuwait, Amerika Serikat dan Belgia. (Falah & Farihah, 2015)

Tidak hanya unggul dalam bidang akademis saja, Hanafi juga dapat dikatakan sebagai seorang yang memiliki jiwa sosial yang tinggi dan cerdas. Hal tersebut terbukti ketika ia mengikuti beberapa organisasi ilmiah serta kemasyarakatan seperti persatuan masyarakat filsafat Mesir, ikatan penulis Asia-Afrika dan gerakan solidaritas Asia-Afrika.

Disamping itu Hassan Hanafi juga tidak tertinggal dalam mengkaji pemikiran tokoh teolog dan filsuf, seperti Sayyid Quthb, Ermund Husserl, Jean Guitton, Paul Ricoeur dan Louis Massignon. Selain dikenal sebagai seorang teolog terkenal Hassan Hanafi juga dikenal sebagai penulis yang cukup profilic, berikut ini beberapa karya tulisnya: Qadhaya Mu’asirah, Religius Dialogue and Revolution; Essay on Judaism, Christianity and Islam, al-Din wa al-Tsaurah dan Dirasat Islamiyah.

Pemikiran Kiri Islam Hassan Hanafi

Gagasan pemikiran Hassan Hanafi bukalah hanya al-Turas wa al-Tajdid (Tradisi dan modernisasi), tetapi ia juga memiliki gagasan lainnya seperti kiri Islam. Pada kesempatan kali ini kita tidak akan membahas mengenai pemikiran beliau mengenai al-Turast wa al-Tajdid melainkan mengenai Kiri Islam.

Pada tahun 1981 Hassan Hanafi mendapatkan amanah untuk menjadi pimpinan redaksi penerbitan jurnal ilmiah yaitu al Yasar al Islami atau Kiri Islam yang merupakan lanjutan dari jurnal al-Urwah al-Qutsqa dan al-Manar, namun sayangnya hal tersebut tidak berjalan dengan mulus. Karena gagasan mengenai kiri Islam mendapatkan kecaman dari pemimpin Mesir pada saat itu yaitu Anwar Sadat, yang pada akhirnya menyeret Hassan Hanafi ke penjara.

Sebenarnya dalam ajaran Islam sendiri tidak pernah mengenalkan istilah “kiri dan kanan”, namun istilah ini muncul karena terdapat tatanan sosial, politik, sejarah dan ekonomi yang selalu melibatkan manusia dalam setiap pergerakannya. Tentunya dalam berbagai tatanan di atas tentunya menimbulkan perbedaan pendapat hingga kepentingan disetiap kelompok.

Istilah kiri Islam lahir pada tahun 1979 setelah adanya dorongan atas kemenangan revolusi Islam di Iran, kiri Islam secara ilmiah dipergunakan untuk ilmu politik yang berarti perlawanan dan kritisme dan menjelaskan mengenai jarak antara realitas dan idealitas.

Latar Belakang Pemikiran Kiri Islam

Dalam setiap ide atau gagasan pada dasarnya selalu memiliki faktor-faktor yang mempengaruhi hal tersebut juga berlaku pada kiri Islam, salah satu faktor yang mempengaruhi yaitu adanya gerakan Islam modern dan lingkungan Islam-Arab yang tidak tuntas dalam memberantas masalah keterbelakangan serta penindasan.

Ketidak tuntasan tersebut menurut Hassan Hanafi disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain;  Pertama, terkooptasinya agama oleh kekuasaan dan praktik keagamaan yang diubah menjadi ritus belaka. Kedua, liberalisme produk dari kolonialisme barat, karena liberalisme didukung oleh kelas atas yang mengatur kekuasaan. Ketiga, adanya kecenderungan revolusi nasional dan yang terakhir marxisme yang berpretasi mewujudkan keadilan sosial dan menentang kolonialisme, namun pada nyatanya tidak pembebasan rakyat dan berkembangnya khazanah umat. (Yusdani, 2002 )

Tujuan Pemikiran Kiri Islam

Dalam suatu pergerakan atau pemikiran pasti memiliki visi dan misi, yang mana kiri Islam juga mempunyai visi dan misi yaitu mewujudkan keadilan sosial dalam umat melalui nash al-qur’an, membangun masyarakat yang bebas dan demokratis dengan maksud setiap individu memiliki hak untuk berpendapat, membebaskan palestina dan mengusir kolonialisme dari dunia Islam, membangun paham Islamisme, membangun sistem politik negara yang mandiri dan memperkuat ikatan dengan negara Islam di Asia-Afrika.

Sudah sangat jelas bahwa kebangkitan Islam merupakan cita-cita dari kiri Islam dan hal tersebut dirumuskan melalui proyek peradaban yaitu al Turats wa al-Tajdid yang pada pembahasan tersebut memiliki tiga pilar atau yang bisa disebut dengan metode kiri Islam yaitu Pertama, sikap terhadap tradisi klasik Islam, maksudnya ialah menekankan pentingnya rasionalisme untuk revitalisasi. Rasionalisme merupakan keniscayaan bagi proges dan kesejahteraan umat muslim untuk memecahkan tantangan pada masa modern ini.

Kedua, sikap terhadap tradisi Barat, maksudnya ialah dalam hal ini masyarakat muslim perlu untuk menentang beradaban barat. Karena Hanafi memperingatkan akan bahaya imperialisme kultural barat yang cenderung menghapus kebudayaan serta historis dari bangsa-bangsa.  Ketiga, sikap terhadap realitas. Pada upaya ini Hanafi mengkritik metode penafsiran tradisional yang hanya bertumpu pada teks dan ia menawarkan suatu metode agar realitas dunia Islam dapat memiliki eksistensinya sendiri. (Yusdani, 2002 )

Editor : Irawan

Terkait

Tags: BiografiHassan HanafiKiri Islam
Previous Post

Gus Dur dan Karl Marx Bicara tentang Sosial Budaya

Next Post

Oksidentalisme dan Kiri Islam

Mutiara Islamia

Mutiara Islamia

Next Post
Kiri Islam Hassan Hanafi

Oksidentalisme dan Kiri Islam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.