Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan nama Gus Dur adalah seorang guru bangsa sekaligus seorang presiden ke 4 Indonesia. Dalam dunia Intelektual, nama Gus Dur juga tidak asing. Ia pertama kali menjalani pendidikan di dunia pesantren. Tak heran mengingat ia adalah cucu dari Kiai Hasyim Asy’ari.
Ketika dewasa, Gus Dur menempuh pendidikan di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Setelah lulus dari al-Azhar, ia tidak langsung kembali ke Indonesia. Ia pergi ke Irak untuk memperbanyak ilmunya. Setelah di Irak, ia kembali pergi ke dataran Eropa untuk terus memperbanyak ilmunya.
Pemikiran yang paling menonjol dari Gus Dur adalah dalam hal sosial dan budaya. Dalam pendekatan sosial dan budaya, Gus dur menggunakan sintesa dari kosmologi keislaman dalam pendekatan struktural yang diperkenalkan oleh Karl Marx.
Maksud dari pendekatan sosial dan kultur adalah melakukan perubahan dengan sadar dan berupaya untuk menghindari kekerasan. Melakukan perubahan evolusioner dalam masyarakat. Disini Gus Dur juga menggunakan agama sebagai pendekatan sosial dan kultur. Agama tidak hanya digunakan untuk hal spriritual saja, akan tetapi agama juga menjiwai nilai-nilai kemasyarakatan.
Bagi Gus Dur, penguasaan ilmu seperti ilmu filsafat, sosial, dan kultur sendiri harus diimbangi dengan ilmu agama. Kedua hal tesebut seharusnya berjalan. Dalam penganggumannya terhadap Karl Marx, Gus Dur tidak serta merta mempunyai pemikiran determinis seperti halnya Karl Marx yang menganggap bahwa dunia ini berjalan karena materi semata. Ia percaya bahwa dunia ini terjadi karena ada hukum alam, akan tetapi ia percaya bahwa Tuhanlah yang mengatur semua atas kehendak-Nya.
Perbedaan Sosial dan Kultur Karl Marx dan Gus Dur
Dalam melakukan perubahan struktural, apa yang dilakukan oleh Karl Max dan Gus Dur sangat berbeda. Ia tidak menggunakan revolusi, namun ia memilih jalur demokratis agar tidak terjadi konflik dan kekerasan.
Dalam pandangan Karl Marx, kekuasaan negara adalah tujuan. Karl Marx hendak mewujudkan kesejahteraan kaum buruh. Sedangkan Gus Dur melihat kekuasaan adalah jalan untuk mensejahterakan masyarakatnya. Upaya Gus Dur dalam pengembangan masyarakat adalah dengan menyadarkan masyarakat sebagai manusia seutuhnya.
Mendamaikan Pemikiran Politik Idealis dan Realis
Gus Dur mencoba mendamaikan pemikiran politik kaum idealis dan kaum realis. Dalam pemikiran kaum idealis, kehidupan harus ditundukkan oleh sebuah nilai yang normatif yang sudah baku. Hal ini bisa mengarahkan kecenderungan manusia untuk tunduk akan sebuah nilai-nilai yang normatif yang sudah baku dan terdapat diluar dirinya.
Dengan begitu maka sebuah kebenaran ditegakkan dalam segala cara. Dalam hal ini kaum realis percaya bahwa kekuasaanlah yang mampu mengendalikan kehidupan. Dari sinilah Gus Dur mencoba mendamaikan kedua pemikiran ini. Baginya, kekuasaan harus dibimbing dengan nilai-nilai normatif agar ada kententraman dan kedamaian. Akan tetapi nilai-nilai normatif harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi agar tidak terjadi kekerasan.
Gus Dur bercita-cita adanya masyarakat yang demokratis dan di dalamnya ada harkat dan martabat manusia. Demokrasi dapat dipahami sebagai suatu bentuk penerapan nilai-nilai Islam dalam konteks modern. Dengan adanya penerimaan terhadap nilai-nilai keislaman, maka ada sebuah upaya mempertemukan budaya dengan syariat Islam. Ia yakin bahwa seorang muslim perlu merespon sebuah isu modern berdasarkan tradisi Islam.
Editor : Yusuf